Sayang Kami pada Kalian Sama

Friday, June 29, 2012 - 9:19 PM WIB - 2 Comments

Oleh : Aslan Saputra

Sudah dua hari Andi tidak mau bicara dengan ayah dan bunda nya. Ketika waktu makan bersama pun, Andi tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka, walau hanya tegur sapa. Terkadang ibunya menanyakan aktivitas sekolahnya sepulangnya dari sekolah. Namun, Andi hanya menjawab “Andi lelah bunda”. Kedua orang tua nya merasa aneh dengan sikap Andi akhir-akhir ini. Mereka tidak tahu penyebab perubahan sikap Andi. Untuk bertanya pada Andi pun tidak pernah bisa.

Dirumah, Andi selalu mengurung diri dikamar. Sesekali ia keluar hanya untuk makan dan ke kamar mandi. Arif, adiknya yang masih dua tahun, terkadang juga sering mengajaknya bermain. Namun Andi menolaknya dan kembali kekamar. Ayah dan bunda nya semakin pusing dengan tingkah Andi. Andi yang kini duduk di kelas enam sekolah dasar, telah menunjukkan perubahan sikapnya kepada kedua orang tuanya.
Dikamar, Andi terus-terusan memeluk gulingnya dibalik selimut tebalnya. Sesekali ia membalikkan tubuhnya kearah berlawanan, sejenak kemudian ia balikkan lagi tubuhnya. Hingga akhirnya ia membuka selimutnya dan bangun. Wajahnya masam. Bukan karena baru bangun tidur, jelas Andi selalu bangun sebelum adzan shubuh. Tadi pagi ia juga ikut shalat berjamaah di Masjid. Ketika selesai shalat ia buru-buru pulang agar tidak berpapasan dengan ayahnya dijalan yang juga baru pulang dari Masjid. Ia benar-benar heran dengan tingkah kedua orang tuanya. Padahal ia kan anak kandung mereka, tapi kenapa sikap orang tuanya padanya benar-benar berbeda. Mereka selalu lebih memperhatikan Arif daripadanya. Ketika rebutan kue, selalu Arif yang dibela. Ketika arif merusak tugas kerajinan tangannya minggu lalu, malah Andi yang kena marah. Dengan modal tangisan Arif yang membuatnya kesal, seluruh isi rumah seketika lupa siapa dirinya. Bahkan terkadang membuatnya menjadi benar-benar terlihat jahat didepan Arif.
Ini tidak adil. Andi mencoba menguatkan pendapatnya tentang ketidakadilan ayah bunda nya. Sebenarnya ia bisa saja menyalahkan Arif, karena sering mengganggunya dan akhirnya membuatnya di marahi ayah bunda nya. Tapi Arif tidak sepenuhnya salah, apalagi ketika ia mengingat wajah lucu Arif ketika tertawa, dan ketika memasukkan kue coklat kemulutnya hingga terlihat seperti kubangan lumpur, benar-benar menggemaskan. Semua ini salah orang tuanya. Kenapa mereka selalu memberikan keputusan sepihak tanpa pernah mempertanyakan pokok permasalahannya. Selalu saja membuatnya menjadi tokoh penjahat dalam setiap pertengkarannya dengan Arif.
Ah, ia jadi merasa bersalah dengan Arif. Tidak seharusnya ia tolak ajakan Arif untuk bermain tadi. Arif kan tidak salah apa-apa. Lagi pula ia masih kecil. Nangis itu kan biasa bagi anak sekecil Arif. Andi pun bangun dari tempat tidurnya dan mengambil tas ranselnya di meja belajar. Ia memeriksa isi tasnya dan mengeluarkan dua bungkus coklat kesukaan Arif. Kebetulan disekolah tadi Andi sengaja membelikan satu untuk diberikan kepada Arif. Dengan semangat, iapun keluar kamar dan mencari Arif.
Arif tengah sibuk menyusun balok-balok kecil berwarna-warni. Niatnya sih mau buat istana kerajaan. Disebelahnya sudah menunggu sebuah mainan dinosaurus hijau, yang sebentar lagi akan menyerang kerajaan. Hampir diseluruh sudut istana ia taruh beberapa mainan tentara lengkap dengan senjatanya. Dalam benaknya, kali ini pertarungan antara kerajaan dengan monster jahat harus lebih seru. Robot power ranger yang berperan sebagai kesatria kerajaan harus mampu mengalahkan monster jahat. Pokoknya kali ini harus benar-benar seru.
Andi yang melihat Arif sedang bermain segera mendatanginya. Arif yang masih serius dengan permainannya tidak memperdulikan Andi yang kini telah berada di hadapannya.
“Wuih, main apa ni rif?”
“Main perang kerajaan kak! Ini lagi bangun pertahanan untuk menghadapi monster jahat.”
“Wah, kakak boleh ikutan main?”
“Boleh kak, kakak jadi monster jahatnya ya”
“Boleh-boleh. Biar kakak yang jadi monster jahatnya”
Andi pun berganti peran menjadi monster jahat. Ia meraung-raung hingga nyaris menyerupai suara moster jahat.  Arif juga tidak mau kalah. Ia menggerakkan tentara-tentaranya dan melepaskan tembakan-tembakan kearah monster, tapi moster itu tidak mempan. Arif pun mengambil Power Rangernya dan menerbangkannya kearah monster jahat. Power ranger itu mengarahkan tembakan-tembakan supernya kearah monster. Tembakan itu tepat sasaran dan monster pun meraung kesakitan. Tidak lama kemudian, monster itu mengeluarkan api dari mulutnya dan mengarahkannya kearah Power Ranger. Dengan efek suara yang dibuat Andi, ia mengarahkan tangannya yang seakan-akan adalah bola api dari monster itu dan menghantam keras kearah tangan Arif yang sedang memegang mainan Power Ranger. Power ranger itu pun terhempas kearah istana dan merobohkan susunan balok-balok yang dibuat Arif tadi. Seluruh istana menjadi berantakan.
“Ih, apalah kakak ini! Kakak curang! Lihat ni udah capek-capek Arif buat kakak hancurin” Arif protes. Setelah melihat istananya hancur, ia melotot kerah Andi.
“Eh, kok salah kakak? Kan Arif yang kalah. siapa suruh gak menghindar waktu kakak serang!” Andi mencoba membela diri.
“kakak curang! Masa’ kuat kali kakak serangnya. Lihat tu udah berantakan semua. Pokoknya kakak harus ganti.”
“eh, salah Arif lah! Kakak kan cuma main aja. Siapa suruh istananya jelek gitu”
“Pokoknya kakak harus buatin lagi”
“Gak mau!”
“Buat!”
“Enggak!”
Mata Arif mulai berair. Seketika itu juga ia menjerit dan mengeluarkan jurus pamungkasnya, teriakan disertai tangisan. Tangisannya benar-benar membuat Andi jengkel. Sebenarnya untuk apa coba nangis karena masalah seperti ini. Tapi kalau ia disuruh untuk membangun istananya lagi, ia tidak mau. Toh itu kan bukan salahnya. Siapa suruh Arif tidak menahan serangannya tadi.
Bunda yang mendengar tangisan Arif turun kelantai bawah, ketempat Andi dan Arif yang sedang saling omel tidak karuan. Tangisan Arif membuat semua orang yang ada dirumah berkumpul, kecuali Ayah yang belum pulang dari kantor sejak tadi pagi.
 “Ada apa ini Andi?” Kata bunda sambil mencoba menenangkan Arif yang belum berhenti menangis.
“Istana buatannya rusak Bunda. Trus dia malah nyuruh Andi untuk perbaiki, padahal kan itu salahnya dia sendiri Bunda” kata Andi mencoba membela diri.
“Mana ada bunda! Kak arif tu yang kuat kali mukul mainan Arif, trus jatuh kearah istana. Padahal kan udah capek-capek Arif buatnya” Kata Arif sambil terisak-isak.
“Udah-udah. Andi, tolong kamu perbaiki ya istana Arif” Bunda mencoba memberi solusi.
Lagi-lagi bunda secara sepihak memberikan keputusan. Padahal ini kan bukan salahnya Andi. Kalau ditanya siapa yang harus perbaiki istana Arif, ya Arif sendiri, bukannya Andi. Bunda gak adil. Selalu saja harus Andi yang mengalah. Sekali-kali Arif kenapa.
“Andi gak mau! Bunda jahat!” Andi mencampakkan dua bungkus coklat yang tadi rencana satunya akan diberikan kepada Arif kemudian berlari menuju kamarnya. Setelah masuk ia tutup pintu kamarnya dengan keras. Arif yang mendengar suara pintu yang cukup keras itu pun terdiam. Bunda juga masih kaget dengan perkataan Andi yang baru saja didengarnya. Bunda jahat!
***
Peristiwa tadi pagi begitu mengejutkan bagi bunda. Setiap ada pertengkaran antara Andi dengan Arif, Andi memang selalu berontak. Tapi baru tadi pagi Andi melontarkan kata-kata yang membuat Bunda belum tidur tengah malam begini. Kata-kata itu begitu membuatnya resah.
Ayah yang melihat kegundahan bunda, mencoba menghibur. Sejak Ayah dan Bunda menikah dulu, Ayah selalu menjadi tempat bunda untuk bercerita dan meminta nasehat. Bagi Bunda, Ayah adalah sosok suami yang begitu baik.
“Kenapa sayang? Andi dengan Arif bertengkar lagi?” kata Ayah sambil memegang tangan Bunda.
“Iya Ayah, Bunda jadi bingung dengan diri Bunda sendiri, memang apa yang udah Bunda lakukan hingga Andi bilang Bunda jahat” Bunda mulai hanyut dengan perasaannya.
“Bunda, kita harus sabar menghadapi anak-anak kita. Jangan sampai kita kalah dengan diri kita sendiri. Bukankah mendidik mereka merupakan tanggung jawab kita bersama? Jadi Bunda gak boleh menganggap Bunda gagal mendidik mereka, karena itu juga tanggung jawab Ayah. Masalah Andi, biar Ayah yang coba tangani. Mungkin masalah ini akan selesai setelah dilakukan pembicaraan antar lelaki dewasa nanti” kata Ayah setengah tertawa sambil membusungkan bahunya, sehingga bagian bawah bajunya terbuka dan tampaklah perutnya yang gendut.
Bunda pun tertawa melihat tingkah Ayah. Ada-ada saja cara Ayah untuk menghibur Bunda. Bunda selalu bersyukur memiliki suami seperti Ayah.
***
Malam sudah larut, tapi Andi belum juga tidur. Ia masih marah dengan ketidakadilan Bunda tadi pagi. Perutnya juga keroncongan, sejak siang tadi ia tidak makan dan terus mengurung diri dikamar. Bagi Andi, lebih baik tidak makan daripada harus mengalah lagi dengan Arif. Toh ia tidak salah. Walaupun ia masih kelas enam sd, tapi dia tahu bagaimana mempertahankan harga diri. Kebetulan kemarin ada pelajaran sejarah yang menceritakan ketika Indonesia mempertahankan harga dirinya untuk tidak bisa dijajah lagi oleh negara manapun. Bagi Andi, ia harus bisa sekuat pahlawan-pahlawan revolusi. Merdeka!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Andi. Andi terkejut. Ini kan udah malam, siapa pula yang ketuk-ketuk pintu kamarnya. Suasana sunyi, membuat nyali nya ciut. Segera ia tutup dirinya dengan selimut tebalnya. Mendekap dalam-dalam.
“Andi, sudah tidur? Ayah mau ajak kamu makan sate ni. Kamu mau ikut? Kata Ayah dari balik pintu kamar Andi.
Ah, ternyata Ayah. Hampir saja ia berteriak karena mengira ada hantu yang mengganggunya. Tapi, tunggu dulu. Ia kan masih marah dengan ayah. Untuk apa ia buka pintu. Pura-pura tidur saja lah. Tapi, perutnya terus bergejolak menagih haknya. Lagipula, sate adalah makanan favoritnya. Sudah lama ia tidak makan sate. Oh iya, Andi kan marahnya sama Bunda, bukan sama Ayah. Sepertinya tidak apalah jika ia menerima ajakan Ayah. Lagipula sepertinya Bunda juga sudah tidur, jadi itu tidak akan menjatuhkan harga dirinya.
“Belum yah. Makan dimana yah?” kata andi basa-basi.
“Di warung Tengku Ayyub. Ayo kita pergi. Ayah tunggu di ruang tamu ya”
“Iya Ayah”
Akhirnya Ayah dan Andi pun pergi ke warung Tengku Ayyub yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Selang dua rumah, trus belok kearah kanan. Nah, disitulah warung sederhana Tengku Ayyub. Setelah memesan dua sate kacang plus telur rebus. Ayah pun memulai pembicaraan antar lelaki dewasa yang dikatakannya pada Bunda tadi.
“Andi, tadi sore Ayah jumpa dengan Sari. Dia tanya kamunya kemana. Terus ayah bilang kalau kamu lagi dikamar. Lagi sakit gigi”
“siapa yah? Sari? Waduh yah. Kok ayah bilang sih kalau Andi sakit gigi. Dia tuh orangnya cerewet banget yah. Besok disekolah pasti disebarin ke kawan-kawan kalau Andi sakit gigi. Kan malu yah” kata Andi sambil memukul jidatnya yang agak besar.
Ayah tertawa. Ekspresi wajah Andi benar-benar lucu. Tidak disangka Andi yang dulu masih naik dipundak Ayah kini sudah agak besar. Lagipula sudah tidak lama obrolan ayah-anak seperti ini terjadi. Ayah sangat senang. Tengku Ayyub pun ikut tertawa melihat ekspresi Andi yang lucu itu sambil membawa dua piring sate plus telur rebus.
“Yah, Bunda kok jahat sih dengan Andi. Setiap Andi berantem dengan Arif, Selalu aja Andi yang disalahin. Padahal kan, Andi enggak salah Yah. Yang salah itu Arif” kata Andi sambil menusuk-nusuk ketupat yang dipotong-potong di piring sate. Sudah tiga tusuk sate ia lahap dengan cepat. Maklum, dari tadi siang Andi belum makan.
“Andi, kamu ingat gak waktu Arif dulu sakit demam sampai tiga hari?”
“Ingat yah, waktu itu Arif sakit karena habis nangis seharian kan?”
“Benar Andi. Kamu tahu kenapa Arif waktu itu bisa nangis?”
“Enggak tahu yah. Kenapa yah? Karena Andi ya?”
“Hari itu kamu kan mau pergi kemah yang diadakan sekolah kamu. Nah Bunda diam-diam ada menaruh kue yang banyak ke tas ransel kamu. Kebetulan waktu itu Arif lihat, akhirnya dia juga  minta kue itu. Tapi bunda gak kasih, karena itu untuk kamu makan saat kemah nanti. Akhirnya Arif ngambek trus nangis deh. Padahal waktu kamu udah berangkat, Ayah beliin kue yang sama seperti kue yang bunda kasih untuk kamu, tapi Arif tetap gak mau. Dia cuma mau kue yang di ransel kamu. Karena terus-terusan nangis, akhirnya dia sakit sampai kamu pulang kerumah.” Kata ayah setelah menyeruput kopi panas yang juga baru diantar Tengku Ayyub.
“Andi pikir Arif nangis karena Andi yah” Andi tertegun setelah mendengar cerita dari Ayah.
“Andi, sebenarnya Ayah dengan Bunda itu sayang dengan Andi, juga sama Arif. Ayah dan Bunda gak pernah lebih sayang Arif daripada Andi, atau juga sebaliknya. Gak pernah ada yang lebih, keduanya sama. Adakalanya Ayah dan bunda marah dengan kalian juga bukan karena Ayah dan Bunda benci atau marah, tapi karena Ayah dan Bunda sayang dengan kalian.
“Andi sebagai kakak juga harus mengalah dengan Arif. Arif kan masih kecil. Dulu aja Andi malahan lebih bawel dari Arif. Bunda aja kadang-kadang gak tega kalau harus marahin kamu. Tapi Bunda juga gak mau kalau Arif sampai sakit lagi seperti dulu. Kamu juga harus mengerti Andi”
Andi tertegun sejenak mendengar nasehat dari ayahnya. Memang benar, tidak seharusnya tadi pagi ia mengatakan Bunda jahat. Padahal bunda juga sayang terhadapnya. Ia juga tidak mau kalau Arif sampai jatuh sakit lagi. Toh, ia juga belum bisa menjadi kakak yang baik untuk Arif. Seharusnya ia juga harus banyak mengalah pada Arif. Seperti tadi pagi, yang mengajaknya bermain kan Andi. Coba kalau Andi tidak mengajak Arif bermain, pasti Istana yang dibangun Arif tidak akan roboh. Selama ini Andi protes kalau ia dituduh jahat, tapi kali ini ia sadar kalau ia benar-benar telah jahat kepada Arif, juga kepada Ayah dan Bunda.
“Yah, maafin Andi ya. Selama ini Andi udah Jahat sama Ayah, sama Bunda, sama Arif” kata Andi sambil mencium tangan Ayah.
“Andi, ayah gak pernah menganggap Andi jahat. Andi itu anak yang Baik kok” Kata ayah sambil mengusap rambut lebat Andi.
Andi pun tersenyum dan berjanji tidak akan ngambek lagi kalau bertengkar dengan Arif. Dan juga berusaha untuk tidak bertengkar lagi dengan Arif. Andi pun memesan sebungkus Sate lagi kepada Tengku Ayyub. Rencananya sih mau dikasih untuk Bunda sebagai tanda maaf Andi karena tadi pagi udah bilang Bunda jahat. Ayah juga bilang kalau Bunda pasti belum tidur karena menunggu mereka berdua. Paling enggak, sate itu bisa jadi jawaban, kalau Andi juga sayang Bunda. Mulai malam itu, Andi berjanji akan menjadi kakak yang baik bagi Arif, dan akan menjadi anak yang baik bagi ayah dan bunda.

Inspirasi Lainnya:

2 komentar

  1. tulisannya easy reading ^_^
    kunbal ya lan..

    ReplyDelete
  2. Memang lagi nyoba gaya bahasa ringan ru.. rencananya sih untuk bacaan anak-anak..

    Siip ^.^

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^