Sakit Yang Berbeda

Wednesday, January 30, 2013 - 7:38 AM WIB - 2 Comments



Kalau sakit begini, jadi ingat dulu, saat dimana ingus masih belum bisa aku bersihkan sendiri. Saat itu aku masih belum mengerti, suhu badan ku seperti dipadang Afrika tapi entah kenapa aku menggigil  seperti orang kedinginan. Saat itu bantal guling menjadi teman yang paling diandalkan. Memeluknya membuat tubuh sedikit lebih tenang, lebih nyaman.

Walau guling saat itu menjadi teman yang paling diandalkan, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan curahan kasih sayang ibu. Saat itu ibu bagaikan seorang bidadari. Ia memelukku, mencoba mengalirkan suhu tubuhku ketubuhnya. Bahkan, ibu sering menempelkan kedua tanganku di dahinya, agar panas yang ada ditubuhku dapat mengalir padanya. Saat itu, benar-benar indah. Seakan-akan sakit yang aku alami saat itu seketika lenyap, berganti dengan perasaan damai, nyaman dan tenang.

Ketika suhu tubuh tidak seimbang seperti ini, dulu aku paling sering mimpi buruk. Rasa-rasanya, perasaan panas itu membuat kedua kelopak mataku sulit untuk dibuka lebar, seperti tirai yang telah longgar talinya, dipasang bagaimanapun tetap saja tirainya tidak bisa digerai dengan lebar. Keadaan itu membuat mataku selalu terpejam. Pada awalnya semua menjadi gelap, pekat. Beberapa detik kemudian  aku seakan-akan berada didunia yang entah berantah.

Semua yang ada disekelilingku menjadi besar. Mulai dari dinding rumah, kipas angin, meja, kursi, semuanya berubah menjadi besar. Mereka bergerak-gerak seperti sekelompok tentara yang sedang pemanasan sebelum berperang. Yang paling menakutkan mereka memiliki mata dan mulut, juga kedua tangan. Mereka mendekat, dan memanggil-manggil namaku. Disekelilingku semuanya berputar, tangan-tangan mereka mulai mendekatiku, semakin dekat dan suara mereka pun semakin besar, dan Tidak!! Spontan aku terbangun dengan keringat yang bercucuran di kening dan leher. Kulihat disekitar dan semuanya dalam kondisi normal. Akupun mencoba memejamkan mata lagi dan baru sebentar bayangan-banyangan itu kembali lagi. Akhirnya aku mencoba untuk tidak tertidur dan bertahan dengan kelopak mata yang semakin sayu. Aku ketakutan.

Lagi-lagi ibu memang sosok yang paling indah. Ia datang dan mencoba menenangkanku. Mencoba menghilangkan bayangan-bayangan buruk itu dengan cerita-cerita yang menggembirakan. Sambil mengurai rambut-rambutku yang masih tipis, mencoba menyakinkanku bahwa mimpi itu tidak akan ada lagi. Ia berjanji akan terus berada disisiku hingga aku bangun kembali. Saat itu, ketika aku kembali memejamkan mata, semua bayangan itu kembali muncul namun tidak mendekat lagi kepadaku. Sedikit demi sedikit mereka menjauh dan disekelilingku pun menjadi cerah. Aku baru sadar kalau suhu tubuhku mulai berkurang.

Ah, saat-saat itu memang benar-benar indah. Ingin rasanya selalu sakit agar bisa selalu mendapat perhatian dari ibu. Ketika sakit dahulu, ibu selalu menjanjikan makanan dan kue yang enak jika aku mau  meminum obat yang diberikan oleh dokter. Dulu obat tablet itu begitu besar dan aku sangat takut kalau-kalau diperjalanannya menuju lambungku terhenti di kerongkongan. Ibu menawarkan solusi yang  menurutnya itu adalah cara yang paling mudah untuk meminum obat. Obat itu berubah menjadi bubuk-bubuk menjijikkan yang dicampur dengan sedikit air hingga berwarna vanilla basi. Obat itu berhasil membuat lidahku pahit selama berjam-jam. Walaupun itu sangat menjijikkan, tapi dengan terpaksa aku telan cepat-cepat demi menagih janji-janji makanan enak itu.  Sekarang aku baru tahu kalau itu adalah solusi yang paling buruk.

Kini semua terasa berbeda. Guling yang sampai sekarang masih menjadi teman andalanku juga tahu bagaimana perasaanku saat ini. Ia tahu kalau rasa sakitku ini berlipat-lipat, walau telah seerat-erat mungkin aku memeluknya. Sehangat-hangatnya tubuhku saat ini, ternyata tidak mampu mengalahkan hati yang mulai hangat mengenang masa-masa indah itu, masa-masa ingusan dulu.

Masa-masa ini, memang masa-masa yang paling berat. Ketika mozaik-mozaik keceriaan masa kecil berganti dengan ganasnya kehidupan dunia yang berat dan penat. Bahkan untuk mencurahkan kepenatan hati ini saja aku tidak sanggup. Hanya bisa menyimpannya dalam-dalam, mencoba membungkusnya dengan sabar, dan menahan setiap derita yang kian hari kian deras hujamannya. Begitu berat dan menyusahkan.

Sebenarnya bisa saja aku mengumbarnya kepada siapa saja yang menurutku bisa untuk menampung semua keluh kesahku. Tapi kemudian apa? Ia hanya menjadi sebuah tong penampung kisah mengharukan, lantas ketika ia selesai mendengarnya ia hanya bisa menepuk pundakku sambil berkata “sabar ya”. Masalahku juga tidak berkurang sedikitpun. Teringat perkataan Nabi Syu’aib, “Hanya kepada Allahlah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Kalimat itulah yang membuatku sampai saat ini  masih menahan segala kepenatan dunia ini di dalam hatiku, hati yang mulai berkarat, mulai berat. Hati yang juga menahan rindu dan mencoba tegar mengingat kisah-kisah indah dulu, saat masih bersama ibu.

Semoga sakit ini lekas menghilang bersama perasaan-perasaan rindu itu.

#Di Kota Aslan Saputra, dengan cuaca yang sangat panas, yang sesekali terjadi gempa di sekitar kepala bagian kanan. 30 January 2013 22.17 WIB

Inspirasi Lainnya:

2 komentar

  1. cepat sembuh ya lan..
    dengan sakit kita akan makin bersyukur betapa nikmatnya sehat itu..

    ReplyDelete
  2. hahaha.. sama-sama ru..
    Sakit akibat tumbukan source code program -_-"

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^