Jaka Garuk Dan Adem Bulan

Thursday, June 6, 2013 - 12:48 AM WIB - 6 Comments


Mungkin ini memang takdirnya. Dari lahir dia sudah punya kelainan. Padahal wajahnya tampan, sampai-sampai siapapun yang melihatnya takjub dan lupa makan, lupa daratan, sampai lupa ambil jemuran. Tapi bagaimanapun kelainannya tidak bisa ditutupi.
Di mana saja, kapan saja dia selalu menggaruk badannya. Mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sampai-sampai sekarang dia udah fingerstyle kalau mau garuk. Bahkan kalau dia mau, ia bisa aja ngerekam joget garuknya dan diunggah ke youtube. Bisa jadi trendtopic dan heboh seantero dunia. Tapi sayang, di zamannya belum mengenal istilah komputer, apalagi youtube.
Jaka Garuk namanya. Entah sejak kapan dia sudah hobi menggaruk. Padahal badannya enggak gatal-gatal amat. Tapi enggak tahu lah, katanya ada sensasi lain ketika menggaruk. Kalau dicek, dia enggak panuan, kurapan atau penyakit gatal lainnya. Tapi kalau lihat dia lagi garuk, bah, seakan-akan dunia milik dia seorang.
Dari kecil dia sudah dirawat sama Mbok Randa. Kata Mbok Randa, dulu dia ditemuin di semak-semak gitu. Pasti orang tuanya enggak bertanggung jawab karena ninggalin si Jaka sendirian di sana. Malahan, Mbok Randa percaya kalau si Jaka kena kutukan garuk sama empunya semak-semak. Mungkin waktu itu si Jaka ngompol sebelum dijemput Mbok Randa. Pantesan marah yang empunya semak-semak. Secara pipis bayi itu kan bau cin! Aduh-duh.
Seiring berjalannya waktu, si Jaka kecil tumbuh dewasa. Mbok Randa ngajarin dia macam-macam. Mulai dari kerja di sawah, angkut air dari sungai, sampai jualan di pasar. Memang pinter Mbok Randa. Awalnya ngajarin, sekarang malah nyantai di rumah karena semua kerjaan udah dikerjain Jaka. Jaka pun giat melakukan semuanya tanpa protes, walau sesekali keribetan karena mesti kontrol diri biar enggak garuk-garuk kalau lagi kerja.
Jaka pun, sengaja kerjain semua tugas dari Mbok Randa. Selain karena Mbok Randa udah uzur dan untuk balas budi Mbok Randa karena udah merawatnya sampai sebesar ini, juga karena dia ingin garuk-menggaruknya bisa dikurangi sedikit demi sedikit. Kan kalau sibuk dia jadi enggak sempat garuk. Paling kalau udah sakau aja dia tinggalin semua kerjaan terus lari ke kamar buat garuk badan. Merem melek deh di sana.
Sampai suatu malam yang damai, Mbok Randa pun menghembuskan nafas terakhirnya. Entah karena si Mbok Randa udah bosan banget lihat si Jaka garuk-garuk melulu, atau mungkin karena si Jaka salah garuk Mbok Randa. Yang jelas, Mbok Randa meninggal dunia dengan meninggalkan duka yang mendalam bagi Jaka. Semalaman Jaka enggak tidur meratapi kematian Mbok Randa. “Mbok, kenapa pergi? Kalau enggak ada Mbok siapa lagi yang bakal garuk punggung Jaka kalau gatal mbok?” Jaka pun menangis tersedu-sedu.
Hingga fajar menyingsing, Jaka masih aja melek. Matanya udah bengkak, badannya udah habis di garuk semua. Karena enggak bisa lupain Mbok Randa, ia pun pergi meninggalkan rumah untuk mencari suasana segar. Ia terus berjalan seraya menggaruk apa yang bisa di garuk sambil tetap menangis. Huhu.
Kadang kalau tubuhnya udah habis digaruk, ia menggaruk apa yang ada di dekatnya. Kadang garuk pohon, garuk tanah, sampai garuk orang-orang yang lewat. Hingga ia pun disebut orang gila. Hati Jaka tertampar. Ia semakin galau dan berlari ke hutan. Jaka merasa dunia ini benar-benar kejam tanpa Mbok Randa. Tidak ada tempat mengadu lagi, tidak ada tempat menangis lagi, tidak ada tempat menggaruk lagi.
Langit berubah mendung. Hujan pun turun. Suara derasnya hujan menutupi isak tangis Jaka yang semakin menggila. Tetes air hujan membuat tubuh Jaka berhenti gatal. Tanpa terasa Jaka pun tertidur di semak-semak hutan, kelelahan.
***
Suara wanita-wanita bercengkrama terdengar jelas enggak jauh darinya. Pelan-pelan Jaka membuka mata dan melirik ke sekeliling. Dia celingak celinguk. Kenapa ia bisa ada di tengah hutan? Apa ini cuma mimpi? Di mana Mbok Randa? Jaka pun bangun dan beranjak dari tempatnya seraya mencari darimana asal suara wanita-wanita itu.
Di sebuah air terjun yang di atasnya terbentang pelangi yang menjulur dari langit, tujuh orang bidadari sedang bermain-main. Ada yang tertawa, ada yang lempar-lemparan air, ada yang berenang sampai ada yang nyuci pakaian. Mereka enggak sadar kalau dari balik pohon besar ada seorang lelaki yang terus perhatiin mereka sambil menggaruk badannya. Ya, siapa lain kalau bukan Jaka Garuk.
Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat gadis cantik, sedang mandi pula. Kalau di sawah dia cuma lihat kerbau betina berkubang, di sungai dia cuma lihat kodok betina loncat-loncat, di rumah cuma lihat Mbok Randa, paling cuma di pasar aja yang bisa lihat wanita. Itupun seumuran Mbok Randa semua. Pantas saja, ilernya keluar, hidungnya mimisan.
Di tengah asyiknya ia mengintip, tiba-tiba gatalnya kumat. Punggung paling belakangnya gatal segatal-gatalnya. Susah payah lah ia menggaruk sampai harus membuka baju. Melihat ada beberapa selendang tidak jauh darinya, lantas ia sambut segera dan menggunakannya untuk menggaruk punggung belakangnya. Ah, Lagi-lagi ia merem melek. Lupa dunia.
Suara langkah kaki mendekat membuat Jaka terperanjat. Ia pun panik dan merangkak masuk ke dalam hutan. Mirip-mirip biawak gitu.
“Kakak, seledangku kemana?” Tanya salah seorang bidadari itu kepada teman-temannya yang lain.
“Eh, selendangmu enggak ada? jadi gimana kau balik ke langit, Adem Bulan?”
“Aku enggak tahu. Tadi aku taruh di sini, di atas selendang kalian. Sekarang enggak ada lagi.”
Mereka pun muter-muter nyari selendang tapi enggak ketemu. Hari sudah semakin terik dan pelangi hampir memudar.
“Gimana ini? Pelangi sebentar lagi menghilang. Kalau terlambat kita enggak bisa lagi balik ke langit.” Ujar salah satu dari mereka.
“Sepertinya kami harus ninggalin kamu, Adem Bulan. Pelangi makin pudar dan kami harus segera kembali. Memang takdirmu untuk tinggal di bumi. Maafkan kami.” Ke enam gadis yang lain pun segera terbang ke langit. Mereka menghilang seiring menghilangnya pelangi. Tinggallah Adem Bulan sendiri menggalau di bebatuan pinggir telaga. Tak kuasa ia pun menangis.
Jaka Garuk dari tempatnya melongo heran. Apa yang barusan ia lihat? Apa gadis-gadis itu benar bidadari dari langit? Kenapa juga satu gadis itu tertinggal? Apa karena selendang yang ia ambil untuk menggaruk punggungnya ini?
Jaka Garuk tidak tega melihat gadis itu menangis. Ini semua salahnya yang mengambil satu selendang tadi. Mau balikin takut dikira pria mesum karena ngintip mereka mandi. Kalau enggak balikin, punggungnya enggak berhenti-henti gatal. Ia pun menyimpan selendang itu di balik semak-semak dan mendatangi bidadari itu. Paling tidak ia bisa menghibur bidadari itu untuk membayar kesalahannya.
***
“Adem Bulan, aku pergi dulu ya bersama Adem Sari ke pasar. Ia dari tadi merengek minta dibeliin kembang gula. Aduh! Aduh!” Kata Jaka Garuk yang ditarik-tarik bulu kakinya sama Adem Sari yang dari tadi heboh minta ke pasar.
“Iya Kakang. Hati-hati ya.” Jawab Adem Bulan sambil mencuci pakaian suaminya.
Sudah sepuluh tahun sejak Adem Bulan enggak bisa naik ke langit. Sejak itu pula Jaka Garuk dan Adem Bulan menikah. Jaka Garuk juga sudah sembuh dari penyakit gatalnya. Dia senangnya bukan main. Sebab enggak perlu lagi harus merana garuk sana sini. 
Dan hari-harinya pun dilalui dengan bahagia bersama Adem Bulan. Hidup mereka dilimpahi kemakmuran. Padi mereka enggak pernah habis, kebun panen cepat, dan barang jualan mereka selalu laku di pasaran. Tidak berapa lama lahirlah anak yang mereka beri nama Adem Sari.
Jaka Garuk enggak pernah kasih tahu Adem Bulan kalau selendangnya selama ini disembunyikannya. Jaka menyimpan selendang itu di dalam lumbung padi. kalau saja Adem Bulan tahu Jaka yang menyembunyikannya, pasti Adem Bulan bakalan marah dan kecewa.
Tiap kali Jaka Garuk pergi, Adem Bulan selalu melakukan semua pekerjaan rumah dengan kesaktiannya. Mulai dari mengukus nasi, mengangkut air, mencuci baju, sampai menyapu rumah. Makanya hidup mereka enggak pernah kekurangan dan semakin makmur. Adem Bulan enggak pernah kasih tahu Jaka perihal kesaktiannya. Kan Jaka sembuh dari garuknya juga karena kesaktian Adem Bulan. Kalau saja Jaka tahu ia menggunakan kesaktiannya, pasti kesaktiannya serta merta akan hilang. Makanya Adem Bulan selalu pura-pura mencuci baju dan mengukus nasi layaknya wanita biasa di hadapan Jaka Garuk.
Sampai suatu hari, Jaka Garuk mulai curiga. Kenapa lumbung padi mereka enggak pernah habis. Padahal panen padi kan masih lama. Karena udah terlalu curiga, ia pun sengaja menyuruh Adem Bulan untuk mengajak Adem Sari ke pasar.
“Adem Bulan, bawalah si Sari ke pasar. Belikan dia baju. Aku enggak pintar memilih baju untuk perempuan.” Kata Jaka Garuk.
“Baiklah Kakang. Lihat-lihat ke dapur ya, aku sedang mengukus nasi. Kalau sudah masak, Kakang bisa matikan apinya. Tapi ingat! Jangan pernah membuka tutup kukusannya! Ingat itu Kang!” seru Adem Bulan.
Jaka Garuk cuma ngangguk. Sebenarnya dari awal ia memang mau mencari tahu keanehan dari Adem Bulan. Kenapa enggak boleh buka tutup kukusan nasi? Emang Jaka mau nyuri nasi apa? Toh nanti ia juga makan. Lantas ketika Adem Bulan dan Adem Sari pergi, Jaka Garuk pun segera ke dapur untuk melihat isi kukusan nasi.
Dalam perjalannya ke dapur, ia ingat-ingat lagi peristiwa perjumpaannya dengan Adem Sari. Kenyataan bahwa istrinya adalah seorang bidadari. Kenyataan bahwa ia menyimpan selendang istrinya hingga tidak bisa kembali ke langit.
Sesampainya di dapur Jaka pun membuka tutup kukusan nasi. Betapa terkejutnya Jaka melihat hanya ada sebutir beras di dalamnya. Berarti selama ini Adem Bulan menggunakan kesaktiannya untuk melakukan semua pekerjaan rumah. Buru-buru ia tutup kukusan itu dan pergi ke kamar.
Begitu Adem Bulan pulang, ia langsung membuka kukusan nasi dan melihat masih ada sebutir nasi di dalamnya. Pasti suaminya telah membuka tutup kukusan nasi. Segera ia mencari suaminya, Jaka Garuk.
Di kamar, ia dapati suaminya sedang menggaruk-garuk badannya. Ia menyesali perbuatan Jaka yang melanggar larangannya. Kesaktiannya pun menghilang. Dan Jaka kembali menggaruk-garuk ria.
Semenjak itu, Adem Bulan merasa kesusahan. Semua pekerjaan ia kerjakan layaknya manusia biasa. Mulai dari memasak nasi, mengangkut air sampai mencuci pakaian. Hingga suatu hari ketika lumbung padi semakin habis, ia terkejut ketika menemukan selendangnya di sana. Adem Bulan marah banget. Langsung aja ia nyari Jaka Garuk. Garuk mana garuk?
“Kakang! Apakah benar Kakang yang ngambil selendangku?” Tanya Adem Bulan dengan nada emosi. Matanya melotot.
Jaka Garuk yang sedang asyik-asyiknya menggaruk telapak kaki sambil merem melek pun syok melihat Adem Bulan yang mendatanginya sambil memegang selendang.
“Maafin aku Adem Bulan. Aku enggak bermaksud untuk membohongimu, bukan pula untuk menipumu. Aku benar-benar menyesal Adem Bulan. Sungguh!” Jaka Garuk jadi salah tingkah dan enggak tahu harus bagaimana menyakinkan istrinya.
“Aku benar-benar kecewa padamu Kakang. Dengan ku temukan kembali selendangku ini, maka aku harus kembali ke kahyangan. Kau rawat Adem Sari dengan baik. Maafin aku Kakang, aku pergi.” Adem Bulan segera berlari meninggalkan rumah menuju air terjun tempat ia turun dahulu.
Jaka Garuk pun menangis sambil terus menggaruk badannya melihat Adem Bulan meninggalkannya begitu saja. Adem Sari yang melihat kelakuan ayahnya juga ikutan menggaruk dan menangis. Sesekali mereka saling gantian menggaruk. Begitu menyedihkan.
Setelah menyusuri hutan yang dalam, sampailah Adem Bulan di sebuah air terjun persis tempat ia turun dahulu. Adem Bulan melihat ke langit dan tidak ditemukan satupun pelangi di sana. Kalau enggak ada pelangi, bagaimana ia bisa kembali ke langit? Adem Bulan bingung. Mau kembali ke rumah Jaka Garuk juga ia pasti malu. Akhirnya ia pun hanya terduduk di pinggir telaga, menatap kosong langit sambil mulai menggaruk-garuk kakinya.

Inspirasi Lainnya:

6 komentar

  1. Hehehhe... jangan-jangan si jaka garuk keturunan kera sakti. kera sakti kan Suka menggaruk

    ReplyDelete
  2. Hmm... #bingung.
    Kenapa endingnya seperti itu?
    Kenapa Jaka Garuk tidak hidup happy ending?
    Kenapa Adem Sari tidak mengobati panas dalam?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah kak.. ending yang anti mainstream wkwkw...
      Adem sari ketika dewasa membuka perusahaan obat panas dalam kak..

      Delete
  3. Jangan-jangan kalo minum Adem Sari, bisa bikin garuk-garuk juga, ya? hiyy >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi Ai, coba aja kalau mau. hehe...

      Delete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^