Si Penakluk Nyamuk

Sunday, April 7, 2013 - 10:41 AM WIB - 3 Comments


Dialah sang penakluk nyamuk. Ia mampu memusnahkan nyamuk dengan gerakan-gerakan akrobatiknya. Tanpa alat bantu apapun ia pukul nyamuk-nyamuk itu. Ia seperti menari ketika berburu nyamuk-nyamuk yang terbang. Sesekali ia tertawa lebar dengan mata yang seakan-akan ingin keluar. Jangankan nyamuk, aku saja merinding melihatnya.

Entah apa yang ia pikirkan, sepetak kamar yang tidak seberapa itu ia gunakan untuk bersemedi. Mungkin saja itu salah satu ritualnya untuk bisa hidup abadi. Atau mungkin juga untuk membuatnya menjadi pria paling tampan hingga akhir zaman nanti. Hampir setiap malam, ia tidur di dalam gelapnya malam tanpa cahaya lampu. Ditemani nyamuk-nyamuk yang sedang ajojing. Yang parahnya, tidurnya seperti tidur orang yang tidak pernah merasakan tidur. Lelap menyantap mimpi yang sedap.

Suatu pagi, ketika ia meninggalkan kamar itu untuk kesekian kalinya. Aku mencoba memasukinya berharap mendapatkan suatu petunjuk perihal keanehannya. Ketika baru membuka pintu kamar, wuss.. lewat beberapa tentara nyamuk sedang patrol. Dengan mata melotot, aku menyaksikan ratusan nyamuk kini telah membentuk sebuah koloni di kamar itu.

Aku tidak bisa membayangkan bila mana mereka sepakat untuk menyerbuku dengan sekali serbuan, menggerogoti tubuhku dan menyedot darah sepuas-puasnya. Yang jelas aku tidak ingin mati konyol karena dikeroyok nyamuk. Karena itu, aku urungkan niat untuk masuk lebih dalam, dan keluar dengan seribu delapan ratus tiga puluh lima pertanyaan.

Perlu kau ketahui, kalau nyamuk yang menetap di rumah kami benar-benar terlatih. Cara terbang mereka saja sudah seperti pasukan udara yang ada di film-film box office. Ketika berhadapan dengan kami, beberapa dari mereka terbang melintasi korban, segera memecah formasi dan menyerang titik-titik kelemahan dari korban. Beberapa langsung terbang ke arah mata. Beberapa lainnya menggigit kaki dan betis, dan beberapa lainnya mengganggu pendengaran dengan knalpot bising mereka.

Si Penakluk nyamuk itu, selalu bangun dari tidur tanpa ada sedikitpun bekas gigitan nyamuk di tubuhnya. Jika benar memang ada pun aku juga tidak begitu peduli. Yang jelas, nyamuk-nyamuk itu kerap kali tidak berhasil membuat temanku itu demam berdarah. Atau mungkin dia telah meminum ramuan anti demam berdarah dari sesepuhnya? Yang jelas, ia tidak pernah enggan tidur di temani ratusan nyamuk.

Dan akhirnya, di malam yang tidak begitu dingin, tiba-tiba listrik di rumah kami padam. Gelap gulita. Nyamuk-nyamuk itu seperti telah merencanakan segalanya, beraksi dengan konvoi melewati meja kerja dan tempat tidurku. Mungkin saja mereka tertawa busuk. Menertawakanku seperti tawa seorang preman yang hendak merampas harta. Bisa jadi beberapa dari mereka telah mematikan listrik di rumah kami dengan sengaja. Dan di malam yang gelap itu, kesabaranku diuji.

Denga sebuah pedang listrik berbentuk raket badminton, aku pun melawan mereka. Cetar! Cetar! Cetar!
Beberapa dari mereka merasakan pahitnya kematian di tanganku. Di ruangan yang gelap itu, sesekali muncul cahaya listrik yang menjalar pendek. Seperti petir di malam hari. Dengan modal tontonan film beladiri, akupun beraksi dengan jurus-jurus yang mungkin saja tidak ada orang yang akan bisa melakukannya. Sesekali meloncat, menunduk, jongkok, ke kiri, ke kanan, berputar, koprol, dan semua gerakan yang menurutku aman untuk dilakukan di tempat yang gelap. Setelah beberapa lama bergelut, sepertinya puluhan dari mereka berhasil aku musnahkan.

Tiba-tiba ada suara aneh dari dalam kamar persemedian temanku itu. Desisnya membuat adegan malam kelam itu terasa mengerikan. Tiba-tiba ia keluar dengan mata menyala, dengan tubuh yang kini ditumbuhi bulu-bulu lebat, persis seperti wolverine. Cuma bedanya ia tidak setampan wolverine yang di make up habis-habisan di film X-Men.

Dalam sekejap, ia merangkak tepat ke hadapanku. Berteriak sekuat-kuatnya, sampai-sampai liurnya berterbangan membanjiri wajahku. Setelah puas berteriak, kemudian ia menamparku dengan keras.

“Hai, ka beudoh gam! Karat shubuh nyoe!*”

Begitulah, ternyata semua itu hanya mimpi. Kuharap kau tidak terlalu serius membacanya.

*hai, bangun kau! Sudah mau shubuh ni

Inspirasi Lainnya:

3 komentar

  1. hahahah.....lumanyan jga bisa bikin ngakak.=))
    udh bisa jadi penulis komik tu bg, Ntar kami yg jadi pembeli pertama...
    tpi haganya jgn mahal" 2ribee mantong....!!
    :>)

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^