Sesak Sempit

Saturday, August 31, 2013 - 7:11 AM WIB - 1 Comments



Baiklah, niat awal saya sebenarnya adalah agar blog saya di bulan agustus tidak mentok satu artikel. Jujur bulan ini saya tidak sempat menulis, bahkan hanya untuk sekedar curhat di eliteword-blog sekaligus teman saya. Makanya, malam ini saya bela-belain malam mingguan sama eliteword.

Saya merasa waktu saya semakin sempit. Entah karena umur saya yang semakin bertambah, atau karena kepala saya yang telah lelah berfikir tentang arti sempit. Pokoknya saya jenuh. Beberapa pekerjaan saya sikat sekaligus dan kini saya dihadapkan dengan jadwal deadline yang hampir bersamaan.

Di sela-sela kejenuhan saya, saya merasa bersyukur karena masih dapat membaca buku. Anehnya, ketika saya jenuh, saya malah membaca dan itu membuat pikiran saya sedikit ringan. Mungkin karena isi novel itu bagus dan kini saya masih terngiang-ngiang dengan jalan ceritanya. Saya akhirnya jadi ingin melanjutkan tulisan-tulisan saya yang dari kemarin belum selesai-selesai mudik.

Penulis novel itu memang hebat. Saya akui karena ia telah berhasil membuat sebagian jiwa saya merasakan konflik batin tokoh-tokohnya. Tapi ada satu yang membuat saya kecewa terhadap buku ini sekaligus penulisnya. Gara-garanya kerjaan saya semakin bertumpuk karena saya tidak henti-hentinya membaca novelnya. Seru men!

Ah, kenapa sekarang jadi bahas novel sih?

Oke, balik ke kerjaan.

Sebenarnya saya masih mahasiswa, bukan seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta. Tapi berkat beberapa mimpi saya yang terus memukul saya disetiap saya makan, mandi, tidur dan bermimpi, akhirnya saya pelan-pelan mewujudkannya. Ini hanya demi mimpi itu. Mendirikan sebuah perusahaan untuk bisa menyokong kehidupan saya. Tapi harus digarisbawahi, itu bukan mimpi besar saya.

Makanya, ketika saya dikepung dengan kejenuhan bekerja, kepala ini selalu membandingkannya dengan mimpi besar itu. Ah, jangan serius banget kamu kejar kerjaan ini. Kalau kamu terlalu serius, bisa-bisa kamu kehilangan daya untuk menggapai mimpimu yang lain. Begitulah si Aslan dari dunia lain memburuku.

Saya tidak tahu mengapa, sepertinya ada sosok Aslan lain dalam diri saya. Kadang saya paham tentang apa yang saya lakukan, di satu sisi saya malah bingung dengan apa yang terjadi. Yang jelas, semakin lama saya semakin tahu kalau si Aslan yang satu lagi itu lebih jahat. Jika ia sedang kuat-kuatnya, saya kadang takluk begitu saja.

Dan ketika saya menyadari kerjaan ini bertumpuk karena Aslan Clone itu selalu membual dan mengada-ngada, saya tidak bisa apa-apa. Saya hanya harus terus mengambil nafas seribu untuk bisa kuat mengerjakannya sebelum waktu deadline.

Kadang-kadang saya ingin sekali bersikap cuek. Sesekali menghindar dari dunia saya, dan menyendiri di sudut kamar untuk berfikir, meresapi dan mengerjakan segenap kerjaan yang sudah bersarang laba-laba. Saya ingin tidak menghiraukan perkataan orang, pendapat orang, dan pikiran orang tentang saya. Tapi saya tidak bisa. Saya masih terikat dengan realita. Kondisi yang tidak seharusnya saya pikirkan.

Saya ingin sekali memasuki dunia baru, berjumpa dengan orang-orang baru dan merasakan atmosfir baru. Mulai semuanya dari nol, dan berkarya dengan diri saya. Mungkin ini salah satu efek jenuh saya. Maaf.

Mungkin tulisan ini sudah bisa saya akhiri. Walau tidak semua ketidakenakan hati saya tertuang, yah minimal saya sudah menulis. Saya juga mengakui umur saya yang semakin bertambah. Tahun depan saya akan lulus kuliah, dan harus sudah masuk ke dunia kerja. Saya rasa kegalauan ini pernah dirasakan semua orang. Saya tidak bisa banyak menjelaskannya. Hanya untuk kalian yang sudah pernah merasakannya saja, saya ucapkan selamat!

Rencananya selesai mengapel blog ini, saya akan mendatangi tumpukan kerjaan saya untuk saya apeli juga. Ini malam minggu yang menderitakan.

Inspirasi Lainnya:

1 komentar

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^