Ketika Ibu Tiada

Thursday, May 8, 2014 - 2:37 PM WIB - 32 Comments

Malam itu, di rumah sakit, semua orang bergantian membacakan Alquran untuk ibuku. Aku saat itu sudah sangat ngantuk, karena seharian di rumah sakit. Saat itu kalau tidak salah jam 3 pagi. Ketika giliranku, aku pun duduk dipinggir tempat tidur mulai membuka Alquran. Ketika hendak membaca, aku merinding mendengar suara deru oksigen dari hidung ibuku yang keluar. Oksigen itu tidak masuk. Apa yang terjadi? Segera aku bangunkan semuanya. Aku histeris dan bertanya-tanya, “Ibu kenapa? Ini oksigennya kok enggak berfungsi?” Ibu meninggal! Ibu meninggal!”
PADA tanggal 27 Mei nanti adalah tepat delapan tahun ibu meninggalkan kami. Ibu meninggal dunia di Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh. Aku adalah orang yang pertama menyadari kematian ibu, setelah selama sebulan lebih menjaganya dari sakit yang berkepanjangan.

Ibu menderita penyakit pengapuran pada pinggang, yang ditaksir terjadi akibat pernah jatuh pingsan di sekolah dulu sehabis mengajar. Mungkin karena tidak diobati, tulang pinggang pun mengalami pengapuran. Akibatnya terjadi komplikasi setelah itu berupa ginjal yang telah mengalami kegagalan. Aku tidak mengerti apa yang terjadi waktu itu. Saat itu aku baru saja selesai mengikuti UN SMP. Yang aku ingat, Ibu baru saja selesai menjalani operasi pemasangan pen di pinggangnya di Rumah Sakit Haji Medan.

Operasi berhasil. Ibu harus menjalani perawatan untuk bisa kembali pulih. Oh iya, ibu tidak bisa berdiri lagi. Awalnya kami sekeluarga telah mengumpulkan uang dan harta untuk mengantarnya ke Penang Malaysia, namun tidak cukup karena ternyata ibu membutuhkan pesawat khusus yang biayanya tidak murah. Akhirnya diurungkan dan dirawatlah di Rumah Sakit Haji Medan.

Belum genap dua minggu pasca operasi ibu, nenek yang telah sebulan lebih merawat ibu di rumah sakit ini meminta kembali ke kampung. Karena alasan lidah sudah tidak bisa lagi tolerir dengan masakan Medan, pun alasan lain seperti ayam dan bebek yang sudah sebulan tidak diberi makan. Akhirnya perawatan ibu dihentikan dan kami pun pulang ke Banda Aceh.

Ibu seminggu berbaring di rumah Bibiku, sampai akhirnya dirawat di Rumah Sakit Kesdam. Begitu masuk, ibu dinyatakan koma dan harus menggunakan tabung oksigen. Semua keluarga berkumpul, dari nenek ibuku yang masih hidup sampai segenap keluarga yang datang dari desa. Termasuk seluruh adikku yang bergegas pergi setelah mendapat kabar ibu kritis.

Ada beberapa hal pertanda yang terjadi, yang awalnya aku tidak begitu tahu apa maksudnya. Nanti di akhir cerita aku akan menjelaskannya. Pertama, ibu menangis sejadi-jadinya, memanggil-manggil nenekku, dan memeluknya seraya meminta maaf. Kedua, ini yang paling menyedihkan bagiku, ia tidak lagi mengingat namaku. Ia selalu memanggilku dengan sebutan ‘Rizal’ yang itu adalah nama pamanku, adiknya.

Malam itu, di rumah sakit, semua orang bergantian membacakan Alquran untuk ibuku. Aku saat itu sudah sangat ngantuk karena seharian di rumah sakit. Saat itu kalau tidak salah jam 3 pagi. Ketika giliranku, aku pun duduk dipinggir tempat tidur dan mulai membuka Alquran. Ketika hendak membaca, aku merinding mendengar suara deru oksigen dari hidung ibuku yang keluar. Oksigen itu tidak masuk. Apa yang terjadi? Segera aku bangunkan semuanya. Aku histeris dan bertanya-tanya, “Ibu kenapa? Ini oksigennya kok enggak berfungsi?” Ibu meninggal! Ibu meninggal!”

Aku segera keluar kamar. Duduk sendiri di kursi, memeluk bantal. Aku benamkan wajahku sepenuhnya dan akupun menangis tanpa suara. Itulah tangisan terpanjang yang pernah aku alami. Aku menjadi tidak berdaya, seakan separuh hidupku hilang. Aku seperti tidak bisa berpikir. Sesekali tangisku mereda, mencoba berpikir apa yang terjadi, dan ketika aku tahu ibuku telah meninggal dunia, aku menangis lagi. Kini dengan teriakan dan suara yang menyakitkan. Ibu kemana? Ibu kok ninggalin putra sendiri?

Setelah mayat dirapikan, ibu pun dibawa ke Sabang. Selama di kapal aku terus melihat ombak yang pecah dibelah kapal. Memori lama pun bangkit dan teringatlah masa-masa dulu ketika aku selalu ke sabang bersama ibu dan keluarga. Aku selalu mual dan tidur di samping ibu. Kini, malah aku yang duduk sedang ibu berbaring di sampingku. Maka meneteslah air mata lagi. Kali ini aku diam-diam agar tidak ada yang tahu bahwa aku menangis. Aku mencoba terlihat tegar.

Pagi itu, aku ditipu. Aku shalat zhuhur agak telat dan setelah itu aku melihat adikku, Rara yang masih sangat kecil menangis sendiri di depan kamar. Akupun menggendongnya, menenangkannya dan mencari kakakku untuk mengambil Rara. Tapi semua orang tidak ada. Bahkan setelah beberapa lama aku malah melihat kakakku mengenakan mukena bersama kedua adikku yang lain. Apa? Salat Jenazah telah selesai dan aku tidak sempat mensolatkan ibuku. Saat itu aku sangat begitu kecewa dengan kakakku. Sangat kecewa. Aku marah.

Hingga akhirnya pun dikuburkanlah ibuku, di atas bukit, di bawah pohon, yang disitu kita bisa melihat laut sekitar sabang yang sangat biru. Ibu dikuburkan tepat di samping kuburan kakek. Semua prosesi berjalan lancar dan kamipun pulang. Aku mencoba senyum, tegar hingga sore hari. Dan ketika tidak tahan lagi, aku berlari ke dalam kamar. Membanting tubuhku ke tempat tidur dan memeluk bantal dengan erat. Aku menangis lagi. Dengan air mata yang lebih banyak. Hingga kelelahan dan akupun tertidur. Berharap ketika bangun nanti semua ini hanya mimpi, dan memeluk ibu dengan segenap cinta.

***

Kau tahu? Betapa sulitnya menjalani masa remaja tanpa seorang ibu? Ketika rasa menggebu di dada terhadap pubertas yang terjadi, tidak ada tempat mengadu. Ketika ingin bercerita tentang prestasi yang dituai di sekolah, tidak ada tempat membanggakan diri. Bahkan ketika diri sedih, terpuruk dan ingin mati, tidak ada tempat bercurah rasa. Semua aku simpan sendiri. Bahkan aku terpaksa menjadi seorang abang yang pura-pura tegar untuk adik-adikku. Selama tiga tahun, merawat ketiga adikku bersama ayah, tanpa ada campur tangan wanita. Kakakku pergi di sekolahkan ke luar kota. Sementara aku, setiap pagi berkutat dengan ngompol yang meresap di tempat tidur mereka, menggendong adik yang menangis ketika ayah pergi bekerja, mencuci pakaian mereka, dan mengajari mereka semua apa yang pernah ibu ajarkan padaku. Mencurahkan segala kasih sayang yang pernah ibu berikan kepada mereka. Bahkan aku ragu, Rara masih ingat wajah ibu hingga sekarang atau tidak, sebab saat itu ia masih bulanan umurnya.

Apalagi ketika aku terpilih menjadi ketua umum organisasi keislaman di SMA. Aku menahan haru ketika mengucapkan terima kasih saat acara pelantikan untuk kedua orang tuaku yang telah membesarkan aku hingga bisa menjadi seorang pemimpin di masa sekolah. Aku ingin bercerita pada ibu, kalau aku sudah berubah. Bukan anak manja yang selalu muntah diperjalanan, selalu tidak berani ketika malam tiba, dan selalu takut setiap pergi seorang diri. Sebab sejak masuk sekolah, aku sudah bertekad ingin membanggakan ibuku, dan sedikit banyak aku mulai menuai prestasi. Bu, semua ini berkat dirimu! Terima kasih!

Umur itu tidak ada yang tahu, kan? Dulu di suatu malam, ketika kami semua bercengkerama, bergembira bersama di ruang keluarga, ibupun berceloteh, “ibu ingin meninggal kalau kalian semua nanti sudah menikah. Jangan cepat kali. Punya cucu dan kita bahagia bersama,” tiba-tiba ibu mendahulukan kami dengan beragam kesedihan. Hingga di suatu waktu pun, kadang kala aku terduduk diam. Berpikir tentang umurku yang tidak tahu kapan berakhirnya, umur ayahku dan umur adik-adikku. Bagaimanapun harus siap kapanpun, sebab nyawa tidak pernah kompromi untuk dicabut.

Tanda yang di atas itu, saat ketika ibuku tidak mengenaliku lagi, baru aku mengerti ketika mengikuti pesantren kilat semasa SMA. Ustadz memberitahu bahwa sebelum seorang ibu akan meninggal, maka ia akan dicabut rahim daripadanya, sehingga rasa sayang kepada anak tidak ada lagi.

Sebelum ini semua berakhir, aku hanya ingin agar adik-adikku besar dengan baik, Memiliki pendidikan yang baik, dan menjadi pribadi yang baik. Sementara aku, kemudian lepas dengan tanggung jawab mereka, dan melanjutkan hidup agar bisa menyebarkan kasih sayang ibu pada siapapun, bersama keluargaku nanti.

Selamat Jalan ibu, Semoga kuburmu selalu bercahaya, masuk ke dalam surgaNya, dihapuskan dosa-dosamu, dijaga dan dilindungi oleh Allah hingga akhirat nanti.

satu-satunya foto yang tersisa setelah laptop hilang >,<

Asnita Nurlaini (9 Desember 1968 – 27 Mei 2007)

Inspirasi Lainnya:

32 komentar

  1. tijoh ie mata bak baca tulisan nyoe :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, maaf kak udah buat kakak tijoh ie mata...

      Delete
  2. sangat mengharukan aslan ... ;-(

    ReplyDelete
  3. Terimakasih Aslan sudah menuliskannya. Mengingatkan kami y masih diberi kesempatan olehNya melalui masa-masa sulit bersama ibu. Smoga ibunya Aslan ditempatkan pada tempat terindah. Aamin ya rabbal alamin. :)

    ReplyDelete
  4. Dari sini baru kakak ngerti, kenapa Syu panggil Aslan, Putra.

    Makasih ya ceritanya, jadi bikin kakak berfikir untuk mmpersiapkan anak yang bisa setegar Aslan, jika sewaktu-waktu, kakak atau suami kakak mendahulukan mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi aslan ga nyaman dipanggil Putra sama yg bukan keluarga kak -_-

      Sama-sama kak, Semoga bisa menginspirasi :)

      Delete
  5. Ibu Aslan pasti bahagia dan bangga Putra-nya tumbuh sehebat ini. :)

    ReplyDelete
  6. Aslan, semalam saya bermimpi ibu saya. Setelah baca tulisan ini, saya benar-benar menumpahkan air mata, saya menangis. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan melihat ibu tersenyum, semakin besar rasa cinta saya. Terima kasih telah menulis ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama bang, Aslan juga senang bisa berbagi :)
      Semoga bisa menginspirasi :)

      Delete
  7. Semoga pahala untuk almarhumah terus mengalir dari anak2nya yng shalih & shalihah...

    ReplyDelete
  8. Your mother was very proud have a son like you, Aslan ....

    #Al-Fatihah for your Mom

    ReplyDelete
  9. ;-( betapa besar ketegaraan dlm dirimu dek.. yg kuat, tetap semangat, ttp mnjd lelakintaat hingga akhir hayat. Sungguh pljrn yg brharga buat kk... Allahummaghfirlaha warhamha.
    Alfatihah...

    ReplyDelete
  10. smg Allah meridhai dan memberikan ampunan untuk beliau dan untuk kita semua, insyaa Allah,,aamiin

    ReplyDelete
  11. Ibu Aslan cantik ya.
    ;-( ;-( ;-( ;-( ;-( ;-( ;-(

    ReplyDelete
  12. baru tau bang Aslan punya kakak, ibu bg Aslan mukanya Aceh banget

    ;-(

    ReplyDelete
  13. Semoga almarhumah diberikan kebahagiaan ya, Aslan. Dan Aslan bisa menjadi putranya yang hebat :)

    ReplyDelete
  14. Jadi kangen ummi ;-( ;-( ;-( semoga ibu nya bang aslan dilapangkan tempatnya dan bisa ketemu di syurga ntar o:)

    ReplyDelete
  15. 6 hari lagi yaaa,,, Ibu Aslan pasti banggaa

    ReplyDelete
  16. (Y), saya smpai baca bbrpa x bang. superr sx bg Aslan!!! (p)

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^