Jalan Sesak

Saturday, August 2, 2014 - 8:27 AM WIB - 0 Comments

Sumber: uniqpost.com

Ada yang tertekan di dada. Seperti dada pernah dibedah, dimasukkan suatu alat kesehatan dan dibiarkan hingga bertahun-tahun. Dan kini, alat itu seakan mengganggu kehidupan organ-organ tubuh lainnya. Setiap darah yang dipompa terasa macet. Dan sesekali, darah muncrat dengan cepat ke otak dan membuat pusing di penghujung hari.

Banyak orang yang hanya bisa berkata tanpa bertanya dan melihat tanpa mengamati. Hingga timbul perspektif yang penuh tanda tanya dan pada akhirnya kesimpulan demi kesimpulan menjadi acuan dalam menilai perilaku. Ya, itu membuat pusing. Setiap hari.

Andai saja berjalan itu mengasyikkan, mungkin. Tanpa peduli dengan perkataan orang dari sepanjang trotoar yang dilewati. Menjejakkan kaki satu-satu, sambil memegang pundak angin dan bercanda dengan matahari. Sesekali berputar, menyanyikan irama gembira.

Ini hidup kita kan? Lantas kenapa selalu dibandingkan dengan kehidupan orang lain? Tentang karir dan juga kesuksesan. Bukankah setiap orang punya takdir yang berbeda-beda? Sering kali bercermin dengan cermin orang lain. Dan sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa melihat wajahmu sendiri.

Maka tetaplah berjalan. Bertahan dengan kaleng-kaleng minuman yang dilempar dari pinggir-pinggir jalan ke arah kita. Karena kita bukan berjalan ke pinggir jalan, tapi berjalan ke ujung jalan, ke tujuan kita. Kalau perlu pungut kaleng-kaleng itu dan buanglah ke tong sampah. Bukankah kita mengaku konservatif?

Rasanya masih sesak. Ketika tangan dan kaki masih diikat dengan alasan balas budi, lalu kita terseret dijalan, dengan wajah terbentur di kasarnya aspal. Terseret-seret. Berdarah. Lantas mau melanjutkan berjalan atau terdiam di sana tanpa nyawa dan dilindas mobil? Tidak! Karena kita berjalan bukan untuk melupakan, tapi untuk menyakinkan yang masih ragu akan potensi yang kita miliki. Budi akan tetap dibalas, tapi tidak sekarang. Detik belum sampai ujungnya kan?

Saat ini, dengan tertatih-tatih, aku masih berjalan. Dengan darah di sana sini, dengan kaki dan tangan yang terikat, dan dengan sekantong plastik berisi kaleng minuman kosong yang aku kutip. Karena di ujung jalan sana kecemerlangan menunggu. Benarkan?

Ini langkahku. Kau ikut?

Inspirasi Lainnya:

0 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^