Ketika Gol A Gong Ke Aceh

Monday, May 6, 2013 - 4:46 AM WIB - 14 Comments

Catatan kecil ketua panitia workshop menulis nasional bersama Gol A Gong

Ketika mendapat telepon dari ketua umum FLP Aceh, Anugrah Roby Syahputra, aku sempat terkejut.

“Aslan, langsung aja. Aslan bisa jadi ketua panitia untuk acara workshop Gol A Gong?” kata Bang Roby di ujung telepon.

Dengan waktu berfikir yang begitu singkat, mengingat tarif bicara lewat ponsel juga sekarat, maka dengan sigap aku menjawab, “Siap, InsyaAllah bisa Bang.”

Malamnya, Aku, Bang Roby dan Bang Ferhat pergi ke cafe Canai Mamak untuk negosiasi dana dengan calon sponsor. Baiklah, itu pertama kali saya berkunjung ke Canai Mamak. Dengan mata sesekali melotot, melihat suasana café yang jarang aku temui. Untuk memesan pun, agak ragu-ragu. Sebab karena buru-buru dompet tidak sempat masuk ke saku celana. Siapa yang tidak ragu-ragu memesan makanan dengan hanya tiga lembar uang bergambar pattimura itu?

Setelah agak lama cuap-cuap dengan calon sponsor masalah biaya yang kami butuhkan untuk acara nanti, sesekali menyantap canai yang di pesan, aku hanya bisa mengangguk-ngangguk saja. Mencoba menganalisis acara yang sudah di buat kerangkanya oleh Bang Roby dan Bang Ferhat. Akhirnya, si calon sponsor pun meninggalkan kami dengan respon yang sangat baik dan antusias, juga dengan membayar seluruh makanan yang kami pesan. Oh God, jika saja aku tahu akan dibayari, tentu aku akan memesan yang lebih banyak. Kapan lagi bisa makan gratis? Wew.

Keesokan harinya, selesai kelas menulis di Rumah Cahaya, Bang Ferhat segera membentuk panitia workshop Gol A Gong. Tidak butuh waktu lama untuk menyusun kepanitiaan, karena yang di dahulukan yang hadir di Rumcay hari itu. Yap, mulai hari itu pengalaman-pengalaman seru pun di mulai.

Mengadakan acara workshop kali ini dengan materi kepanitiaan yang kaya profesi juga sangat seru. Ada yang dari ranah radio, juga wartawan. Belum lagi keluarga besar FLP yang tersebar di mana-mana, maka persiapan acara pun semakin mudah. Ada Kak Fida yang membantu menjalin hubungan dengan TELKOM sebagai sponsor utama, juga Bang Doni dengan jaringan radionya yang luas, hingga membuatku juga bisa menjadi narasumber di radio Rumoh PMI. Itu pertama kalinya aku melihat mekanisme on air radio seperti apa. Dengan tangan gemetaran menjawab pertanyaan dari penyiar, juga gugup membayangkan kalau suaraku kini terbang jauh seantero Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya. Yang bicara itu Aslan lho! Aslan! Huhuhu.

Aku dan Bang Doni yang sibuk menghitung tiket, sambil menyiapkan susunan acara


Ketika kami mengunjungi sekolah-sekolah untuk sosialisasi juga dimudahkan dengan adanya anggota-anggota FLP disana, ada Kak Cut Januarita di Man Model Banda Aceh, ada Bang Hendra Kasmi di SMA Alfityan dan ada Bang Hilal di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa. Dengan tanpa persiapan, aku Bang Doni, Dara, Nuurul dan Ulva bertandang ke sekolah-sekolah untuk menjual tiket. Hanya dalam beberapa hari, tiketpun Sold Out! Bahkan di antara panitia juga saling ribut merebut tiket. Dara sebagai penanggung jawab cuma bisa masang muka semrawut, karena tiap hari, tiap malam, tiap detik di terror dengan sms,

“Masih ada tiket dara?”
“Tiket yang kakak pesan mana?”
“Dara di mana? Abang mau ambil tiket?”

Semoga dara tidak botak. Atau paling tidak pikiran dan hatinya masih sehat. Karena aku juga takut pikiran dan hatinya mulai terkena sindrom apa gitu. Karena selama beberapa hari kami gak bisa bedain kapan dia tertawa, kapan dia nangis, kapan dia digigit semut. Semua itu ia lakoni dengan ekspresi yang sama. Untuk Dara nanti bisa jumpai Nuurul untuk periksa kesehatan di Puskesmas terdekat. Semoga tidak parah.

Dara sibuk menghitung tiket. "131, 132.. eh bener gak ya? 1,2,3.."
Di sekolah-sekolah, kami masuk ke kelas-kelas untuk kenalin siapa Gol A Gong. Dengan modal artikel yang kami baca di internet, langsung aja kami ceritain siapa Gol A Gong.

Bang Doni yang keren banget waktu di RIAB. Pas kami masuk ke kelas bilingual, Bang Doni dengan lancarnya berbahasa inggris. Kami yang di belakang cuma bisa senyum ngangguk-ngangguk sok paham. Yah, just like that!

Bang Doni, Dara, Ulva sosialisasi acara di RIAB

Sebenarnya di kepanitiaan kali ini aku agak gugup karena harus mengatur teman-teman yang mungkin memiliki pengalaman lebih banyak di bidang organisasi. Hingga akhirnya aku jadi segan sendiri kalau minta bantuan ini dan itu. Tapi, di akhir mereka benar-benar professional. Mereka benar-benar keren.

Malam-malam menjelang acara kami jalani tanpa tidur. Tidurpun cuma satu jam dua jam tiga jam empat jam. Paliing parah ketika sama-sama Bang Ferhat berencana begadang di kos untuk edit video FLP.

“Bang, Aslan tidur duluan ya. 15 menit aja. Aslan gak bisa buat kalo ngantuk.”
“Yaudah Aslan, tidur aja dulu nanti abang bangunin.” Kata Bang Ferhat.

Zzzzzz..
Zzzzzz..
Zzzzzz..

“Aslan, aslan, bangun! Udah satu jam aslan tidur. Video FLP belum siap.” Kata Bang Ferhat sambil goyang-goyangin kepalaku.

Dengan setengah sadar aku bangun, duduk di meja sambil mandang laptop. Bang Ferhat yang udah selesai jaga giliran tidur. Aku yang gak mikir apa-apa, kembali berbaring dan zzzz… tidur kembali.

Entah mimpi apa yang barusan aku alami. Tiba-tiba suara ayam berkokok membangunkanku dari tidur. Astaga! Video, mana video? Bang Ferhat, mana Bang Ferhat?

Akhirnya, malam itu rencana kami menggarap video FLP batal total. Pagi-pagi Bang Ferhat dengan wajah kusut meninggalkan kosku. 
"Buat sendiri sana Aslan!" 
Brum-brum. 
Aku cuma mematung di depan pintu, menatap laptop yang masih kosong, mengambil bantal dan kembali tidur. Zzzzz.

Walaupun begitu, akhirnya video FLP siap juga. Besoknya Bang Ferhat sampai magrib edit video FLP. Aku hanya tinggal rapikan dan di compile! Nah, jadi lah.

Yang paling keren juga dara lagi, dia sampai malam masih di Rumcay bareng Bang Nazri untuk print sertifikat. Sampai akhirnya datang Bang Reza yang juga bantuin. Karena Bang Nazri punya jiwa kebapak-bapakan, atau mungkin karena mirip bapak-bapak, darapun di suruh pulang lebih awal.

“Pulanglah dara, malam sudah larut. Biarkan kami yang menangani ini semua.” Kata Bang Nazri.
“Tapi Bang..”
“Gak papa dara. Kami bisa kok.”
“Bukan itu Bang. Tapi..”
“Udah, jangan dipikirin. Percaya sama kami. Pasti siap ini semua.”
“Bukan itu Bang..”
“Jadi apa Dara! Gua lempar juga lo pake printer!” Bang Nazri mulai emosi.
“Dara gak enak aja tinggalin Bang Nazri sama bang Reza. Entar ditangkap warga pula karena berdua-duaan.” Kata dara sok polos.
“What the!!!!” Bang Nazri ngamuk.

Well, yang diatas cuma imajinasiku aja. Malam itu aku terpaksa meninggalkan mereka untuk ikut pelantikan organisasi paguyuban. Karena galau nungguin lama banget dilantik, akhirnya entah apa yang berkelebat di pikiran.

Selesai pelantikan, aku langsung meluncur ke Rumcay sambil bawa puluhan kue pelantikan. Yang tersisa hanya Bang Nazri dan Bang Reza yang masih hitung-hitung sertifikat.

Malam itu, sepulang dari Rumcay, aku dan Bang Doni menyelesaikan video profil FLP dan juga music-music background untuk acara besok. Lagi-lagi aku minta tidur duluan karena lelahnya seharian menyiapkan perlengkapan untuk acara besok. Tapi Alhamdulillah aku berhasil bangun lagi pukul tiganya. Langsung saja semua video-video persiapan acara langsung selesai malam itu juga. Mission complete!

Paginya Bang Doni langsung pulang, dengan mengeluh perutnya yang bergejolak. Gimana gak bergejolak? Pagi-pagi kami masih makan timphan lemas sisa kue pelantikan. Parahnya Bang doni disela-sela acara mengeluh padaku sambil berbisik,

“Lan, tadi pagi abang gak ke toilet. Sekarang malah pengen buang air besar.” Kata Bang Doni sambil sesekali melompat sambil memegang laptop menyetel musik acara.

Bisa anda bayangkan saudara-saudara? akupun yang mendengar bisikan itu juga mulai bergejolak ingin buang air besar.

Selama kepanitiaan aku juga bisa lebih mengenal teman-teman di FLP, khususnya angkatan 2013. Banyak hal-hal tentang mereka yang aku jumpai selama persiapan acara. Mulai dari siti yang doyan makan. Kripik yang dimakan pas gladi acara di lahap hebat sama siti. Bahkan Biya, anak Kak Aini yang megang sisa-sisa kripik juga masih di datangi Siti. Tapi wajarlah, kita sama-sama anak kos Siti. Hidup anak kos!

Ada juga Kak Fanny yang super duper metal kuatnya. Dari rumah bawa satu dus roti yang isinya ratusan dengan motor. Begitu sampai langsung hormat sama Bang Ferhat. Benar-benar lucu.

Teman-teman panitia yang lain masing-masing juga kadang tanya tahun lahir.

“Eh, aslan kelahiran tahun berapa?” tanya mereka.
“Kalian tahun berapa lahir?”
“Kami 94. Aslan?”
“Oh, samalah kita.”
Ketika mereka udah pergi jauh, dengan pelan aku berucap, “Iya kita sama-sama Anak FLP. Sama-sama anak kuliahan. Sama-sama kos. Tapi tahun lahir kita beda setahun dua tahun.”

Ada juga Naris yang galau sebelum hari H karena ditunjuk jadi MC. Tapi besoknya dia berhasil melaksanakan tugas MC. Great Job Naris!

Ada Nuurul yang dari awal berusaha untuk dapat hadiah dengan dengan menjual 20 tiket. Tapi di akhir dia cuma bisa menjual sekitar 15 tiket. Bagaimanapun semangatnya luar biasa. Tiap hari singgah ke rumcay sambil nanya, “Apalagi yang bisa kami bantu?”

Oja yang lebih parah. Ketika Kak Aini lagi suapin makan siang untuk Biya, tiba-tiba Oja baru tiba di rumcay langsung datang beringsut mendekati Kak Aini sambil buka mulut lebar-lebar. Nyam-nyam. Biya yang melihatnya cuma terdiam bisu. “Bunda, ini kakak biya juga ya?” Biya membatin.

Kak Syuhada yang juga sigap menangani masalah konsumsi bersama anggota-anggotanya. Tiap ikut rapat cuma minta maaf karena gak bisa lama. Tapi terbukti di hari H benar-benar All out.

Ada Juga Adit yang kadang-kadang stress dari lab juga sempat mampir ke Rumcay untuk print tiket, design sertifikat, print surat.

Bang Riri yang kadang-kadang sering melucu diantara kami. Yang paling sering tertawa Bang Nazri, yang terbahak-bahak Bang Doni. Kerennya bang Riri, melucu dengan lelucon yang harus di analisis sekitar beberapa menit untuk bisa tertawa. Walaupun begitu, Bang Riri juga tetap keren di hari H.

Akhirnya, tanggal 5 Maret 2013 ratusan peserta memadati ruangan aula Mahkamah Syariah Aceh. Beberapa boot sponsor juga memeriahkan acara. Beberapa peserta juga antusias untuk membeli buku-buku Gol A Gong yang disusun di meja bazaar buku FLP. Untung Mas Gong sabar di tarik-tarik minta tanda-tangan, minta foto. Untung gak ditarik minta bayarin siomay.

Tragedinya, hari itu aku tergeletak tidak sadarkan diri sekitar sejam di ruang panitia. Entah bagaimana mulainya, aku sudah membuana di dunia mimpi. Begitu bangun, jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Di luar sana, peserta riuh membahana. Di dalam ruang itu, aku mondar mandir mencoba menghilangkan jejak tidur yang menggembung di lingkaran mataku. Maaf semua, aku tertidur.

Ujung-ujungnya yang paling keren juga tetap Bang Ferhat. Penulis blog Ferhatt.com ini berhasil menarik pipi-pipi peserta hingga tertawa dengan guyonan ringannya. Tidak menyesal kami memilihnya untuk menemani Gol A Gong di atas panggung. Tapi bayarannya mungkin tidak kami tepati. Satu kotak nasi dengan rendah plus udang goreng. Sekali lagi maaf Bang.

Gol A Gong benar berhasil menyuguhkan cara kreatif, unik dan keren juga interaktif tentang cara menggarap novel. Merugilah orang-orang yang tidak ikut. Selamat Mas Gong!

Sekali lagi, kepada semua panitia, pengurus dan seluruh anggota FLP, terima kasih karena telah ikut mensukseskan acara kemarin. Bang Munawar, Bang Rio, Bang Daman, Kak Zurry, Kak Isni, Kak Junaidah, Bang Fahri, Kak Riza, Kak Amalia, Azalya, Ernita, Kak Husna, Kak Nana, Kak Sanah, Kak Maulidar, Kak Mulla, Kak Fida, Kak Beby, Kak Laras, Nawra, Sari, kak Isra, Kak Era, Bang Muarif. Mohon maaf kepada teman-teman yang namanya tidak disebut diatas. Semoga bisa di muat di tulisan-tulisanku lainnya. Kalo kata Bang Ferhat, “Papa Bangga Sama Kalian!”

Mohon maaf apabila selama kepanitiaan terjadi benturan-benturan emosi, gesekan-gesekan perasaan dan juga kesalahpahaman lainnya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kedepan kita bisa buat acara yang lebih meriah lagi. Semoga.

Selama di kepanitiaan aku jadi bisa mengenal teman-teman lebih banyak. Bisa nginap bareng, bisa makan bareng, bisa ngopi bareng. Ternyata di FLP benar-benar seru. Kalo gak percaya, yuk gabung di FLP!

Panitia Workshop menulis bersama Gol A Gong # FLP

Inspirasi Lainnya:

14 komentar

  1. Terimakasih Aslan, udah promosi blog abang. hahahahhaha

    ReplyDelete
  2. Wah, detil ya Aslan pengamatannya.

    ReplyDelete
  3. kasian biya bang, pedes itu kripiknya~

    ReplyDelete
  4. Ada saya, diceritainnya detail ya bang aslan.. foto itu, yang sedang bergalau ria dengan tiket.. oh.oh.oh,.. :)

    Terimakasih bang aslan telah menjadi ketua kami. Tetap sabar dengan saya, yang terkadang emosi gak jelas gara-gara tiket. Tenang besok kita makan molen lagi ya bang.. :)

    ReplyDelete
  5. Hahaha,

    Berulang-ulang aku bacanya..
    Tiap liat foto Aslan sama Doni, SALUT! (y) *Tatapannya mesra sekali :D

    ReplyDelete
  6. kak fida : hehe.. emang harus di detailkan kak :)

    ReplyDelete
  7. Siti : ga pedes kok. malahan biya nya yang minta tambah. udah siti besok kita beli yang banyak. haha

    ReplyDelete
  8. Dara : Oke dara, hari rabu traktirin kami makan molen di Rumcay hoho.

    ReplyDelete
  9. Bg Nazri : waduh, itu bukan mesra bang. itu lagi adu mata. siapa yang paling tahan ga berkedip.

    ReplyDelete
  10. Hahaha, siapa kalah nyapu di rumcay selama 2 tahun, yang menang jaga rumcay selama 2,5 tahun..

    ReplyDelete
  11. Loh ? Hari rabu ? Memang saaya ke rumcay ya hari rabu. Ckckckckk,..
    Beres deh,.. :) gampang tuu

    ReplyDelete
  12. Bg Nazri : Wow! ngeri tu. tapi kami berdua sepakat kalau abang yg jadi pemenangnya. silahkan bang menyapu rumcay selama 2,5 tahun :D

    ReplyDelete
  13. Dara : Abang hari rabu piket di Rumcay. kalo dara gak ke rumcay hari rabu, minimal titip aja molennya terus pergi juga gapapa. hahaha

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^