Gaya Rambut

Monday, April 9, 2012 - 7:55 AM WIB - 3 Comments

Oleh : Aslan Saputra

Seperti biasanya, selesai mandi dan berpakaian, aku menyempatkan diri untuk menyisir rambut. Memang bagi seorang pria, penampilan rambut sangatlah utama, Walaupun jenis dan model rambutnya berbeda-beda. Biar tampang pas-pasan, yang penting rambut tetap trendi. Itulah motto beberapa pria yang peduli soal rambut. Begitu juga aku.

Kusisir rambutku perlahan-lahan sambil melihat ke arah cermin. Terkadang aku tersenyum sendiri. Rasanya aneh juga kalau melihat ekspresi saat menyisir rambut. Menyisir rambut seperti ini membawa pikiranku kemasa-masa silam. Masa ketika rambutku masih disisirkan oleh ibu. Zaman dulu paling tren adalah model belah samping. Rambutku yang lurus setelah diminyaki, disisir dominan kearah kanan dan sebagian lagi kearah kiri. Ibuku bilang mirip Andi Lau. Aku hanya mengangguk-angguk tanda setuju.


Melihat rambutku yang sekarang, tampak jauh berbeda. Mungkin pengaruh zaman yang semakin modern. Apalagi kini sudah mulai zaman digital. Entah seperti apa model rambut nanti. Kucoba menyisir model belah samping, mencoba melihat seperti apa wajahku dengan model rambut itu. Perlahan ku sisir, dan astaga! Aku terlihat seperti seorang kutubuku. Aku tak tahu sejak kapan model belah samping ini dipatenkan oleh kaum kutu buku dan kaum culun, namun karena mereka memakai model ini, mau tak mau dunia harus mencari model rambut yang lain. Walaupun jika dilihat-lihat aku terlihat keren dan terpelajar dengan gaya ini, namun ini bukan gayaku.

Kuacak-acak lagi rambutku. Sekarang malah mirip orang gila. Cepat-cepat aku sisir rambutku dengan model yang lain. Kini aku coba belah tengah. Kubagi bagian rambutku sama rata kiri dan kanan. Lama aku perhatikan wajahku dengan rambut gaya itu. Semakin lama tampak semakin aneh. Wajahku tampak seperti era 70-an, hanya tinggal menggulung lengan kemeja dan menaikkan kerah baju persis foto ayahku ketika SMA dulu. Aku terlihat kuno.

Ku acak-acak lagi rambutku. Kini kucolek sedikit minyak rambut. Di kemasannya ku baca “Hard Style”. Kuolesi rambutku dengan minyak rambut itu. Tanganku terasa lengket. Rambutku pun menjadi keras. Kucoba menaikkan rambutku kearah atas. Kini mirip seekor landak. Mirip gaya anak-anak punk di jalanan. Wah, ini terlalu gaul bagiku. Tidak cocok.

Kuturuni sedikit bagian belakangnya. Nah, ini agak keren. Mirip Afgan ketika manggung di acara music di TV tadi malam. Orang-orang menyebutnya Mohawk. Tak tahu aku apa artinya. Lama kuperhatikan model rambut ini. Ku memalingkan wajah kekiri dan kekanan untuk melihat gaya rambutku dari sudut pandang yang berbeda. Benar-benar keren. Namun, akupun mengacak-acaknya lagi. Aku tidak siap dengan gaya rambut seperti itu. Terlalu keren, tidak cocok dengan tampangku. Orang-orang pasti akan menyebutku sok keren. Aku tidak siap menerima fitnah.

Kuturunkan poni rambutku sehingga menutupi dahiku. Kuarahkan kearah kanan. Bagian atasnya aku luruskan kekiri dan kekanan. Dengan alis yang sesekali aku naikkan, mencoba agar poniku menutupi dahiku seluruhnya. Setelah selesai kurapikan, akupun terdiam sejenak. Lama kuperhatikan. Tak kuasa, akupun melepas tawa. Gaya ini sungguh aneh. Berharap mirip boyband Korea, malah kini hampir mirip gaya emo. Gaya ini pasti akan menjadi aib jika kugunakan.

Segera kunaikkan poniku kearah atas sehingga dahiku tampak kembali. Nah, sepertinya ini gaya yang cocok. Kunaikkan rambutku keatas sebagian. Kuatur sehingga terlihat seimbang. Kini kuperhatikan lagi model rambut ini. Wajahku terlihat panjang dengan jambul yang naik keatas. Kini mirip Jimmy Neutron. Ini pasti terlihat aneh di mata orang-orang. Akupun mengacak-acaknya kembali.

Tak kusangka, memilih gaya rambut yang sesuai saja memakan waktu yang sangat lama. Kulihat jam tanganku. Sudah hampir dua puluh menit aku berurusan dengan rambutku, tidak ada gaya yang sesuai. Harus bagaimana ini? Rambut seperti apa yang harus aku gunakan untuk pergi ke kampus hari ini?

Akupun menyisir kembali rambutku yang sudah keras akibat efek minyak rambut “Hard Style” tadi. Entah seperti apa kini, aku tidak peduli. Kusisir bagian kiri dan kanannya hingga terlihat rapi. Apapun komentar yang tersirat di pikiranku, aku buang jauh-jauh. Biarlah hari ini aku menjadi orang yang paling jelek di dunia dengan gaya rambut yang asal-asalan. Selesai merapikan rambut, akupun bergegas pergi ke kampus.

Selama perjalanan, aku merasa risih dengan gaya rambut yang aku pakai. Setiap ada cermin yang kulewati, kusempatkan untuk melihat rambutku. Mulai dari pintu mini market, kaca mobil hingga spion kendaraan bermotor. Sesekali kuperbaiki beberapa bagian yang terlihat tidak rapi. Namun tetap saja aku masih tidak percaya diri.

Kupalingkan wajah ke arah lain, tidak terasa aku melihat orang-orang berjalan disekitarku. Gaya rambut mereka berbeda-beda. Hampir semua gaya yang aku coba dirumah tadi kudapati pada mereka, bahkan hingga gaya belah tengah yang kupikir gaya kuno masih digunakan. Mereka dengan percaya diri terus melangkah menjalani aktivitas mereka, tentu saja dengan gaya rambut mereka masing-masing.

Sejenak ku terdiam. Tak kusangka masalah rambut yang begitu sepele bisa menguras energi dan pikiranku terlalu banyak. Mereka dengan  rasa syukurnya memakai gaya mereka masing-masing tanpa peduli perkataan orang. Kenapa aku yang seharusnya bersyukur karena masih diberikan rambut, protes dengan gaya rambut yang tidak sesuai. Bagaimana dengan mereka yang kini tidak memiliki rambut lagi, ada yang rontok, ubanan, ketombean, kutuan bahkan botak. Kenapa aku tidak bersyukur dengan rambut yang masih sehat ini?

Subhanallah, Allah memang menciptakan kita dengan beragam bentuk dan ukuran. Ada rambut yang lurus, keriting, hitam, putih, coklat, panjang dan pendek. Namun, masih banyak saja yang merasa tidak adil dengan rambut yang dimilikinya, termasuk aku. Ada yang awalnya keriting namun diluruskan. Bahkan ada yang awalnya lurus malah dikeritingkan. Allah pasti punya alasan kenapa memberikan kita model rambut seperti itu. Itulah Kuasa Allah.

Manusia memang selalu berorientasi pada penampilan. Padahal kecantikan hati adalah yang utama. Untuk apa wajah indah bak putra raja namun hati seburuk serigala.  Orang-orang yang hatinya indah dan ikhlas pasti selalu terpancar di wajahnya kecantikan dan kelembutan. Itulah kenapa banyak kita temukan orang-orang yang penampilannya tidak seberapa namun tak bosan-bosannya kita bersamanya. Ada yang indah parasnya namun terasa gerah jika berlama-lama dengannya.

Seharusnya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan cara melihat kebawah, melihat orang-orang yang saat ini hidup dengan segala kekurangan, bukan melihat orang-orang yang berada diatas. Itulah yang membuat kita selalu tidak puas dengan hidup ini. Bersyukurlah kawan dengan apa yang kita miliki, meski itu tidak kita senangi, namun yakinlah itu yang terbaik yang diciptakan Allah untuk kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

Banda Aceh, 8 April 2012
Aslan Saputra

Inspirasi Lainnya:

3 komentar

  1. Ternyata Aslan pernah galau soal rambut yak? Haha. Suka sekali dengan 3 bagian paragraf terakhir. ^^d

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^