Penggenggam Angin : Bagian tujuh

Wednesday, August 7, 2013 - 10:07 PM WIB - 8 Comments

 Oleh : Aslan Saputra



Arti Pertemanan

Kenapa Eki pergi? Bukankah seharusnya ia senang karena ibunya telah kembali?

Bermacam-macam pikiran terus bergelut di kepalaku. Langkahku semakin kupercepat menuju tempat di mana Eki berada. Jika ada masalah apapun, aku, Ali dan Eki pasti akan pergi ke Rumah Angin. Tempat di mana kami melepas kepenatan dunia.

Dan ketika pikiranku semakin rumit, akupun tiba di Rumah Angin.

“Ferhat!” Eki menyambutku. Disana juga ada Ali.

“Ali? Kau disini juga?” Aku mencoba masuk ke dalam rumah angin dengan sedikit menunduk. Rumah angin kini benar-benar penuh dengan kami bertiga.

“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau lama sekali datang kemari?” Ali menjawab dengan ketus.

“Aku senang kau kemari, Ferhat!” Senyum Eki.

“Kenapa kalian ada disini? Bibi Moma menyuruhku mencarimu, Eki. Kedua orang tuamu telah menunggumu di rumah,”

“Dia bukan ayahku,” Eki menundukkan wajahnya.

“Hah? Jadi? Wanita itu?” Aku terperanjat.

“Wanita itu memang ibuku. Tapi lelaki itu bukan ayahku. Dia lelaki lain yang menikah dengan ibuku,”

“Maafkan aku Eki, aku baru mengetahuinya,”

“Tidak apa-apa Ferhat,” Eki hanya tersenyum getir.

“Jadi sekarang bagaimana? Mereka sudah menunggu kita dirumah,”

“Kau masih juga tidak mengerti, Ferhat?” Ali angkat suara.

“Tapi kan mereka orang tua Eki,”

“Aku mengerti Ferhat. Sebentar lagi aku juga akan pulang kok. Aku di sini hanya ingin mengunjungi Rumah Angin untuk yang terakhir kalinya. Dan berjumpa dengan kalian untuk yang terakhir kalinya pula,” Bibir Eki bergetar. Seakan-akan ia menahan sesuatu.

“Tapi kau kan masih bisa mengunjungi kami di sini. Dan jika kau tidak bisa, maka kami yang akan mengunjungimu nanti. Memangnya kalian akan tinggal di mana nanti?”

“Mereka akan pergi ke Jerman, bodoh!” Bentak Ali.

Apa? Jerman? Dari peta saja itu sudah sangat jauh dari tempat kami tinggal. Aku terdiam.

“Sudahlah Ali. Aku pasti akan mengunjungi kalian nanti. Ah, aku pasti akan merindukan kalian,” Eki kembali tersenyum. Namun kedua matanya mulai berembun. Perlahan membasahi pipi bulatnya.

“Ah, kenapa jadi cengeng begini sih, Haha” Ali bangkit. Wajahnya ia palingkan membelakangi kami. Ia juga mulai menangis sesenggukan.

Entah bagaimana mataku pun mulai perih. Dadaku sesak. Suasana di Rumah Angin tiba-tiba menjadi haru seperti ini. Kami tidak banyak bicara apa-apa. Hanya menangis, dan menangis.

“Aku berjanji akan kembali lagi,” Eki mencoba meredakan tangisnya.

Sungguh, baru kali itu aku melihat Eki menangis dengan hebat. Ingin rasanya aku menghapus air matanya. Tapi tidak bisa sekarang. Air mataku lebih berantakan.

“Aku juga akan kembali kesini nanti. Lihatlah! Ketika nanti aku berhasil menjadi pemilik pabrik kayu, aku juga akan kembali kesini,” Ali menghapus ingus yang meleleh dari hidungnya.

Kami pun kembali ke rumah. Tidak lama Ibu Eki pamit dan memeluk Bibi Moma dengan erat. Mereka berdua menangis di dalam pelukan. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai bentuk terima kasih karena telah merawat Eki hingga sebesar ini. Sementara Eki juga berpamitan dengan kami semua, anak-anak yang tinggal di rumah Bibi Moma.

Tiba giliran Ali, ia pun memeluk Eki dengan erat, seperti tidak ingin dilepaskan.

“Hei, aku tidak bisa bernafas, Ali,” Eki mencoba melepaskan diri.

“Aku pasti akan sangat merindukanmu, Eki,” Ali pun melepas pelukannya. Lalu mereka berdua tersenyum.
Giliranku berpamitan dengan Eki semakin dekat. Sebenarnya aku juga ingin memeluk Eki. Namun aku tidak berani. Ah tapi kalau bukan sekarang, aku tidak bisa menjamin akan bisa memeluknya lagi di kemudian hari.  Tapi aku malu. Ah, dia semakin mendekat. Bagaimana ini? bagaimana?

“Ferhat, Aku pergi ya,” Eki tersenyum. Bola matanya berbinar. Wajahnya terang. Sangat terang.

Aku hanya mengangguk. Tidak memeluknya, tidak pula menyalaminya. Ia pun hanya membalas dengan anggukan pula.

Mereka berjalan pelan menuju mobil. Eki sesekali melihat kebelakang, melihat kami. Bahkan hingga mobil telah berjalan, ia masih saja melongok dari jendela. Tiba-tiba ia menangis dan melambaikan tangannya.

“Sampai jumpa teman-teman!”

Anak-anak yang lainnya juga ikut menangis sambil melambaikan tangan. Hanya aku yang mematung. Tangan kiriku yang memegang buku catatan terus bergetar. Sebenarnya tadi aku ingin menunjukkannya kepada Eki. Tapi aku tidak sanggup. Dadaku terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang copot di dalam sana. Ditarik secara paksa, dan menghilang dari tubuhku selama-lamanya. Aku hampa. []

Tulisan ini diikutsertakan pada #PenaKamiSudahLebaran

Inspirasi Lainnya:

8 komentar

  1. uoopsss.... 3 smart versi 3 idiot hahah

    ReplyDelete
  2. baru baca langsung kebagian tujuh,, mungkin harus baca dari bagian yang pertama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. bagusnya baca dari pertama :)
      terima kasih sudah berkunjung (c)

      Delete
  3. Lihat judulnya jadi ingat, "Lelaki Penggenggam Hujan"

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^