Korupsi Gila

Sunday, October 28, 2012 - 12:18 AM WIB - 0 Comments

Oleh : Aslan Saputra

KKN benar benar membuatku kesal. Kesal bukan karena mereka yang melakukannya adalah mereka yang memiliki jabatan dan wewenang, tapi kesal karena yang memaki para koruptor itu juga ternyata terlibat praktek KKN. Sungguh ironi, melihat kenyataan pahit didepan mata, ketika sekumpulan rakyat bertitle “selamatkan rakyat dari korupsi” ternyata juga korupsi. Memang tidak sehebat praktek KKN para pejabat-pejabat itu, tapi atas nama telah melakukan KKN, siapa pun orangnya tetap benar-benar telah menjadi seorang penjahat.


Kenapa aku begitu kesal? Ah, bagaimana pula tidak kesal, melihat orang-orang yang dari segi penampilan dan status sosialnya merupakan orang-orang yang dizhalimi oleh Pejabat yang korup, malah berani terang-terangan melakukan KKN. Entah ketika itu mereka sadar atau tidak, yang jelas mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang mereka teriaki “koruptor!”.

Miris hati ini, ketika bersemangat hendak mengganyang korupsi, menyusun realita-realita yang ada untuk mencari sebuah solusi, tapi di ‘tampar’ dengan perilaku-perilaku masyarakat yang menambah pailit kenyataan bahwa Indonesia tidak akan pernah bisa terbebas dari korupsi. Siapa lagi yang bisa memberantas korupsi kalau bukan kita? Bukankah perbuatan yang kalian lakukan itu tidak ada bedanya dengan pejabat-pejabat yang korup itu? Ah, ternyata benar. KKN itu muncul ketika ego di lumuri kepuasan pribadi mendongkrak dan memaksa diri untuk berbuat hal yang sebetulnya salah? Apakah teriakan kalian selama ini berasal dari hati yang panas atau perut yang keroncongan?

Kenapa aku begitu emosi seperti ini? Apa yang telah mereka lakukan sehingga aku sangat kesal terhadap mereka? Entah karena ini juga berasal dari perutku juga atau hati yang benar-benar tulus demi bangkitnya Indonesia yang bebas dari korupsi. Bukan masalah bagiku jika di aniaya ataupun di zhalimi akibat perbuatan KKN, tapi dapatkah kalian menyayangi diri kalian sendiri yang saat ini melakukan KKN, lalu kemudian hari mengeluh karena melihat orang lain melakukan hal yang serupa?

KKN itu tidak akan pernah hilang jika dari kita sendiri tidak berusaha untuk melepas diri dari kebutuhan pribadi dan memaksa sistem untuk mendahulukan kepentingan pribadi. Sistem yang dibuat tidak sepenuhnya memberatkan kita. Bahkan jika kita telusuri, sistem yang ada ‘menghambat’ kita karena kita sendiri yang tidak mentaati dan menjalani sistem sesuai prosedurnya.

KKN benar-benar gila. Demi Allah aku tidak akan pernah menyentuh KKN itu. Walaupun uang itu didepan mata, walaupun kerabatku didalam sana, walaupun dengan sedikit uang dapat melancarkan urusan, tapi tetap KKN itu Haram! Semenarik apapun bungkusnya, sebagus apapun ceritanya. KKN tetap di Murkai Allah SWT.

Rasa kesal itu bermula ketika aku sedang di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh. Seperti biasa tujuannya adalah ke Pulang Weh, Sabang. Berangkat sekitar jam delapan pagi. Wah, ramai benar ketika itu. Puluhan kendaraan bermotor sudah nangkring di parkiran dan bersiap-siap untuk dinaikkan kekapal. Aku pikir seperti nya aku sudah telat. Segera aku bergegas ke loket untuk membeli tiket. Tapi disitu tertulis “Sold out!”. Segera aku mendatangi petugas pelabuhan di gerbang dermaga. Mereka mengatakan kalau tiket baru dapat di beli setelah kapal berangkat. Ternyata aku ketinggalan kapal. Tapi tak mengapa karena kapal selanjutnya akan tiba 30 menit kemudian. Sepuluh menit aku menunggu di ruang tunggu. Dengan membaca buku setidaknya dapat membuat waktu menjadi lebih bermanfaat. Merasa agak kantuk, aku pun berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju loket untuk melihat keadaan. Dan Astaga, Antrian panjang manusia berjajar lurus membelakangi loket. Sepertinya aku telat lagi. Tapi melihat selisih orang antara loket dengan posisi ku saat itu sepertinya memungkinkan untuk mendapatkan tiket. Dengan sabar akupun menunggu giliran.

Pemandangan anehpun mulai bermunculan. Mulai dari beberapa orang yang mencoba menyelip barisan antrian, beberapa orang yang langsung menerobos ke depan dan membeli tiket, bahkan ada yang saling titip untuk dibelikan tiket. Ah, pemandangan seperti itu membuatku malu menjadi seorang warga Negara Indonesia. Untung saja ketika itu para turis tidak ikutan antri. Kalau mereka melihat pemandangan itu, aku akan keluar dari barisan itu.

Jelaslah, ketika seseorang mencoba menerobos sistem untuk kepentingan sendiri, pasti ada pihak yang dirugikan. Bukankah aman jika mereka ikut mengantri dan tentu saja mereka juga akan mendapat giliran yang sama sesuai posisi antri mereka. Makin cepat mengantri maka makin cepat mendapat giliran. Beberapa orang di sampingku mengeluh melihat tingkah orang-orang yang menerobos itu. Pertanyaannya apakah mereka akan berpikiran yang sama seandainya orang yang menerobos itu adalah mereka?

Ketika hendak giliran ku untuk membeli tiket. Petugas loket menempel tulisan berbunyi “ Tiket kendaraan roda dua habis!” dengan tenang aku keluar dari barisan tanpa protes. Dalam hati aku berfikir, mungkin aku kurang cepat ketika mengantri tadi sehingga kehabisan tiket. Dengan terpaksa aku harus menunggu hingga keberangkatan selanjutnya. Mungkin belum rezeki.

Aku pun berjalan kemushala untuk shalat Dhuha. Semoga setelah shalat Allah memudahkan rezeki ku. Seusai shalat, loket kembali kosong. Orang-orang telah sibuk dengan kendaraan bermotor mereka dan bersiap-siap memasukkannya ke kapal. Motor ku yang dari tadi pagi telah ku parkir ku biarkan di sana. Kulihat mereka berduyun-duyun memasukkan motor mereka. Tapi, hei! Kenapa orang-orang yang tadi dibelakangku ketika antrian juga berhasil meloloskan motornya masuk kedalam kapal? Bukankah mereka kehabisan tiket sepertiku? Tapi kenapa mereka bisa masuk? Dari informasi orang-orang sekitar yang bernasib sama dengan ku, ternyata mereka membeli tiket liar di pintu gerbang dermaga. Tiket liar? Kenapa masih ada tiket? Bukankah di loket di nyatakan habis? Ternyata petugas mengalokasikan sisa tiket untuk dijadikan tiket liar di pintu gerbang dermaga. Kalau seperti itu untuk apa dibuat antrian di loket? Parah si petugas!

Tidak sampai disitu, mereka yang memiliki kenalan dengan petugas penjaga loket juga lebih mudah mendapatkan tiket. Kalau seperti itu, untuk apa dibuat antrian? Apakah ada peraturan khusus yang menyatakan keluarga atau kerabat petugas dibebaskan dari antrian? Jika memang begitu apakah harus menjalin kekeluargaan dengan petugas baru bisa mendapat tiket?

Aku kesal bukan karena tertinggal kapal dan kehabisan tiket. Tapi jauh daripada itu, aku kesal dengan sistem pelabuhan yang demikian rusak seperti ini. Bagaimana Aceh mau maju seperti Jepang dan China yang menjunjung tinggi antrian? Bukankah mereka non muslim sementara kita mayoritas muslim? Apakah kita tidak malu dengan mereka? Sampai kapan kita menuntut Aceh untuk maju sementara kita dengan sepele mengacuhkan antrian? Hal kecil itulah yang membuat Jepang dan China maju boy!

Miris hati. Sistem yang rusak, ditambah mindset masyarakat yang belum pernah benar. Kapan Aceh bisa bangkit? Kapan KKN akan benar-benar hilang dari Aceh dan Indonesia?

Mari kawan yang diberi hidayah oleh Allah untuk membaca artikel ini, semoga kalian diberi hidayah untuk memboikot diri dengan perilaku-perilaku tercela seperti itu. Jadilah orang yang selalu melakukan hal yang benar, walaupun kita berada di kuantitas yang sedikit. Tetap lah percaya, perubahan yang besar di mulai dari perubahan yang kecil. Dan itu semua dimulai dari kita sendiri, sekarang!

Banda Aceh, Pelabuhan Ulee Lheue
24 Oktober 2012 , 11.46 WIB

Inspirasi Lainnya:

0 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^