Belajar Dari Anak-Anak

Friday, April 20, 2012 - 6:42 PM WIB - 0 Comments

Oleh : Aslan Saputra

Aku heran melihat tingkah adikku, Agung. Baru Kemarin ia bertengkar dengan temannya, kini mereka telah bermain bersama kembali. Padahal, kalau diingat-ingat, kemarin mereka bertengkar sampai keduanya menangis, bahkan saling membenci satu sama lain. Pertengkaran seperti itu pernah dialami oleh kakakku dan temannya, namun sampai sekarang mereka tak kunjung baikan. Ternyata hati anak-anak memang bersih. Hati mereka masih mampu memberi dan menerima maaf walaupun benci sempat tersisip dihati.

Masa kanak-kanak memang masa yang paling menyenangkan. Aku jadi teringat masa-masa ketika aku kecil dulu. Saat itu, saat masih belum bisa membersihkan ingus sendiri, aku sering berlari-lari sambil membawa sebuah mainan superhero. Aku memanggilnya Maximan. Dalam bayangan ku, Maximan adalah superhero yang sangat hebat. Ia mampu terbang sangat tinggi, gesit dan memiliki pukulan yang sangat mematikan. Mainan-mainan lain sering ku jadikan musuhnya. Namun, Maximan tak pernah terkalahkan.

Imajinasiku terkadang membawaku kedunia baru. Ruangan yang awalnya adalah ruang tamu, tiba-tiba berubah menjadi arena tempur penuh darah. Kamar mandi dengan bak air yang agak besar, menjadi lautan yang luas dengan monster-monster yang menakutkan. Pekarangan rumah yang dipenuhi bunga-bunga koleksi ibu, berubah menjadi hutan belantara dengan puluhan makhluk mengerikan. Terkadang aku dimarahi karena banyaknya bunga-bunga yang layu dan rusak.

Semua yang aku lakukan ketika kecil, selalu dilalui dengan gembira dan ceria. Bisa mencoba banyak hal tanpa takut gagal. Ketika waktu baru belajar sepeda dulu, entah berapa kali aku jatuh. Namun, semakin jatuh malah semakin penasaran. Lama-lama akhirnya aku juga bisa mengendarai sepeda, bahkan sampai melepas kemudi. Perasaan tidak takut gagal itu, benar-benar kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Aku rindu masa-sama itu.

Terkadang, karena terlalu polos, aku sering dijadikan target kejahilan kakak-kakak ku. Ditipu dan di manfaatkan. Kepolosan kita ketika masih kecil, sering membuat kita mulai melakukan riset dan penelitian lebih dalam. Tentang kenapa burung bisa terbang, kenapa rumah bisa dibangun kokoh, tentang makhluk lain yang terkadang baru pertama kita jumpai. Kepolosan itu, membuat kita menjadi sosok peneliti yang sangat hebat. Tak ayal, kegembiraan langsung datang ketika kita mampu mengetahui sebab masalah yang baru saja kita teliti.

Yang lebih hebatnya, seperti adikku Agung, memaafkan teman ku ketika itu tidak sesulit memaafkan kesalahan orang saat ini. Dalam pikiran, marah yang kemarin kita lampiaskan kepada teman kita, seakan-akan tidak pernah terjadi. Tanpa beban, kita langsung bermain dengannya tanpa peduli dengan kenakalannya kepada kita. Itulah kepolosan anak-anak. Dengan hati yang bersih, rasa marah bisa hilang dalam sekejap.

Yang lebih lucu, ketika aku melihat adikku sendiri bermain dirumah. Dengan mainan-mainan seadanya, ia terlihat seperti seorang sutradara film box office. Berbicara sendiri sambil menggerak-gerakkan mainannya, bahkan terkadang larut dalam emosinya sendiri. Itu sangat natural. Persis ketika aku masih kecil dulu. Imajinasi saat itu sungguh benar-benar luar biasa. Bahkan bisa saja mengalahkan serunya film harry potter ataupun film-film petualangan lainnya.

Imajinasi yang sering kita gunakan ketika masa kanak-kanak dulu, sebenarnya masih kita perlukan hingga kini. Imajinasi itu dapat berguna untuk menyelesaikan masalah-masalah kita dengan lebih kreatif dan efisien. Yang mengecewakan, kita malah membunuh imajinasi itu dengan rutinitas-rutinitas yang membosankan. Bahkan, sesekali menertawakan anak-anak yang sedang bermain. Yang patut kita pahami adalah seiring menghilangnya imajinasi tersebut, maka akan semakin jauhlah kita dari rasa bahagia yang pernah kita rasakan ketika masih kecil dulu. Itu sangat berbahaya.

Ah, melihat adikku agung, rasanya aku ingin kembali ke masa-masa kecil dulu. Masa-masa ketika rasa ingin tahu menyesakkan dada. Masa-masa ketika imajinasi menghias aktivitas sehari-hari. Walau itu jelas tidak mungkin. Namun, setidaknya kenangan manis itu masih tetap dapat kurasakan. Semoga perasaan ini bisa bertahan hingga aku tua nanti. Aku tidak ingin perasaan anak-anakku ditelan usia dan zaman. Aku ingin perasaan anak-anak ini akan terus membuatku menjadi pribadi peneliti, pribadi yang mampu memaafkan kesalahan orang lain, pribadi yang memiliki segudang ide dan semangat baja. Aku tetaplah aku yang dulu. Aku yang masih suka tersenyum melihat luasnya dunia, dunia yang sebentar lagi akan kujelajahi.

Inspirasi Lainnya:

0 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^