Tragedi Pra Jelajah Budaya bersama FLP

Tuesday, June 11, 2013 - 12:52 AM WIB - 15 Comments



Hari minggu lalu, tepatnya tanggal 9 Juni 2013 aku dan beberapa anggota FLP mengikuti kelas menulis dengan tema Jelajah Budaya. Yap, kelas menulis FLP kali ini outdoor. Sesuai rencana, kami menjelajahi situs budaya yang ada di Kota Banda Aceh. Dan pilihan jatuh pada Museum Aceh dan Makam Sultan Iskandar Muda.

Sesuai amanah dari Bang Ferhat, aku ditugaskan untuk bertanggung jawab atas ketersediaan TOA, sebuah alat untuk mengeraskan suara. Tidak perlu banyak bertanya kenapa namanya bisa TOA, dan seperti apa pula bentuknya. Silahkan bayangkan sendiri kira-kira seperti apa bentuknya sesuai imajinasimu, yang jelas ia bisa mengeraskan suara siapapun yang menggunakannya. Intinya cukup sebut saja benda itu TOA.

Sehari sebelumnya aku telah bersepakat dengan Bang Riri Isthafa perihal ketersediaan TOA ini. Berkat jaringan pertemanan beliau yang luas, masalah TOA itu pun mulai menemukan titik terang. Karena beliau tidak bisa ikut Jelajah Budaya di minggu pagi, maka ia menyuruhku untuk mengambilnya besok di Lapangan Futsal tepat pukul Sembilan. Akupun oke-oke saja.

Tepat di minggu pagi, cuaca sangat tidak bersahabat. Hanya orang-orang terpilihlah yang sanggup menerobos lebatnya hujan dan menerjang dingin yang kian menusuk pekat. Saat itu langit benar-benar galau. Sesekali menurunkan hujan dengan lebat, lalu tiba-tiba kembali reda. Kemudian Rinai hujan kembali turun, dan selang beberapa menit terik matahari pagi muncul. Tidak lama, hujan lagi-lagi mengguyur kota. Aku harap kegalauan langit tidak berlangsung lama. Tabah ya langit.

Dari rumah aku telah menyiapkan jadwal keberangkatan dan rute perjalanan. Mula-mula ke tempat Bang Riri untuk mengambil TOA, lalu menjemput Bang Nazri di Rumahnya, dan baru kemudian sama-sama meluncur ke Museum Aceh. Dan di pukul delapan, aku pun mulai bergerak.

Berkali-kali aku mencoba menelepon Bang Riri tapi nihil. Handphonenya tidak aktif. Sial, di saat-saat seperti ini kenapa tidak bisa di hubungi? Mau ke rumahnya aku tidak tahu di mana. Mau ke lapangan futsal tempatnya akan melangsungkan pertandingan juga tidak tahu di mana. Dan aku pun mencoba mencari tahu alamat rumahnya dari teman-teman yang kukira mengenal Bang Riri dengan baik.

“Halo, Bang Martunus. Tahu di mana rumah Bang Riri?” sahutku dari telepon setelah memilih satu kontak dengan nama Martunus FLP.

“Oh, rumah Riri di Rukoh. Dia tinggal di sekret KAMMI. Tahu di mana?” Jawab Bang Martunus dari ujung telepon.

“Wah, Aslan kurang tahu jalan Rukoh di mana Bang. Tepatnya di mana ya?”

“Dari Jembatan Lamnyong belok kiri. Nah luruuuuuuus terus sampai jumpa persimpangan. Belok ke kanan. Jangan belok ke kiri. Ikutan jalannya aja teruuuuuus sampai bla bla bla nah nanti jumpa lapangan bola terus blab la bla…”

Aku tidak ingat apapun. Dari sekian panjang penjelasan Bang Martunus, yang kuingat hanya rintik hujan yang turun dari loteng dan menghantam lantai toko. Kebetulan ketika aku menelepon Bang Martunus, aku baru saja keluar dari mini market. Membeli satu pack Yakult untuk menjadi bekalku di jelajah budaya kali ini. Ketika pembicaraan kami via telepon berakhir, aku hanya menancapkan sedotan pada sebotol yakult, menyedotnya, sambil memandang jalanan dengan tatapan kosong. Sruup srupp Sruuluupppppp aah.

Aku berfikir mungkin saja handphone Bang Riri hilang, lowbat atau apa gitu. Dan akupun nekat untuk pergi ke lapangan futsal yang di sebutkan Bang Riri untuk bertanding. Sesuai navigasi dari Bang Muarrif via sms, aku pun berhasil menemukan lapangan futsal itu, walau sebelumnya sempat nyasar karena sok percaya pada insting petualangku. Sampai di sana aku kuyup. Dari sekian pemain yang ada di lapangan futsal itu tidak ada satupun yang menyerupai Bang Riri.

Aku melirik jam. Astaga! Aku telah telat lima belas menit dari janjiku kepada Bang Nazri, dan juga telah telat tiga puluh menit dari janji berkumpul di Museum Aceh bersama peserta jelajah budaya lainnya. Sebelum aku berencana untuk menjemput TOA pada Bang Riri, aku telah lebih dulu mengabari Bang Nazri kalau aku akan tiba di rumahnya lima belas menit lagi. Sekali lagi aku melihat ke arah lapangan futsal tapi tetap tidak ada tanda-tanda Bang Riri. Aku kira aku harus merelakan TOA itu. “Bang Ririiiii… Demiiii TOAAAAAAAAA!!!!!” Aku berteriak dalam batin.

Kini aku melintas di jalan raya layaknya pembalap Moto GP. Nyelip sana nyelip sini. Jalanan yang licin juga sempat membuat motor yang aku kendarai oleng. Untung jiwa pembalapku masih ada. Kalau tidak aku akan berguling-guling di aspal basah. Tidak sia-sia dulu aku sering mampir ke Time Zone menghabiskan koin di box permainan balap motor. Kalau ada paparazzi, mungkin ia bisa mengambil beberapa foto dramatisku untuk bisa dipapar di halaman utama majalah otomotif.

Belum sampai ke rumah Bang Nazri, dari pinggir jalan aku di panggil oleh seseorang. Aku curiga dia menganggapku sebagai tukang ojek yang lewat nyari setoran. Aku pun mengabaikannya dan beberapa detik kemudian sms masuk.

Aslan, udah kelewatan. Aku di belakang, di warkop.

Ternyata itu sms dari Bang Nazri. Ya Ampun, jangan-jangan yang panggil tadi memang Bang Nazri. Segera aku putar balik.

“Aku ada lihat Aslan tadi lewat. Oiya Gimana TOA?” tanya Bang Nazri.

“Failed Bang.”

Setelah membungkus kopi yang baru saja di pesan, kami kembali ke rumah Bang Nazri untuk mengambil Helm. Belum berapa jauh, tiba-tiba langit kembali galau. Byuurrrr!!! Hujan tiba-tiba turun lebat. Semua makhluk yang berada di jalan berteduh. Bang Nazri pun menggerutu,

“Kapaleh, mana mungkin pagi ini aku mandi dua kali? udah tadi pagi paling cepat aku mandi. Jarang-jarang pun aku mandi pagi.”

Aku hanya melongok ke langit, mencoba protes. Kenapa mesti hari ini hujannya? Kenapa mesti di saat ini? Ayolah reda sebentar saja.

Entah karena mendengar batinku, atau karena sudah bosan melihat kami yang mulai kedinginan, langit pun mulai luluh. Hanya tinggal gerimis yang turun dibawa angin. Kami segera mengambil kesempatan itu untuk mengambil helm, mantel dan bergegas ke Museum Aceh. Melihat jarum jam tangan yang sudah begitu jauh dari angka yang seharusnya kami gunakan untuk tiba di Museum Aceh, membuat kami menancap gas, memotong lajur, dan sempat sekali menerobos lampu merah. Baiklah, untuk yang terakhir jangan ditiru, itu melanggar hukum.

Bersambung ke Jelajah Budaya : Museum Aceh dan Makam Sultan Iskandar Muda



Inspirasi Lainnya:

15 komentar

  1. bakbudik!! [-(
    awalnya sor aku baca, kena dibawah "Bang Nazri pun menggerutu", ah! gak syeh! :-s

    b-(

    ReplyDelete
  2. hahahaha :-)
    tapi itu quote beneran bg :>)

    ReplyDelete
  3. Mak'eeee.. bersambung pulak udah kayak cinta fitri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi.. ini versi gak resminya bg. Nanti di buat yg serius tentang Sultan Iskandar Muda. 8-)

      Delete
    2. itulah, mau nyaingi umpang breuh.. :-?

      Delete
    3. kalo eumpang breuh pasti gak akan lewat kak. [-( hihi

      Delete
  4. ini bagian pencarian Toakk nya ya T_T bersambung ceritanya kok :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. iya dara. ini versi pra jelajah :>)

      minum2 kopi dulu sambil nunggu lanjutan ceritanya (c)

      Delete
  5. wah, skrg udah ada bunga sakura... Like.like! :)
    *udh lama gak mampir ke blog ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di mana bunga sakuranya kak? :-?
      Di atas itu sakura ya? Aslan baru tahu :)

      *sering2 kunjungi blog ini kak. Aslan mau kalahin Ferhatt.com :-b

      Delete
  6. Ah, masa' ga tau sakura sih? :o
    okay, gudlak. yg pntg tetap damai ya.
    #ferhatt.com&elitewordmenuju1jutapengunjung :-s

    ReplyDelete
    Replies
    1. biasanya sakura kan warna pink kan kak? :-?

      hihi tenang aja kak kami bersaing secara sehat :-t

      btw blog kakak kok gak aktif lagi?

      Delete
  7. Wah... I enjoyed reading your writing, Aslan. You have a great blog! ^^b

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you :)

      Nice to know you visited my blog. That's an honor for me :)

      Delete
    2. Haishh... look who said what!! haha...
      You know I should be the one who said the last line! ^^

      Delete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^