Novel Mimbar Kepemimpinan ( Bab satu )

Friday, September 30, 2011 - 7:04 AM WIB - 2 Comments





BAB 1
HIPISA

SEMILIR angin pagi ini menyapaku dengan lembut membuat darahku terpacu untuk menerobos untaian urat saraf dan memberi sengatan semangat pada seluruh tubuhku. Ku hirup udara segar yang ada disekelilingku membuat mataku terpejam dan tersadar betapa bahagianya hidup di bumi yang indah ini. Kicauan burung dipepohonan mencoba mengalahkan hiruk pikuk keramaian dijalanan. Jalanan pagi ini terasa sesak dengan roda roda yang melintas diatasnya. Terlihat orang-orang mengejar waktu untuk dapat sampai disekolah maupun ditempat kerjanya. Kehidupan yang mereka jalani ini selalu kulihat disetiap pagi, hanya sedikit yang mulai mengubah rutinitasnya menjadi hal yang lebih menyenangkan.

Bagiku hari ini adalah halaman pendahuluan pada sebuah buku cerita yang nantinya akan kutulis sendiri. Dihalaman inilah yang menentukan apakah orang akan melanjutkan membaca buku ini atau segera menutup dan menyimpannya. Bagiku hari inilah awal aku menentukan seperti apa aku nantinya. Hari ini hari pertamaku mulai belajar di SMA. Aku telah tercatat sebagai siswa pada SMA Negeri 1 Langsa, sebuah kota kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam.

Setelah melakukan seleksi penerimaan siswa baru, sekolah ini menetapkan bahwa aku masuk di kelas X.9 ( Sepuluh Sembilan ), Sebuah kelas buangan bagi orang-orang yang tidak lewat tes membaca Alquran. Saat tes hari itu nilai membaca alquran ku sangat memprihatikan. Jika nilai itu bagus mungkin sekarang aku sudah masuk di kelas unggul.

Seperti sekolah-sekolah lainnya, kami pun juga mengikuti masa orientasi siswa atau mos. Hari ini dan untuk tiga hari kedepan kami akan menjadi bulan-bulanan kakak-kakak senior yang terdaftar sebagai panitia mos. Para senior itu dengan berkedok mengajarkan kami tentang menjadi seorang siswa SMA yang baik dan patuh pada peraturan sekolah hanyalah sekedar untuk menjalankan tugas dari sekolah saja, bahkan ada juga yang untuk mencari pacar baru, mencari anak buah baru atau mungkin sekedar untuk membalaskan dendam mereka pada mos yang mereka alami dulu dan melampiaskannya kepada kami. Apalagi undang-undang senior yang berbunyi “pasal satu senior tidak pernah salah. Pasal dua jika senior salah lihat pasal satu”, membuat kami hanya bisa pasrah dan membisu. Hanya sedikit senior yang terlihat ikhlas mendidik kami.

Dihari-hari mos itu, kami di berikan peraturan sekolah untuk dibaca dan dipatuhi. kami melakukan segala hal yang mereka perintah. Mulai dari membuat kado untuk mereka, menyenangi hati mereka dengan bernyanyi dan berjoget, membeli jajanan untuk mereka, menerima hukuman dari mereka apabila tidak bisa menjawab pertanyaan bodoh yang mereka tanyakan, dan hal-hal bodoh lainnya. Hal yang tidak akan aku lupakan adalah saat mereka menyuruh kami membuat surat cinta untuk mereka. Tidak ada satupun senior wanita yang ku tahu namanya. Sampai akhirnya aku melihat seorang wanita mengenakan tanda pengenal sebagai panitia mos. Segera kuberanikan diri untuk menanyakan namanya. Tetapi ia malah marah dan menganggapku tidak sopan karena telah menanyakan namanya. Lalu iapun pergi. Sebelum ia mencoba pergi segera aku lihat tanda pengenalnya dan kucatat namanya. Ia pun tambah marah dan menarik tanda pengenalnya dari tanganku. Aku pun langsung kabur dan menghilang dari hadapannya.

Selain itu kami juga melakukan serangkaian permainan dari senior mos  hingga akhirnya aku tahu sedikit demi sedikit nama orang-orang yang berada dikelasku. Aku duduk dengan seorang anak tamatan dari madrasah tsanawiyah negeri. Ia terlihat pintar. Namun agak sedikit angkuh. Bahkan ia sempat melawan dengan senior. Aku yang berada disampingnya jadi merasa malu. Ada lagi anak yang duduk paling depan dideretan mejaku, 
ia termasuk orang yang berani dan pintar berbicara. Namanya Teuku zulman Sangga buana. Seorang anak asli aceh yang tinggal disebuah desa nelayan di pinggiran kota langsa. Ia menyebut tempat tinggalnya itu dengan nama Sungai Pauh, komunitas Steagal. Saat ia ditanyakan cita-citanya, ia mengatakan kalau ia akan menjadi presiden tahun 2014. Sebuah kata-kata yang sangat berani. Kami semua yang berada diruang kelas itu merasa tersuntik untuk terus memperhatikannya. Disampingnya adalah anak yang hitam tinggi namun memiliki wajah yang lucu. Namanya Jefry. Ia juga ikut-ikutan dan mengatakan kalau ia nanti akan menjadi wakil presiden 2014. Spontan kami semua tertawa. Melihat zulman aku menyadari tentang impianku saat ini. Niatku semenjak masuk kesekolah ini adalah untuk membuka lembaran baru. Sebuah buku yang dapat menarik perhatian semua orang untuk membacanya, bahkan sampai anak cucuku nantinya. 

Lalu tibalah giliranku untuk memperkenalkan diri. Akupun berdiri. Semua orang menatapku dan menunggu untaian kalimat yang keluar dari mulutku. Aku pun memberanikan diri menyebutkan namaku. “ Nama saya Aslan saputra. Saya lahir di langsa, dua puluh enam oktober seribu Sembilan ratus Sembilan puluh dua. Saya tinggal di jalan Jendral Ahmad Yani gang mawar nomor delapan dua kelurahan paya bujok seulemak kecamatan langsa baroe kota langsa nanggroe aceh Darussalam Indonesia. Cita-cita saya…”belum habis aku melanjutkan kata-kataku spontan semua orang tertawa melihat tingkah bodohku. Aku dengan lugu menyebutkan alamatku dengan lengkap yang tidak perlu selengkap itu orang juga sudah tahu. Sejak peristiwa itu aku mulai dikenal di kelas itu.

Saat jam istirahat aku sengaja berjalan-jalan untuk melihat keadaan sekolah itu. Ku lihat gedung sekolahku itu, arsitekturnya menyatu dengan nuansa zaman penjajahan dulu. Gedung itu dulunya adalah rumah sakit pada zaman belanda. Bangunannya kokoh namun sentuhan mistiknya tidak hilang, Walaupun catnya telah beberapa kali diganti. Ditengah gedung ini terdapat sebuah taman hijau yang dinamakan taman terbuka hijau. Ditengah taman terdapat kolam air mancur yang tidak berfungsi lagi. Disamping gedung bekas belanda itu juga terdapat beberapa gedung baru. Dan yang sangat menarik perhatianku adalah halaman belakang sekolah kami terdapat sebuah sumur tua yang konon menjadi tempat pembuangan mayat pada zaman belanda. Sangat Angker. Dan Yang sangat memprihatinkan keadaan wc siswa yang sudah tidak layak pakai lagi.

Akupun berhenti tepat didepan sebuah bangunan yang terbuat dari kayu. Ku lihat diatas atapnya terdapat sebuah pemancar suara tua. Barulah bisa kutebak kalau itulah mushala. Bangunan itu dibuat semi permanen. Setengah bagian kebawah dibuat dari tembok dan setengah bagian keatas terbuat dari papan-papan yang sengaja dibuat agak jarang sebagai fentilasi udara pengganti jendela. Disekeliling teras mushala ditumbuhi oleh bunga-bunga yang menjalar dari tiang teras hingga keatap mushala. Bunga itu sering di sebut bunga akasia.

Tiba-tiba seseorang menegurku dari belakang menghentikan arah pandangku kemushala itu.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.” Jawabku dengan terkejut.
Kulihat sosok yang menegurku ini, wajahnya cerah, penampilannya rapi, dan suaranya lembut. Aku tidak kenal dengannya dan tidak tahu alasannya menegurku.
“adik ini anak kelas satu ya?”
“oh, iya bang. Maaf, abang ini siapa ya?” jawabku.
“kenalkan nama abang Safwan Kamal” jawabnya sambil menyodorkan tangannya kepadaku.
“Aslan”. Jawabku sambil menjabat tangannya sebagai tanda perkenalan.
“kelas berapa dik?”
“Kelas satu sembilan bang, abang kelas berapa?”
“Oh, abang kelas tiga ips satu dik. Oh ya,  adik buru-buru mau kekelas?”
“Gak juga bang. Kenapa bang?”
“Oh, jadi gini dik. Abang ini ketua HIPISA, Himpunan Pelajar Islam SMA Negeri 1 Langsa.
“HIPISA ? ”
“Ya, HIPISA. Selain OSIS, di SMA 1 juga ada organisasi lain, seperti HIPISA ini. HIPISA adalah organisasi berlandaskan islam dik. Jadi, di HIPISA nanti kita akan dilatih tentang bagaimana cara berorganisasi, juga nanti kita bisa belajar agama lebih jauh, mengamalkan sunah, tapi juga bukan berarti kita harus tiap hari kesekolah pake sorban, pake baju muslim, dan lainnya, tapi Di HIPISA tu kita sama –sama belajar, cari pengalaman. Apalagi masa-masa SMA gini, wajib ikut organisasi. Di SMA ini banyak sekali organisasinya, ya tergantung adek mau ikut yang mana, tapi saran abang ikut HIPISA aja, dijamin seru lho..”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan omongannya. Ia juga menyodorkan selembar brosur tentang organisasi yang ia sebut HIPISA itu.

“Ini Penjelasan tentang HIPISA, Ini prestasi-prestasinya dan ini nomor HP abang. Kalau ada yang kurang jelas tanyakan aja dengan abang. InsyaAllah abang Online 24 jam. Hahaha..” Ocehnya sambil menunjuk-nunjuk bagian-bagian di brosur itu.

Bel Masuk pun berbunyi. Aku minta izin kepadanya untuk kembali kekelas. Dalam perjalanan kekelas, kepalaku masih dipenuhi beragam pertanyaan, termasuk tentang HIPISA yang baru ku tahu ini.

Setelah pulang sekolah aku bertemu dengan teman-teman smpku, Ape, Abi, Edgar dan Balsa. Kami berlainan kelas di SMA ini. Abi Dan Edgar Satu kelas di kelas Reguler sedangkan Ape dan Balsa dikelas unggul. Mereka berdua lulus tes membaca Alquran. Diantara kami hanya aku yang sendiri di kelas yang berbeda sedangkan mereka masing masing dikelas yang sama. Kami pun sering bercerita tentang mos di kelas masing-masing. Ape pun membahas tentang HIPISA. Ia bilang kalau kelasnya didatangi oleh Orang-orang dari HIPISA dan mempromosikan tentang HIPISA. Akupun teringat dengan brosur yang diberikan oleh bang safwan tadi. Akupun langsung mengatakan kalau aku akan masuk organisasi HIPISA itu. Pernyataan itu keluar karena niatku sudah bulat untuk mengubah jalan hidupku dan menurutku cara yang paling tepat adalah masuk kedalam organisasi HIPISA itu, walaupun aku belum tahu pasti seperti apa di HIPISA itu nantinya. Aku menceritakan perjumpaanku dengan bang safwan tadi. Ape dan abi pun tertarik juga untuk ikut HIPISA. Edgar yang berniat untuk masuk OSIS awalnya ragu untuk ikut HIPISA, namun setelah kami terus-terusan menyakinkannya, akhirnya ia juga mau untuk ikut mendaftar di HIPISA. Balsa yang awalnya juga tidak mau akhirnya juga ikut-ikutan karena kami semuanya ikut.

Keesokan Harinya seperti biasanya kami di mos oleh kakak-kakak senior. Tiba-tba beberapa orang dari organisasi-organisasi di SMAN 1 ini mempromosikan organisasi mereka, mulai dari Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Siswa Pecinta Alam (SISPALA), Patroli Keamanan Sekolah (PKS), dan yang terakhir HIPISA. Kulihat beberapa orang dari HIPISA yang berdiri di depan kelas kami. Kuperhatikan satu-satu. Mulai dari perempuannya yang semuanya memakai jilbab yang panjang dan menjulur hingga ke pinggang. Beberapa orang yang lain hanya membagikan senyum nya kepada kami. Perhatianku berhenti pada salah seorang diantara mereka. Ternyata dia bang safwan, Orang yang ku temui kemarin. Ia mengucapkan salam dan mulai mempromosikan tentang HIPISA, persis dengan apa yang ia katakan kepadaku kemarin. Setelah itu orang – orang disampingnya juga ikut menjelaskan tentang HIPISA, keunggulan HIPISA, dan prestasi-prestasi yang pernah HIPISA raih, baik dalam tingkat daerah maupun tingkat Nasional.

Mendengar penjelasan HIPISA dari mereka entah kenapa keinginanku untuk masuk HIPISA menjadi kuat. Banyak alasan kenapa aku ingin ikut HIPISA. Yang pasti yang pertama karena niatku semenjak masuk SMA ini adalah untuk mengubah hidupku. Saat SMP dulu aku termasuk orang yang penakut, Pendiam, Kuper, dan agak culun. Aku ingin mengubah itu semua dan membuktikan kepada semua orang kalau aku bisa berubah. Lagipula seperti yang bang safwan katakan, masa SMA ini rugi kalau gak ikut organisasi. Dan yang kulihat hanya HIPISA yang menarik dan kelihatan berbeda dari organisasi yang lain.

Segera aku ambil formulir yang ditawarkan oleh mereka. Diikuti oleh beberapa orang lainnya dari kelasku yang juga ikut mengambil formulir itu. Aku tak menyangka banyak juga yang mengambil formulir yang aku pegang ini. Sepertinya keinginanku untuk masuk HIPISA semakin besar.

Selesai dari promosi itu, saat jam istirahat beberapa orang teman sekelasku berkumpul dan membahas tentang organisasi. Akupun ikut bergabung. Banyak diantara mereka yng tertarik untuk bergabung di OSIS. Alasannya karena tahun depan mereka bisa mengospek anak-anak baru seperti kami sekarang. Akupun langsung menjelaskan kepada mereka tentang HIPISA dan mengutarakan keinginanku untuk mendaftar di HIPISA. Banyak diantara mereka yang tidak berminat masuk HIPISA. Alasannya karena terlalu berbau islami. Bahkan mereka yang tadi juga ikut mengambil formulir ternyata hanya sekedar ikut-ikutan saja. Aku agak kecewa atas tingkah mereka. Namun ada juga yang mau ikut mendaftar di HIPISA. Aku merasa senang dan kami pun sepakat untuk mengembalikan formulir yang telah kami isi besok.

***

Hari hari mos akan berakhir dan di kelas kami, zulman pun terpilih menjadi ketua kelas berdasarkan hasil pemungutan suara. Ia membantai kandidat kandidat yang lain dengan selisih suara yang jauh, bahkan teman sebangkuku yang bernama ikhsan juga ikut mencalonkan diri tidak kebagian satu suarapun, termasuk hak suaraku sebagai teman sebangkunya. Mungkin karena sifatnya yang tidak disukai teman-teman yang menyebabkan tidak ada satupun yang memilihnya. Sungguh tragis. Sedangkan zulman, saat itu ia seperti domba berbulu emas diantara domba-domba berbulu hitam. Ia bagaikan anak emas diantara kami semua. Bakatnya berbicara didepan umum mampu menarik perhatian kakak-kakak senior mos. Setiap apapun yang diperintah oleh mereka mampu ia kerjakan tanpa ada sedikitpun rasa malu. Aku mulai curiga apakah urat malunya masih ada atau tidak. Ia juga diajak untuk ikut OSIS dan dijamin lulus seleksi oleh beberapa senior OSIS lainnya. Saat itu ia sangat dibanggakan.

***

Akhirnya aku resmi mendaftar di HIPISA, di ikuti oleh Ape, Edgar, Abi, dan Balsa teman SMP ku, juga anak –anak baru lainnya yang belum kukenal. Minggu depan kami akan mengikuti seleksi penerimaan anggota selama satu minggu. Aku harap aku dan teman-temanku bisa lulus.

Seminggu yang lalu OSIS juga telah mengadakan seleksi yang ketat. Bagi OSIS, mereka hanya memerlukan orang-orang yang rela bekerja, sungguh-sungguh, kuat dan berkepribadian. Makanya dari puluhan orang yang ikut mendaftar hanya beberapa orang yang diterima untuk menjadi anggota OSIS. Di SMAN 1 Langsa ini, OSIS sangatlah eksklusif, mereka yang tergabung dalam OSIS seakan tim khusus pada pemerintahan sekolah. Mereka akan menjadi pusat perhatian public, memiliki wewenang yang lebih dari murid-murid biasa, dikenal oleh banyak guru, dekat dengan kepala sekolah, dan intinya merekalah yang memegang kekuasaan penuh terhadap seluruh murid di SMAN 1 Langsa. Dari Info yang ku dengar, beberapa orang yang kukenal berhasil menjadi anggota OSIS, yaitu edgar teman smpku, dan zulman teman sekelasku.

Suatu hari zulman menghampiriku dan menanyakanku tentang HIPISA. Sebelumnya aku tak lupa memberi selamat kepadanya karena berhasil menjadi anggota OSIS. Ia pun bertanya tentang keinginanku tempo hari untuk masuk ke HIPISA. Aku pun mengiyakan kalau aku memang telah mendaftar di HIPISA dan akan mengikuti seleksinya minggu depan. Tiba-tiba ia bertanya apakah pendaftaran masih dibuka atau sudah ditutup. Ternyata ia juga ingin masuk ke HIPISA. Alasannya masuk HIPISA karena ia juga diajak oleh bang Safwan. Bang Safwan lah yang mengetesnya membaca alquran saat seleksi OSIS kemarin. Beliau mengatakan kalau anak OSIS harus ikut HIPISA, apalagi jika ada keinginan untuk menjadi ketua OSIS yang nantinya harus tahu tentang semua organisasi, termasuk HIPISA, apalagi ketua OSIS sekarang adalah teman sekelas bang Safwan dan sangat dekat dengan HIPISA, lagipula ia juga ingin belajar banyak tentang agama, Makanya ia sangat berminat untuk masuk HIPISA. Akupun sangat senang mendengar keinginannya itu. Akupun memberitahunya kalau pendaftaran HIPISA belum ditutup dan ia masih bisa mendaftar. Aku sangat senang jika ada orang-orang seperti dia di HIPISA nantinya.

 -------

Mohon Komentarnya yaa... :)

Inspirasi Lainnya:

2 komentar

  1. x ne komentar saya : minta ijin buat d paste ke saya punya kompy... biar eNAQ di bca waktu offline... :)

    Terimakasih.

    ReplyDelete
  2. Yup...
    silahkan lulu asyifatun najwa..

    Semoga bermanfaat :D

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^