Cerita Pendek 1 : Pertolongan Allah

Wednesday, February 8, 2012 - 2:42 AM WIB - 2 Comments


Kutipan Dari Novel Aslan Saputra.



Matahari siang ini memang sangat terik dan menyengat. Kulit ini seakan terbakar bila lama-lama berdiri dibawah sinarnya. Jalanan terasa panas dan uap tampak muncul dari hitamnya aspal jalan raya. Sebagian orang memilih untuk pulang kerumah lebih cepat dan menghindari berlama-lama di luar.

Suatu ketika Akin pulang dari pengajian disekolah. Ditengah perjalanan ia melihat seorang wanita yang sedang di hadang oleh tiga orang pria disebuah gang sempit. Ia memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh preman itu dan ternyata mereka hendak merampas harta wanita itu. Sekilas ia melihat penampilan wanita itu dan ternyata ia adalah seorang siswi SMA juga. Penampilannya muslimah.

Nyali Akin menciut. Ingin rasanya ia menolong wanita itu. Tapi berkali-kali ia berfikir. Bagaimana mungkin ia dapat mengalahkan preman-preman yang semuanya bertubuh kekar itu. Mata mereka menyorotkan kegelapan dan kemarahan. Jangankan untuk melawan mereka semua. Salah seorang dari mereka pun mungkin tidak akan sanggup ia kalahkan.

Terlihat wanita itu mencoba membela diri. Ia tidak mau memberikan dompet dan tasnya kepada mereka. Salah satu preman itupun mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya. Ia mengancam akan melukai wanita itu jika ia tidak menyerahkan dompetnya kepada mereka. Wanita itu mendekap erat  tasnya didadanya dan mengatakan kalau ia tidak akan pernah memberikan apapun kepada mereka. Terlihat ia gemetaran dan sedikit demi sedikit mundur kebelakang.

“Bos, kalau dilihat-lihat cantik juga cewek ini.” Kata salah satu dari preman itu setelah melirik  wanita itu dari atas hingga bawah.

Wah, benar juga kau john. Gak ada uang kau pun jadi untuk kami.” Kata salah seorang yang lain dari mereka.

Akin merasa marah dengan omongan preman-preman itu. Ia merasa kalau harga diri wanita itu telah dilecehkan. Ia harus menolong wanita itu agar tidak terjadi hal yang tidak inginkan. Namun batinnya kembali berperang. Ia masih takut kalau-kalau ia nanti yang akan dibunuh oleh mereka. Ia berfikir jikalau saja ia adalah raza yang bertubuh besar dan jago karate, mungkin ia akan bisa menjadi penolong untuk wanita itu dan mengalahkan preman-preman itu. Namun ia sadar, kalau ia hanyalah seorang kutubuku yang berbadan lemah dan tidak mengerti tentang beladiri. Ia menjadi lemas dan berniat untuk pulang dan meninggalkan wanita itu.

“Toloongg....!”Tiba-tiba terdengar wanita itu berteriak dan terlihat para preman itu sudah mulai menarik-narik tasnya dan berusaha memegang tangan wanita itu.

Jiwa Akin memberontak mendengar jeritan wanita itu. Rasa marah mengalahkan ketakutannya.

“Aisyah!” spontan Akin berteriak dan keluar dari tempat persembunyiannya.

Preman-preman itu terdiam melihat Akin berdiri dihadapan mereka. Terlihat wanita itu merasa heran bercampur senang karena ada orang yang akan menolongnya.

“Siapa kau?” kata salah seorang preman itu.

“Aisyah, kamu kok belum pulang. Tadi kan katanya mau pergi ketempat nenek? Dari tadi nenek udah nunggu tuh dirumah.” Kata Akin sambil menutupi ekspresi ketakutannya dengan wajah kebingungan dan  seolah mengenal wanita itu. Ia menatap mata wanita itu tajam seolah memberikan sinyal kalau ini hanyalah sandiwara.

Wanita itu keheranan. Namun ia mengerti arti dari tatapan Akin. Ia pun berusaha mengikuti sandiwara itu.

“Oh iya. Aisyah sampai lupa. Rencana mau pergi tadi cuma dihadang dengan abang-abang ini.” Kata wanita itu sambil menunjukkan tangannya kewajah preman-preman itu.

“oh, lagi ada urusan ya. Kalau gitu gak apa deh. Lanjutkan aja. Ntar Akin bilang dengan nenek kalau Aisyah bakal pulang telat. Oke. Sampai jumpa!” kata Akin sambil tersenyum ketakutan dan melambaikan tangannya. Ia pun berbalik dan pergi.

Akin bingung dan ketakutan. Ia bertanya kedalam dirinya.  Apa yang baru saja ia lakukan? Kenapa ia bisa senekat itu? Ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk bisa menyelamatkan dan melawan preman-preman itu. Hampir saja ia terlibat kedalam peristiwa mengerikan itu. Mungkin menghindar dari masalah ini adalah pilihan yang benar. Ia tidak mau terlibat lebih jauh. Toh ia juga tidak kenal dengan wanita itu. Namun kemudian terdengar wanita itu memanggil-manggil namanya.

“Hei, tunggu! Tolong saya!” teriak wanita itu berusaha meminta tolong. Akin hanya terdiam seolah tidak mendengar dan pergi meninggalkan wanita dan preman-preman itu. Ia tidak mau terlibat kedalam masalah itu. Ketakutan mengalahkan rasa kepahlawanannya.

Hahahahaha.. bodoh kali cowok tadi. Gak tau apa dia kalau kita lagi ngerampok cewek ini!” kata salah seorang preman itu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ayo gadis cantik. Serahkan uangmu!” kata salah seorang yang lain sambil mengarahkan pisau kewajah wanita itu. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca dan mulai mengeluarkan air mata. Ia memohon kepada mereka agar tidak mengambil uangnya. Terlihat wajahnya begitu ketakutan.

“Wah, jangan nangis dong non. Tapi kalau dilihat-lihat cantik juga kalau kau nangis. Hahahaha!” kata salah seorang dari mereka sambil hendak memegang pipi wanita itu.

Tiba-tiba dari belakang preman-preman itu meluncur batu-batu besar dari arah semak-semak. Batu-batu itu mengenai kepala dan tubuh mereka. Mereka terkejut dan sangat marah. Salah seorang dari mereka berdarah kepalanya akibat benturan batu yang melayang kekepalanya tadi.

Woi!!! Siapa yang lempar batu ini hah?” kata salah satu dari mereka. Terlihat wajah mereka seperti ingin membunuh orang yang telah melempar batu kepada mereka tadi. Mereka sangat murka.

Seseorang keluar dari semak-semak dan tenyata dia adalah Akin.

Hei! Lepaskan wanita itu! Dasar preman tak tau diri!” kata Akin dengan wajah yang garang. Ternyata ia tidak jadi pergi meninggalkan wanita itu dianiaya oleh preman-preman itu. Karena ia yakin Allah telah mengirimnya untuk menyelamatkan wanita itu. Jadi ia pun tidak perlu takut karena Allah pasti akan menolong ia menghadapi preman-preman itu.

“Dasar Keparat kau!!!” preman-preman itu melepas cengkraman tangannya dari wanita itu dan berlari mengejar Akin.

“Astaghfirullah!!” Akin terkejut dan ketakutan melihat mereka berlari kearahnya dan seakan ingin membunuhnya.
 
Akin langsung lari sekuat tenaga menghindari preman-preman itu. Preman-preman itu pun mengejar Akin seperti srigala mengejar mangsanya. Akin dengan ketakutan terus berlari berusaha agar tidak tertangkap oleh preman-preman keji itu. Namun semakin lama kakinya terasa semakin berat. Nafasnyapun semakin berat. Jantungnya berdetak kencang dan kecepatannya pun menurun.

Preman-preman itu pun mengetahui kalau Akin mulai kelelahan dan segera mempercepat lari mereka agar bisa menangkap Akin. Akin yang sudah sangat letih tetap berusaha berlari karena jika tidak maka nyawanya mungkin akan berakhir disitu. Ia tidak mau mati muda. Apalagi mati tragis seperti itu.

 Ia melihat kiri dan kanan dan berbelok kearah lorong sempit. Preman-preman itu pun ikut berbelok kearah lorong itu dan terus mengejar Akin.

Akin pun dengan ketakutan terus berlari sambil memegang saku kemejanya agar mushaf alqurannya tidak jatuh. Sambil berlari ia berdoa pada Allah agar ia diselamatkan oleh kejahatan preman-preman itu. Akin melewati lorong-lorong sempit dan berbelok-belok. Ia melihat kearah belakang dan tidak ada terlihat lagi preman-preman itu. Ia pun berhenti untuk mengambil nafas dan bersyukur karena telah bebas dari mereka.

“Alhamdulillah ya Allah....” Akin berusaha mengatur nafasnya yang sesak itu karena kekurangan udara sambil memegang kedua lututnya seperti sedang ruku’ dalam shalat.

“Disini kau rupanya Kampret!” Tiba-tiba keluar preman-preman itu dari semak-semak dan mengejutkan Akin.

Akin berusaha untuk kabur namun jalan lorong itu ditutupi oleh tembok besar. Ia terjebak oleh kawanan preman-preman menakutkan itu. Salah seorang dari mereka mengeluarkan pisau dan terlihat dendam yang sangat besar karena kepalanya telah berdarah akibat batu yang dilempar Akin tadi.

Akin sangat ketakutan. Ia tidak tahu harus lari kemana lagi. Ia tidak bisa berfikir lagi dan keringatnya bercucuran deras. Jantungnya berdetak lebih cepat dan nafasnya semakin sesak. Badannya gemetaran dan ia pun hanya memegang mushaf dari luar saku kemejanya.

“Kau harus bayar darah yang keluar dari kepala aku ini!” kata salah seorang preman itu sambil memutar-mutar pisau lipatnya.

Akin yakin Allah akan menolongnya. Tapi bagaimana caranya? Tidak ada siapa-siapa disekitar lorong itu. Kalau berteriak pun tidak akan ada yang mendengar. Ia terus memegang mushaf di sakunya.

“Hahaha... mau lari kemana lagi kau? Kau harus bayar darah aku ini!” bentak salah seorang preman itu.

Akin semakin ketakutan. Kakinya gemetaran dan keringat menyucur deras diwajahnya. ketika preman itu hendak mengarahkan pisau kearahnya, Akin tiba-tiba mengeluarkan mushaf alqurannya dan mengangkat kelangit.

“Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!!” Akin bertakbir sambil mengangkat mushafnya keatas dan melihat kelangit. Ia menangis dan terus bertakbir. “Allahu Akbar! Allahu Akbar!!”.

Preman yang tadi hendak melukai Akin dengan pisaunya mulai gemetaran. Ia terlihat ketakutan. Tangannya seperti tak kuasa memegang pisau itu. Ia ketakutan mendengar takbiran Akin.

“Hei kenapa kau!” kata salah seorang dari preman itu kepada temannya.

“Aku takut jon. Dia panggil tuhannya untuk lawan kita.” Kata temannya dengan ketakutan.

“Ya Allah!! Bantulah hambamu ini ya Allah!! Musnahkanlah mereka dengan kekuatanMu ya Allah! Allahu Akbar!!Allahu Akbar!!!  Teriak Akin dengan suara yang besar dan sambil menangis.

Preman-preman itupun gemetaran. Mereka tiba-tiba takut mendengar teriakan dari Akin. Entah mengapa ada sesuatu yang mereka takuti dari pemuda yang sedang memegang alquran itu. Walaupun mereka tidak mengerti tentang islam, namun mereka merasakan ketakutan yang amat sangat. Nyali mereka ciut. Merekapun lari dari hadapan Akin dengan ketakutan.

Akin pun tertunduk lemah sambil meneteskan air mata. Senyum puas tersungging diwajahnya. Ia bersyukur Allah telah menolongnya. Ia tidak menyangka apa yang baru saja ia lakukan dapat membuat preman-preman tadi luntang-lantang lari ketakutan.

“Alhamdulillah” Seru Akin Memuja Rabbnya.

Bersambung...

Inspirasi Lainnya:

2 komentar

  1. Hahahaa....Perannya si Akin Pula itu,,
    Untung kagak jatuh tuh kaca mata..
    hahah

    ReplyDelete
  2. hahaha :D
    itu cuma pinjem nama kok ....

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^