Wana Warni FLP

Wednesday, March 13, 2013 - 12:09 AM WIB - 0 Comments

Oleh : Aslan Saputra

Jika berbicara tentang warna, aku sebagai seorang yang gemar memadukan warna-warna hingga menjadi suatu karya yang menurutku benar-benar artistik, punya banyak cerita. Bayangkan, beberapa warna saja jika kreatif memadukannya, maka akan elok dipandang mata. Begitu pula sebaliknya, jika ‘terlalu’ dalam memadukan warna, maka yang terjadi adalah norak dan bahkan bisa-bisa sakit mata.

Kalau dicermati lagi, disekitar kehidupan kita sehari-hari juga punya banyak warna. Bahkan terkadang, dengan warna kita bisa menjelaskan lebih banyak hal sampai ke hal-hal yang kadang kita sendiri sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Ya, warna punya banyak cara untuk menghubungkan hati-hati yang berserakan diluar sana. Dengan warna, kita bisa tahu seberapa eratnya arti persahabatan dan kekeluargaan. Tidak percaya?

Pengalaman pertamaku mengikuti kelas di FLP benar-benar sangat berkesan. Padahal saat itu aku masih baru memasuki rumah FLP, tapi entah kenapa seakan-akan aku seperti seorang menantu yang baru memasuki rumah mertuanya. Duduk santun disuguhi pertanyaan-pertanyaan akrab. Simpul-simpul senyuman pun bertebaran memenuhi Rumah Cahaya. Sepulang dari kelas itu, sesuai tuntunan Bang Roby, akupun segera bergabung di Grup Facebook Forum Lingkar Pena Aceh. Serasa aku menemukan keluarga yang baru.

Sebelum aku memberitahu warna apa yang aku temukan di FLP, ada baiknya kau  tahu seperti apa warna yang nantinya aku maksudkan. Jika sering berkunjung ke Wikipedia, secara sederhana pasti kita sudah tahu kalau warna itu dipengaruhi oleh suhu. Lihat saja, ketika sebuah besi dipanaskan, maka warna besi itu akan berubah seiring bertambah panasnya suhu yang diberikan kepada besi tersebut. Awalnya merah, kemudian menjadi orange, kuning, putih hingga akhirnya menjadi biru. Secara singkat, begitulah suhu mempengaruhi sebuah warna.

Contoh lain, cobalah berkunjung ke laut diwaktu-waktu yang berbeda. Pasti kau akan melihat perubahan warna laut disetiap waktunya. Begitu juga dengan langit, ketika mendung, terik dan teduh semuanya menunjukkan warna yang berbeda. Kita tidak berbicara mengenai faktor-faktor lain, seperti pengaruh rambat cahaya ataupun faktor-faktor lainnya yang bisa kau temukan di buku pelajaran Fisika yang menurutku lebih seram dari cerita horror karangan Stephen King. Yang jelas, warna suatu benda itu akan selalu berubah-ubah.

Di FLP, warna-warna yang kutemukan begitu variatif. Ada suasana dimana para anggota FLP saling bicara tentang kehidupannya, kelucuan yang ada dirumahnya, semua itu dimataku seperti lukisan abstrak yang didominasi warna hijau. Penuh perhatian dan kekeluargaan. Ada juga yang asyik meledek tentang kondisi hati yang kian hari kian semrawut. Sudah jelas, warna-warna merah mudah terkadang ikut memeriahkan sudut-sudut aktifitas di FLP.

Saat ini mungkin yang paling dominan warna-warna cerah seperti merah, orange, kuning, bahkan ungu. Betapa tidak, baru beberapa minggu yang lalu FLP mengadakan inaugurasi untuk benih-benih penulis baru. Semangat-semangat mereka sudah jelas ikut mewarnai kekeluarga FLP saat ini.

Selain itu, ada juga warna yang tidak pernah tetap. Bahkan, terkadang aku kira aku mengidap buta warna jika terus memperhatikan warna-warna itu. Persis seperti lampu kerlap-kerlip mainan robot adikku. Kadang warnanya merah, eh tiba-tiba jadi biru. Berkedip sedikit sudah berubah lagi menjadi kuning. Susah untuk di tebak apa warna dasarnya. Warna itu kukira mirip abang-abang dan kakak-kakak yang sudah tidak diragukan lagi skill kepenulisannya. Bayangkan, terkadang aku membayangkan penulis cerpen haru biru itu adalah seorang pemuda yang mengerti betul perasaan kaum muda. Agak sensitif mungkin. Eh, di lain waktu aku membaca cerpen beringas penuh darah dengan nama penulis yang sama. Dikesempatan lain, bacaan tentang nilai-nilai keindahan islam yang inspiratif juga ditulis oleh penulis yang sama. Sampai aku sendiri bingung, seperti apa sosok asli penulis yang mampu menghidupkan karakter-karakter berbeda di tulisan-tulisannya?

Ada juga yang berwarna pucat. Seakan-akan setiap yang melihatnya percaya kalau warna itu tidak memiliki daya tarik sedikitpun. Bahkan sampai meragukannya. Tapi ternyata, warna-warna pucat itu punya keajaiban. Setiap kali aku mencoba melihatnya lebih dekat, fragmen warna pucat itu memancarkan titik-titik warna warni. Seperti kilauan bintang warna-warni dimalam hari. Jelaslah, bintang tidak akan memesona jika dilihat dari tempat yang terang. Cobalah bergeser sedikit ketempat yang cukup gelap dan lihatlah betapa mengagumkannya keindahan bintang-bintang itu dikanvas yang hitam pekat. Keindahan mereka hanya bisa dirasakan pada waktu dan tempat yang unik. Itulah mereka, para penulis muda yang masih mencari sense menulis mereka, yang masih gugup untuk menunjukkan betapa hebatnya mereka.

Kembali ke suhu, ada beberapa warna yang jika suhu disekitarnya mulai meredup, maka corak keindahannya pun semakin layu, bahkan bisa jadi memucat dan memudar. Begitu pula sebaliknya, semakin suhu disekitarnya meningkat, maka kecerahan warnanya pun akan semakin meningkat pula. Ya, begitulah di FLP. Ada penulis-penulis yang terus-terusan mencegah jemarinya untuk berkarya dengan alasan ‘tulisanku tidak bagus’, dan ada juga penulis  yang terus-terusan berendam di air hangat. Ada yang begitu hangatnya sudah cukup kemudian istirahat, dan ada juga yang keenakan dan hampir tenggelam dikolam air panas. Menjaga kehangatan boleh asal jangan sampai kepanasan. Sesekali break untuk melihat sejauh mana tulisan yang dibuat, untuk kemudian terus belajar hingga menjadi penulis yang hebat. Jangan langsung puas dengan tulisan yang telah ada dan tidak peduli dengan tagihan air panas yang semakin melonjak. Mas, Bangun mas, pemandian air panasnya mau tutup, silahkan bayar ke kasir. Eh?

Pernah melihat pelangi? Pernahkah kau melihat pelangi yang hanya warna merahnya saja yang muncul, atau hanya kuning saja, atau mungkin hanya dua tiga warna saja? Jika ada pun, tentu pasti akan terasa hambar dan tidak elok dipandang mata. Di FLP, banyak warna-warna yang berserakan disana. Terkadang kita juga sadar, ada beberapa warna yang jika dipadukan, sering bertabrakan dan bahkan menjadi norak. Istilah artistiknya, gak matching gitu loh!. Tapi walaupun begitu, bukan berarti warna-warna itu tidak bisa dipadukan. Harus ada unsur-unsur warna lain hingga kemudian menghasilkan seni rupa yang maha karya cetar membahana. Jika di FLP sering terjadi ‘konslet’ antar sudut pandang yang berbeda, mengingat latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda, maka solusinya ya tetap aja berkarya. Sekarang aja juga lagi ngetrend kok gaya-gaya gak matching gitu. Baju warna kuning, celana warna ungu plus sepatu warna merah. Nah, jalan-jalan lah sana. Simpan wajah di dompet.

Ada juga warna-warna yang begitu dipasangkan, menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Mau dilihat dari mana pun, kalau sudah keren ya tetap aja keren. Di FLP, banyak teman-teman yang walau baru sebentar saja bertemu, tetapi akrabnya bukan main. Bahkan tidak jarang sudah menganggap seperti bagian dari keluarga sendiri. Yang lebih fantastis, di FLP tidak sedikit warna-warna itu akhirnya menyatu dan menjadi suatu karya seni berdaya jual tinggi hingga kemudian dibingkai dengan frame yang sering orang menyebutnya dengan pernikahan. Walaupun begitu, aku tidak menyarankan untuk menikah sesama anggota FLP lho. aku hanya berharap untuk bisa mencontoh anggota-anggota FLP lainnya yang telah menikah. Eh?

Terakhir, aku bersyukur bisa menjadi bagian dari indahnya pelangi warna di FLP. Banyak warna yang setiap hari ikut memperindah hari-hariku bersama tulisan. Seperti berjalan melewati jembatan yang dibawahnya mengalir sungai strawberi, dengan pegangan jembatan dari terbuat dari sari buah mangga dan anggur. Sementara dihadapanku, melintas penulis-penulis dengan payung warna warni mereka menghindari hujan coklat. Sesekali hujan tidaklah mengapa. Yang penting itu bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa menjadi penulis yang lebih baik. Setidaknya, aku bisa ikut menelusuri jembatan itu bersama mereka dengan dihiasi meriahnya warna-warna, seperti di Forum Lingkar Pena Aceh.

Inspirasi Lainnya:

0 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^