Penggenggam Angin : Bagian Lima

Sunday, July 28, 2013 - 5:02 PM WIB - 5 Comments


Setoples Impian

Aku rasa aku mulai gila. Pikiranku tidak stabil, tulisanku tidak berkembang. Ah, kenapa bisa begini?

Semenjak Eki sembuh dari sakitnya kemarin, aku jadi merasa aneh sendiri. Sekarang aku sudah seperti dokter pribadi Eki. Buku catatanku kini seluruhnya tertulis tentang Eki. Mulai dari caranya tertawa, mengedipkan mata, rambutnya yang diterbangkan angin, sampai mengejar kucing tetangga. Semuanya aku tulis. Aku tidak tahu kenapa, yang jelas tulisan itu mengalir begitu saja.

Dan yang lebih parahnya, semakin lama mata Eki semakin berbinar. Sehingga membuatku malah tidak sanggup untuk melihatnya. Matanya seperti kelereng yang baru dicelupkan ke air. Bening dan menentramkan. Eki pun juga tambah aneh. Dia sering tersenyum kepadaku tanpa sebab. Sampai-sampai aku berpikir kalau ada kotoran burung di kepalaku, atau mungkin nasi yang menempel di pipiku.

Eki selalu saja memintaku untuk menunjukkan buku catatanku kepadanya. Tentu saja tidak bisa! Apalagi setelah buku itu penuh tentang dirinya. Aku tidak ingin Eki membacanya. Tidak pula Ali. Buku itu sangat-sangat harus kujaga. Jika saja ada yang membacanya, aku pasti akan sangat memalukan.

Tanpa terasa, persahabatan kami terus berlanjut hingga tamat dari sekolah dasar. Kami lulus dengan nilai yang lumayan baik. Ekilah yang paling tinggi nilainya. Sementara aku dan Ali hanya beda satu atau dua angka. Kadang aku yang lebih tinggi, kadang pula Ali.

Kami masih saja bermain bersama seperti dulu. Saling kejar mengejar, menangkap capung dan yang terpenting bermain di rumah angin. Aku menyadari kini rumah angin tampak semakin sempit. Atau bisa jadi karena tubuh kami yang kini bertambah besar. Ali yang paling tampak perubahannya. Tubuhnya kini hampir setinggi Bibi Moma. Suaranya juga sudah berubah. Dan kau tahu? Eki juga mulai berubah. Makin lama dia makin… cantik.

***

Lagi-lagi aku tertidur di rumah angin. Angin benar-benar menjamuku dengan baik sebagai sahabatnya. Disini, ditempatku berbaring, segala kepenatan dunia untuk sementara hilang. Angin menghiburku, Angin menjadi sahabat terbaikku. Tentunya setelah Ali dan Eki.

Aku tersadar karena ada sesuatu yang terus mengganggu hidungku. Jadinya aku ingin bersin, tapi tidak jadi. Ingin bersin lagi, eh tidak jadi lagi. Malahan makin lama hidungku semakin gatal. Dan, Hatching!

“Hahaha…” Eki tertawa lebar di sampingku.

“Hei, apa yang kau lakukan disini? Mengganggu tidurku saja,” Aku protes. Ternyata Eki yang menjahili hidungku dengan rumput.

“Hmm.. aku disini? Untuk apa ya? Ah aku tidak tahu,” jawab Eki sambil tersenyum-senyum.

Apa-apaan sih Eki? Lagi-lagi tersenyum tanpa sebab. Pasti ia tertawa karena wajahku berantakan. Memang tadi aku sempat bermimpi menunggangi seekor naga dan berkeliling desa. Mungkin berdampak ke dunia nyata.

“Ferhat?” tiba-tiba raut wajah Eki menjadi serius.

“Hmm.. ada apa?”

“Apa hal yang paling kau inginkan?”

“Hmm? Kenapa kau tanyakan itu?”

“Sudah, jawab saja!” Eki menimpuk kepalaku dengan buku catatanku.

“Aduh! Iya-iya ibu monster!” segera aku perbaiki posisiku, lalu mengambil kembali buku catatanku dari tangannya.

“Aku ingin… menjadi Penunggang Naga!”

“Hei, aku serius!” Lagi-lagi Eki memukulku.

“Iya-iya…Baiklah. Pertama-tama, aku ingin sekali berjumpa dengan Paman Sam. Aku merindukannya. Dan yang terpenting, aku ingin sekali menjadi seorang penulis. Jika nanti aku telah terkenal, aku ingin kedua orang tuaku menemukanku. Aku ingin sekali melihat orang tuaku seperti apa,”

“Wah penulis ya! Keren Ferhat!” Sial, lagi-lagi Eki tersenyum. Aku jadi aneh lagi.

“Kalau kau ingin bagaimana? Apa yang paling kau inginkan Eki?”

“Entahlah. Aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu? Tadi kau duluan yang bertanya. Seharusnya kau juga sudah memikirkan jawabannya,”

“Bisa berikan aku secarik kertas?” Eki merebut buku catatanku.

“Hei, kembalikan! Biar Aku saja yang merobek kertasnya,” Aku mengambil kembali buku itu. Jangan sampai Eki membuka buku itu.

Eki lalu merobek kertas itu menjadi dua bagian, menyerahkan sebagiannya kepadaku dan bagian yang lainnya ia gunakan untuk menulis sesuatu.

“Tulis impianmu di kertas itu!”

“Impian? Untuk apa?” Aku bingung.

“Kau tulis saja!”

Akupun juga mulai menulis. Tentang segala keinginanku. Berjumpa kembali dengan Paman Sam, bertemu dengan kedua orang tuaku, dan menjadi seorang penulis terkenal. Tanpa kusadari, aku benar-benar hanyut dengan tulisanku sendiri.

“Ferhat, Sudah? Lipat kertasmu dan masukkan disini.” Perintah Eki sambil mengeluarkan sebuah toples kecil dari tasnya.

Aku hanya mengikutinya saja. Lalu Eki menyuruhku menggali sebuah lubang di dalam rumah angin. Ia menaruh toples itu di dalamnya dan menyuruhku menimbunnya kembali.

“Kelak, jika kita telah dewasa dan kembali lagi kemari, Kita bisa lihat apakah mimpi kita sekarang telah terwujud atau tidak nantinya.” Sorotan mata Eki benar-benar menyakinkan dan sejenak kemudian ia tersenyum kembali.

“Memangnya apa yang kau tulis tadi?”

“Rahasia!” Eki bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah angin. Segera ia berlari dan kembali berteriak, “Ferhat! Ayo lomba siapa lebih dulu sampai di rumah! Taruhannya roti selai!”

“Hei tunggu Aku!”[]

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog FLP #PenaKamiTidakPuasa

Inspirasi Lainnya:

5 komentar

  1. Bagus tulisannya, Aslan..
    Bahasanya mengalir lancar :)

    ReplyDelete
  2. bagus tulisannya, judulnya pun mengugah untuk di baca

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Wah, terima kasih kak :)

      Blog kakak juga sudah saya follback :)

      Delete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^