Taubat, enggak deh!

Sunday, June 17, 2012 - 3:28 AM WIB - 0 Comments

Oleh : Aslan Saputra

Kenapa aku harus bertaubat? Pertanyaan ini terkadang sering muncul dibenak kita semua. Bahkan, ada yang lebih ekstrim, ketika dikatakan tentang taubat, wajah langsung kusut tidak karuan.  Ada juga yang langsung maki-maki sambil lempar sandal (padahal setelah itu diambil lagi sandalnya). Dengan berani menyebutkan kalau kata-kata taubat itu tidak cocok untuknya. Seakan-akan, taubat itu hanya untuk orang yang telah melakukan dosa besar. Padahal taubat itu sebenarnya tidak hanya untuk orang-orang yang telah melakukan dosa besar. Melainkan kita di anjurkan untuk selalu bertaubat atas apa yang telah kita lakukan. Karena tiada hari yang telah kita lalui luput dari dosa.

Coba sejenak kita lihat melihat diri kita dari sudut pandang yang berbeda. Apakah sampai hari ini kita benar-benar telah luput dari dosa? Saya yakin dan kita semua yakin jawabannya adalah tidak. Bahkan Rasulullah saja yang telah ma’shum dari dosa juga selalu beristighfar dan bertaubat setiap saat. Apalagi kita yang lebih dekat dengan dunia. Masihkah berani kita mengatakan kalau diri ini tidak luput dari dosa?

Ayo kita melihat lebih jauh lagi jika kita masih menganggap diri ini tidak perlu bertaubat. Pernahkah kita meninggalkan shalat hingga hari ini? Meninggalkan shalat berjamaah? Menyakiti hati orang tua? Menyakiti hati teman-teman kita? Jika semua pertanyaan itu jawabannya adalah pernah, maka kita harus segera melaksanakan taubat. Tidak perlu menunggu melakukan dosa besar dulu agar baru memulai taubat.

Yang lebih parah, ketika seseorang pada masa lalunya telah melakukan dosa besar. Kemudian ia sadar akan perbuatannya, meninggalkan perbuatan dosanya itu dan kemudian melanjutkannya dengan banyak beribadah. Apakah dosanya itu telah di ampuni oleh Allah? Apakah dosanya itu luput dari perhitungan Allah? Selama ia tidak melakukan taubat, maka dosa itu akan terus ada pada dirinya hingga hari perhitungan amal kelak. Na’udzubillah.

Maaf, aku kayaknya belum dapat hidayah deh. Aduh, plis deh. Mana ada coba orang yang ingin mandi tapi gak mau kena air. Mana ada orang yang ingin kepantai tapi gak mau kena panas matahari. Gimana mau dapat hidayah coba kalau ke mesjid aja ogah. Dengarin ceramah gak mau. Di Nasehatin juga emosi. Itu namanya bukan belum dapat hidayah, tapi gak mau dapat hidayah. 

Kawanku yang baik, sangat baik malah. Coba kita renungkan sejenak. Orang-orang yang selalu beribadah, beristighfar, bertaubat sebenarnya adalah orang-orang yang telah Allah pilih. Mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Pernah gak kita suka dengan seseorang, terus nungguin dia juga suka dengan kita tanpa pernah berusaha, berjumpa, bahkan berkenalan (gak tau pun yang mana orangnya). Ya pastinya gak ada. Minimal pun kalau mau suka ada jumpa sekali, ataupun kirim surat sekali, ataupun, ataupun...

Nah, begitu juga dengan Allah, Allah gak bakalan mau dekat dengan orang yang gak mau dekat denganNya. Jadi gimana mau dapat hidayah kalau kita gak mau menjemput hidayah itu, iya gak? Kalau kita ingin tahu, sebenarnya nikmat sekali bisa dekat dengan Allah, jauh melebihi nikmat ketika berjumpa sang kekasih di pelaminan (walau saya juga belum pernah nikah - wew). Bayangkan, ketika kita makan, kita ingat Allah. Lagi mau tidur, ingat Allah. Ketika lagi belajar, ingat Allah. Apakah Allah akan diam saja? Tentu tidak! Allah akan buat makanan kita jadi lebih lezat, membuat tidur kita jadi lebih nyenyak, membuat kita lebih mudah meresap pelajaran. Itulah tanda balasan cintaNya. Jelaslah Allah Maha Pengasih terhadap makhluknya. Apalagi orang yang berusaha mencintainya?

Lihat deh buktinya, Rasulullah Saw. Rasa cinta beliau kepada Allah sangaaat besar. Kadang karena  rindunya yang amat sangat pada Allah, air mata beliau gak bisa ditahan. Mengalir membasahi wajah shalihnya. Bayangkan betapa luar biasanya cinta itu. saling mencintai. saling merindu. Toh kita aja yang rindu dengan mamak sampai nangis sejadi-jadinya (mungkin sampai berteriak-teriak malah). Gimana dengan Allah?

Sekali lagi, kenapa kita perlu bertaubat? Jelaslah, Cinta dari Allah gak akan sampai pada kita-kita yang masih berlumuran dosa. Dan jangan heran, ketika banyak ahli ibadah yang masih juga doyan maksiat, bisa kita indikasikan, kalau masih ada dosa pada dirinya. Ia masih belum benar-benar merasakan cinta yang Allah berikan. Kalau saja kalian tahu, mungkin kalian akan menangis sejadi-jadinya ketika tahu diri kalian begitu tidak pantas untuk bisa merenguk cintaNya. Subhanallah!

Taubat, enggak deh! Nah siapa yang berani bilang begitu? Kalau ada yang berani pun, itu pasti cuma fir’aun dan genknya. Apa mau kalian disamakan dengan fir’aun? Idih. Yang benar adalah, Taubat? Yuk ayuk!. Yuk kita bertaubat. Yuk kita nyatakan cinta pada Allah!

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222).

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

“Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian.” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami’ Shagir – 5235).

Wallahu a’lam

Inspirasi Lainnya:

0 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^