Belajar Bertahan hidup 72 Jam Pasca Bencana di Sona Area Tokyo

Saturday, May 9, 2015 - 7:16 PM WIB - 2 Comments


Pada program JENESYS 2.0 tahun lalu, kami berkesempatan untuk mengunjungi Sona Area, Tokyo. Di sana sesuai tagline museumnya, kami akan diajarkan bagaimana caranya untuk bertahan hidup selama 72 jam pasca bencana yang merupakan waktu krisis tanpa pangan dan kondisi serba berantakan.


Begitu kami tiba, kami disambut hangat oleh tim instruktur Sona Area yang berseragam orange. Melihat sekeliling kami, ternyata juga banyak orang yang berkunjung hari itu. Ada beberapa gerombolan anak-anak SD yang sedang diatur oleh gurunya untuk bersiap masuk setelah kami. Seperti di film-film kartun Jepang, mereka berpakaian ala darmawisata plus topi dan botol minuman.


Sona Area ini merupakan salah satu pusat edukasi bencana di Jepang. Di sini pengunjung diajarkan segala macam hal yang berkaitan dengan penanggulangan bencana, baik sebelum, ketika dan setelah bencana terjadi. Sebenarnya Sona Area merupakan museum yang lebih bersifat edukasi dan interaktif, karena kita tidak hanya melihat barang-barang yang dipajang, tapi juga terlibat dan 'bermain' langsung di beberapa bagian dari Sona Area ini.

Pertama sekali sebelum masuk, masing-masing dari kami diberikan sebuah Nintendo yang berisi instruksi dalam bahasa inggris, yang terdiri dari beberapa level. Instruktur mengatakan, kami harus menjawab setiap pertanyaan yang ada di alat Nintendo tersebut, yang jawabannya dapat kami temukan di area simulasi bencana yang sebentar lagi akan kami masuki. Di akhir, akan ada poin yang muncul sesuai dengan jawaban yang kita pilih. Kalau nilainya baik, berarti kita selamat dari bencana. Kalau kurang, berarti kita harus belajar lagi biar selamat. Weew!


Setelah mendengarkan penjelasan dari Instruktur, pintu pertama langsung dibuka dan kamipun berhamburan masuk ke dalam. Pertama sekali kami langsung disuguhkan dengan kondisi sebuah kota yang terbakar. Ada tiang-tiang listrik yang roboh dan mengeluarkan kilatan-kilatan, televisi yang rusak namun masuk mengeluarkan suara, uap panas yang sengaja dikeluarkan, dinding bangunan yang hampir roboh dan beberapa 'api buatan' yang sukses membuat suasana kebakaran menjadi nyata.


Pertanyaan-pertanyaan yang disuguhkan terkadang bikin kita bingung. Misalnya, 'Benda apa yang masih terlihat berbahaya dan harus kamu hindari di toko buku ini?' Pilihan jawabannya macam-macam yang kalau kita tidak memperhatikan situasi toko itu, kita pasti bingung karena semua jawabannya hampir benar.


Setelah sesi simulasi itu berakhir, kami disuguhkan dengan ruangan yang berisi peralatan-peralatan gawat darurat, seperti meja buatan dari botol minuman bekas, baju bekas, dan lain-lain yang dibutuhkan ketika bencana baru saja terjadi. Kita seolah seperti baru saja mengalami bencana kebakaran yang sesungguhnya.

Kemudian kami masuk ke ruangan pameran yang memajang benda-benda yang harus kita persiapkan sesuai dengan kondisi dan korban bencana. Misalnya, di kotak kaca pertama akan ada mainan, baju anak, tas dan buku yang memang dibutuhkan untuk menghilangkan trauma bencana kepada anak-anak. Ada juga kotak kaca yang berisi benda-benda yang harus kita masukkan di dalam Tas Bencana yang selalu siap untuk dibawa kapanpun bencana tiba.

Di Sona Area kami juga disajikan sebuah film anime yang mengisahkan seorang kakak dan adik pergi tamasya ke sebuah daerah wisata bermain seperti Ancol. Namun tiba-tiba terjadi gempa yang sangat kuat dan mengakibatkan mereka berdua terpisah. Inti dari film itu adalah bagaimana kita dapat bertahan hidup 72 jam setelah terjadi bencana.

Ingin tahu gimana kelanjutannya? ntar saya ceritain lagi ya. Tetap terus update eliteword.blogspot.com! :-)





Inspirasi Lainnya:

2 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^