Berdamai dengan Nafsu

Monday, July 16, 2012 - 9:33 PM WIB - 0 Comments


Oleh : Aslan Saputra

Semalam aku terlibat pembicaraan menarik dengan temanku mengenai nafsu setelah mengupdate status yang isinya kurang lebih :
Ketika berhadapan dengan hawa nafsu, hanya ada dua pilihan : Pertama, Menyerah dan mengikuti hawa nafsu dan kedua Melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Tidak ada pilihan DAMAI.

 Menarik memang. Dipilihan pertama jelas merupakan pilihan yang konon di hindari oleh sebagian orang demi kebahagiaan hidupnya, walaupun akhirnya juga terjerumus. Naudzubillah. Sementara di pilihan kedua, merupakan satu-satunya pilihan yang tersisa. Tapi tunggu dulu, ketika berbicara “Melawan dan mengendalikan hawa nafsu”, ada dua makna yang agak provokatif pada pilihan kedua tersebut.

Nah, inilah yang menjadi pokok permasalahan. Apakah kita harus melawan hawa nafsu? Apakah kata-kata melawan itu tidaklah ekstrim? Mengingat segala sesuatu yang dipaksa dan dilawan akan menimbulkan efek yang tidak baik atau bahkan tidak maksimal? Tidak bisakah kita merangkul hawa nafsu dan berdamai padanya? Toh kalau segala sesuatu yang dimulai dengan permulaan yang baik, tentu hasilnya nanti akan baik pula. Lagipula kita juga membutuhkan hawa nafsu untuk dapat hidup dan berkembang didunia ini, iya gak?

Oke, sebelum itu mari kita definisikan dulu tentang makna nafsu. Nafs dapat berarti jiwa, hal itu diterangkan dalam Alquran surah AlFajr ayat 27 yang berbunyi, “Yaa Ayyatuhannafsul muthmainnah.” yang artinya Wahai jiwa-jiwa yang tenang, juga pada surat AlQiyamah ayat 2 yang berbunyi, “Wala uqsimu binnafsil lawwamah.” yang artinya Dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri). serta pada surat Yusuf ayat 53 yang berbunyi, “Wama ubarriu nafsii, innannafsa laammaratun bissuu’.“ yang artinya Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.

Dari ketiga ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa nafsu terbagi tiga, yaitu nafsu Muthmainnah (jiwa yang tenang), Lawwamah(pencela) dan ammaratun bissuu’(mendorong kepada kejahatan). Ketika nafsu yang kita miliki adalah ammaratun bissuu’, apalagi sampai lawwamah, maka pastilah kita tidak akan mungkin bisa berdamai dengan mereka. Boro-boro damai, untuk bisa lepas dari buaian mereka juga susahnya minta ampun.

Memang benar, kita tidak akan bisa hidup tanpa hawa nafsu. Bayangkan kalau nafsu kita hilang, maka makan pun tidak selera, bekerja pun tidak semangat dan keturunan juga terputus. Tapi bukan berarti semua itu menjadi alasan untuk berdamai dengan hawa nafsu. Bukan berarti kita harus terpaksa menyerah demi kelangsungan hidup.

Kawan, ketika kita mengatakan kita akan bisa mengendalikan hawa nafsu tanpa perlu melawannya terlebih dahulu, jelas itu akan sangat sulit. Bagaimana mungkin kita bisa mengendalikannya sementara mengalahkannya juga tidak pernah bisa. Ibarat ingin berlayar tapi tak pandai menahkodai kapal, ya akhirnya kapal akan terombang-ambing mengikuti arah angin dan gelombang ombak.

Nafsu jika dibiarkan, maka ia akan terus menjerumuskan kita kepada keinginan dan syahwat. Jika kita tidak membentengi diri dan melawan, maka tentu saja keinginan kepada syahwat itu akan semakin besar. Nafsu makan yang tidak terkontrol akan menyebabkan manusia lepas kendali dan memakan apapun yang ia lihat tanpa memperdulikan haram dan halalnya. Nafsu untuk mencari kekayaan jika tidak dikontrol maka akan menjerumuskan kepada korupsi dan praktek haram lainnya. Nafsu syahwat jika tidak terkontrol maka akan membawa kita kepada perzinaan yang jelas di murkai oleh Allah SWT. Naudzubillah.

Allah SWT telah lebih dulu mengingatkan kita dalam surah Asy-Syams ayat 7 dan 8 yang berbunyi “Wanafsin wa ma sawwaha. Fa alhamaha fujuraha wataqwaha.” Yang artinya demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya). Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. Dalam ayat ini, Allah mendahulukan kejahatan jiwa daripada ketaqwaannya. Hal itu diperjelas pada ayat selanjutnya yang berbunyi, “Qad aflaha man zakkaha, wa qad khaba man dassaha.” Yang artinya sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. Jelasnya, keberadaan hawa nafsu itu juga harus kita waspadai karena ia akan selalu membawa kita kepada kejahatan.

Sejatinya, nafsu harus lah dilawan. Salah satu caranya adalah dengan mengikatnya dengan keimanan dan ketaqwaan. Dengan begitu, nafsu akan dapat kita kendalikan sesuai syariat Allah SWT dan tuntunan RasulNya. Pun kita juga akan terhindar dari dorongan nafsu kepada kejahatan.

Ketika kita berbicara damai, tentunya terdapat keadaan dimana tidak ada yang dirugikan diantara kedua belah pihak. Jika kita berdamai dengan hawa nafsu, tentulah kita juga harus memberikan sedikit kelonggaran kepada hawa nafsu untuk bertindak. Jelaslah itu berbahaya. Sedikit saja kita lengah terhadap hawa nafsu, maka hawa nafsu akan terus mendorong kita untuk terus dan terus menurutinya. Bukankah hawa nafsu selalu mengajak kita kepada kesenangan? Percayakah anda akan mampu meninggalkan segala bentuk yang membuat anda senang dan nyaman?

Imam Al Ghazali mengatakan nafsu itu berbahaya karena dua perkara, yang pertama karena nafsu itu musuh dari dalam. Ketika seorang musuh berada didalam, maka seluruh antisipasi kita terhadap musuh tersebut adalah sia-sia, karena ia bisa dengan mudah mengintervensi setiap tindakan kita untuk melakukan suatu pencegahan terhadap maksiat. Bisa berupa nalar logika, juga bisa membingungkan kita sehingga tidak sadar antara yang benar dan yang salah. Untuk itu perlunya pengamanan dari dalam, yaitu dengan benar-benar mengendalikan hawa nafsu dengan iman dan taqwa.

Yang kedua, nafsu itu selalu mengajak kita kepada sesuatu yang kita cintai. Ketika kita berhadapan kepada sesuatu yang kita cintai, maka itu akan lebih sulit. Mau melakukan apapun, pasti perlu berfikir lama. Bahkan terkadang kita tertipu ajakan nafsu. Misalnya menunda shalat karena belum selesai bermain game. Kan tanggung sedikit lagi mau selesai. Nah, secara tidak langsung kita telah mengikuti hawa nafsu. Itulah yang membuat nafsu sulit untuk dilawan. Dengan tidak kita beri kelonggaran saja nafsu akan terus mengajak kita kepada kejahatan, apakah kita mau memberikan dia kekuatan lebih dengan memberikan sedikit kelonggaran kepada hawa nafsu? Astaghfirullah.

Ketika kita ingin berusaha untuk melawan hawa nafsu, lalu timbul pemikiran untuk berdamai dengannya, sadarilah bahwa itu juga bujukan dari hawa nafsu. Ia tidak akan rela menyerah. Dengan segala alasan ia akan tetap mengintervensi usaha kita untuk melawannya. Untuk itu, jangan pernah berikan peluang untuk hawa nafsu.

Jadi, tidak ada kata DAMAI untuk hawa nafsu. Jelas kita harus melawan dan mengendalikannya agar hidup ini sesuai dengan syariat Allah dan tuntunan RasulNya. Bukan berarti ketika kita berhasil melawan lantas nafsu itu jadi tidak berguna lagi. Malahan, ketika kita berhasil mengendalikan hawa nafsu, maka kita akan mudah membawanya menuju kejalan kebaikan dan ketaatan tanpa ada intervensi apapun. Bahkan syaitan pun akan lebih sulit merayu kita mengingat sekutunya telah berhasil kita taklukkan. Nah, barulah kita merasakan nikmat hidup yang sesungguhnya. Hidup dalam bingkai Islam. Bayangkan ketika seluruh aktivitas dan ibadah kita lakukan dengan penuh semangat dan bernafsu? Ingin cepat-cepat shalat, ingin cepat-cepat bersedekah, ingin cepat-cepat naik haji, ingin cepat-cepat menikah (Bagi yang belum menikah).

Cara mudah untuk mengendalikan hawa nafsu yang pertama sekali adalah memohon kepada Allah SWT agar memberikan kita hidayah dan jiwa yang tenang (Nafsu Muthmainnah). Allah lah yang memberikan kita nafsu, maka kepada Allah juga kita meminta agar nafsu itu dapat kita kontrol. Seperti do’a Abu Bakar ketika dirundung kegundahan, “Ya Muqallibal quluubi, tsabbit qalbi ‘ala diinika” yang artinya, Wahai Dzat yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agamaMu.

Kemudian kita bisa melatih diri dengan melakukan amalan-amalan sunnah yang dituntun oleh Rasulullah SAW seperti shalat, berpuasa, bersedekah dan melakukan amalan-amalan lainnya. Memang awalnya berat, tapi yakinlah ketika kita terus berusaha dan bertahan untuk melakukannya, niscaya amalan itu akan menjaga kita dari pengaruh buruk hawa nafsu, bahkan kita akan sedih ketika ada suatu amalan yang kita tinggalkan dengan sebab hawa nafsu. Sesungguhnya Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Wallahu ‘alam

Inspirasi Lainnya:

0 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^