Jelajah Budaya Bersama FLP : Misteri Kandang Meuh

Saturday, June 15, 2013 - 10:38 AM WIB - 1 Comments







Setelah sebelumnya berjuang melawan terjangan hujan dan serangkaian masalah Pra Jelajah, kali ini aku akan menceritakan lanjutan pengalaman mengikuti Jelajah Budaya Bersama FLP minggu lalu (9 Juni 2013).

Kalau teman-teman FLP seperti Bang Ferhat, Bang DoniBang Nazri, Bang Muarrif yang sudah menceritakan pengalaman mereka mengikuti Jelajah Budaya Bersama FLP dengan keren di blog masing-masing, rasa-rasanya enggak enak banget kalau ceritakan kisah yang sama. Toh, kami di tempat yang sama, pergi sama-sama, juga dengan pemateri yang sama pula. Bisa ditebak kalau tulisan ini juga pasti akan garing banget. Secara yang dibahas itu-itu juga.

Well, setidaknya aku punya pandangan lain selama acara minggu lalu dan melalui tulisan ini aku akan mencoba menceritakannya. Supaya nyambung silahkan baca artikel sebelumnya di Tragedi Pra Jelajah Budaya Bersama FLP.

Setelah berjuang dengan gigih menerjang hujan, aku dan Bang Nazri pun tiba di Museum Aceh. Di sana udah nangkring Bang Ferhat dan beberapa anggota FLP serta Peserta Jelajah Budaya. Bukannya disambut dengan tarian ranup lampuan, kedatangan kami malah disambut dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Darimana aja kalian?”

“Kok lama kali sampainya?”

“TOA mana?

“Yang lain mana?”

“Udah angkat jemuran?”

Dengan memasang tampang peluh, diiringi raut wajah yang semrawut, akut dan menakutkan, kami mencoba menjelaskan peristiwa yang baru saja kami alami demi meredakan gejolak jiwa mereka yang sudah sangat bosan menunggu kami tiba. Kan kalau ikut acara jelajah budaya ini tanpa kami ibarat sayur tanpa garam. Hambar gitu.

Cerita punya cerita ternyata mereka nungguin Tour Guidenya yang belum nongol-nongol. Ah, aku terlalu pede ketika mengira mereka menunggu kami. Cukup lama juga kami menunggu TG nya sejak kami tiba. Sempatlah kami foto-foto bareng. Kami juga ada beli tiket masuk Rumoh Aceh yang hanya Rp. 750. Begitu mau masuk, eh katanya TG nya udah mau sampai ke Makam Sultan Iskandar Muda. Yaudah deh kami tunda dulu masuk ke Rumah Aceh.

Makam Sultan Iskandar Muda letaknya di sebelah komplek Rumoh Aceh. Ada pagar disana yang menghubungkan kedua situs sejarah ini. Tapi kami kurang beruntung. Pagarnya terkunci. Solusinya kami harus memutar dan masuk dari gerbang Makam Sultan Iskandar Muda.

Hop!

Dengan gaya Jacky Chan aku pun langsung melompati pagar itu dengan gampangnya. Aih, ternyata kemampuanku belum hilang dalam hal panjat memanjat. Tindakan ku pun diikuti Bang Muarrif. Para lelaki lainnya mulai goyah imannya melihat kami melompati pagar dengan mudah. Lompat gak ya? Lompat gak ya?

Yang perempuan memilih memutar. Dengan rok yang mereka pakai sangat tidak layak untuk ikut melompati pagar. Apa daya mereka pun segera beralih haluan dan meninggalkan kami para pemuda keren di depan pagar.

Mula-mula Bang Doni mulai mendaki tiang semen di samping pagar dan mencoba melompat. Hop! Ia berhasil. Di susul dengan Bang Fikri yang melompati pagar layaknya Naruto. Bang Ferhat agak malu-malu melompat. Ia lebih memilih menaiki kakinya ke pagar dengan hati-hati, lalu turun dengan hati-hati pula. Sedangkan Bang Nazri, sekejap mata ia sudah melompat. Kecepatannya melompat membuatku galagapan mengira-ngira gaya apa yang barusan ia pakai. Gaya katak kah? Gaya beruang kah?


TG yang diharapkan belum tiba juga. Terpaksalah kami berkeliling sejenak untuk melihat suasana komplek makam tanpa pemandu. Beberapa dari kami memilih untuk melihat sebuah papan informasi sebelum melangkah jauh. Ada adegan unik yang tidak bisa aku ungkapkan di sini. Silahkan Lihat foto di bawah ini untuk melihat apa yang terjadi.

Ada empat orang yang sedang melihat papan informasi
---------------------------------------------
Bang Ferhat menelepon : "Maaf, ini kantor polisi? saya melihat ada empat orang mencurigakan di sini"
----------------------------------------------
Bang Ferhat : "Hehehe.. Biarkan mereka kembali ke suaka mereka. Huahahaha"

Selang beberapa menit, akhirnya TG yang dinanti telah tiba. Beliau bernama Laila Abdul Djalil. Setelah pengenalan singkat yang difasilitasi oleh Bang Ferhat, kami segera dipandu untuk melihat sekeliling. Pertama-tama dimulai dari makam Sultan Iskandar Muda.

Para peserta Jelajah Budaya meutuah banget dengerin Penjelasan Bu Laila.
Cuma Bang Ferhat yang agak narsis dan Dara yang ngupil pake pulpen.

Makamnya terletak istimewa dari balik pagar sebuah bangunan yang tidak berdinding. Agak tinggi dibangun dari lantai. Di dinding makam sendiri diukir beberapa kalimat dalam bahasa arab. Dan di atasnya terdapat pula batu nisan dengan bentuk yang unik. Ibu laila bilang zaman dulu itu dilapisi emas, perak bahkan lazuardi. Malahan dulu di komplek ini bukan hanya makam Iskandar Muda saja, tapi beberapa makam yang lainnya sehingga komplek itu juga disebut Kandang Meuh atau Kandang Emas.



Langsung saja pikiranku berkelebat. Apa? Emas? Di sini? Bayanganku muncul seperti di film-film pencari harta karun. Bisa saja emas itu masih ada di sini. Jika tidak sebesar batu nisan, yah minimal sebesar biji semangka juga tak mengapa. Seandainya saja dapat maka akan kubagi kepada pemuda-pemuda Aceh yang tak sanggup membayar mahar. Yohuhu.

Segera aku keluar dari kerumunan teman-teman yang asyik mendengarkan penjelasan Bu Laila. Layaknya Sherlock Holmes, aku mengamati arsitektur makam dengan seksama. Mungkin saja ada kode di sana yang belum terpecahkan. Bisa jadi kunci menuju tempat penyimpanan harta Iskandar Muda atau ada misteri lain yang belum terpecahkan.

“Hmm. Ini semakin rumit dan menarik,” Gumamku sambil mulai menyedot Yakult yang baru aku keluarkan dari tas.

Bang Doni dan Bang Nazri juga keluar dari kerumunan, melihat mereka terlalu penat dengan sejarah yang ada membuatku memberikan mereka Yakult juga. Semoga minuman berenergi itu bisa meningkatkan gairah mereka lagi untuk mencintai budaya dan sejarah Aceh.

Pohon Tua tempat hantu-hantu nongkrong
Di samping makam ada sebuah pohon tua yang sudah bercabang banyak dan besar. Melihat itu imajinasiku langsung memberontak. Seandainya saja dibangun rumah pohon disitu pasti akan sangat keren. Tapi oh tidak! Aku baru ingat kalau kami sekarang berada di komplek kuburan dan bisa jadi pohon itu tempat para penghuni alam gaib melakukan refleksi kematian mereka. Bisa berupa pesta atau apapun itu. Atau bisa jadi salah satu dari mereka telah membangun kedai kopi gaib di sana. Bisa kau bayangkan mereka bercanda di kala malam tiba. Bergelayut di dahan-dahan tua dan besar itu sambil tertawa-tawa. Atau mungkin jadi tempat mereka melakukan diskusi publik dengan mengundang hantu yang sudah sukses didunia perfilman Indonesia. Toh hantu Indonesia paling eksis bener kalo soal yang begituan.

Lanjut dari situ kami melihat beberapa kuburan lainnya. Perkara hari itu entah kenapa aku sangat brutal dan nakal, membuatku selalu keluar dari kerumunan pembahasan sejarah oleh Bu Laila. Aku lebih memilih mengamati langsung. Dan taraaa! Ada yang aneh lagi. Ada beberapa kuburan yang dinding makamnya terbelah! Bisa jadi itu bukti kalau mereka sering keluar masuk kuburan untuk ngumpul di pohon besar tadi. Hayoo!


Sebenarnya banyak informasi yang disampaikan oleh Bu Laila, Cuma semuanya telah diceritakan dengan lengkap oleh Bang Ferhat, Bang Doni dan Bang Nazri. Jadilah aku tidak perlu lagi menjelaskan detil situs budaya itu.


Setelah lama berkeliling di Makam, kami pun kembali ke Museum Aceh. Seperti biasa sebelum pergi kami sempat mengabadikannya melalui foto. Yah secara anak-anak FLP suka difoto itu udah jadi rahasia umum. Jpret! Jpret!

Selesai dari Museum Aceh, Bu Laila pun undur diri. Beliau ada agenda lain dan harus secepatnya pergi. Sebelum itu dari FLP juga tidak lupa memberikan cinderamata sebagai apresiasi terhadap peran Bu Laila yang sudah berbagi informasi hari itu.

Kak Husna memberikan cinderamata untuk Bu Laila

Baiklah, aku kira hanya itu yang terjadi di acara jelajah budaya. Sebenarnya yang buat seru itu bukan tempatnya, tapi karena bareng teman-teman. Pastinya hari itu banyak hal seru yang kami alami. Kalau tidak percaya silahkan lihat foto-foto di bawah ini. Yap sampai di sini saja jelajah budaya bersama FLP. Sampai Jumpa!

Inspirasi Lainnya:

1 komentar

  1. Great post, brader!
    Chayooo.... chayooo :-)

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^