Rahasia Tornado

Monday, September 9, 2013 - 3:11 AM WIB - 2 Comments

Oleh : Aslan Saputra



Kita tahu sebagai manusia kita bisa menjadi lemah di satu waktu, yang pada waktu lainnya mungkin saja kita kuat. Rasa kuat itu seharusnya kita miliki di setiap saat agar mampu bertahan di pahitnya hidup ini. Dengan kesadaran penuh kita melangkah, menghirup udara maksimal dan menatap ke depan dengan mantap, percaya diri.

Menjijikan sekali ketika diri ini tergopoh-gopoh, mencoba meminta pertolongan dan sekedar bersandar pada apapun di depan mata. Terlihatlah kelemahan dengan gamblang dan itu bagiku sangat tidak keren. Ayolah, hidup ini bukan untuk kita lelah di dalamnya.

Seperti halnya aku, beberapa hari ini sangat tidak istimewa untuk bisa membuka mata dengan sempurna. Sekedar berlari riang dan menari-nari di atas bumi. Beberapa pekerjaan menempel pada seluruh sendiku hingga untuk bergerak pun aku hampa. Bahkan untuk menulis cerita ini tanganku juga bergetar. Entah karena aku kelelahan ataupun menyedihkan. Ini sungguh klise.

Aku juga sempat rindu pada kegiatan menulis. Menekan tuts-tuts keyboard laptop, mencoba menuangkan segala apa yang menjanggal di kepala. Bahkan hal-hal remeh pun membuat jiwa menekanku keras untuk menulis. Ini perasaan yang sangat hebat, walau ujung-ujungnya terkalahkan dengan realita.

Dan ketika aku sujud pada kesekian ibadahku, aku meleleh. Seluruh aliran darahku mengalir tidak beraturan. Detak jantungku perlahan menurun dan seluruh ruas di tubuhku merenggang. Terlintas segala macam kebahagiaan yang aku lewati dari waktu lalu. Tawa, keceriaan dan kenyamanan makin menggetarkan jiwaku. Mataku berembun. Andai saja waktu-waktu itu berulang, hingga aku bisa larut di dalamnya dan mencoba untuk bisa tersenyum walau sesaat.

Waktu tiba-tiba melambat. Tempatku berada seakan bertransportasi ke dunia yang berbeda. Asing. Seolah-olah segalanya menjauh, mengizinkanku untuk merasakan sesuatu yang indah. Kebebasan dan kelegaan. Kali ini rekaman-rekaman keburukan yang terngiang. Sungguh, aku jadi memalukan dan kembali mataku berembun.

Tidak tersadar tiba-tiba aku membuka mataku yang sedari tadi tertutup. Setelah sebelumnya aku hirup nafas dalam-dalam, segalanya terhenti sedikit demi sedikit mulai normal seiring oksigen yang keluar dari hidungku. Aku bangun, menyeka air mata dan terduduk dengan seribu penyesalan.

Seketika segala pekerjaan yang menempel pelan-pelan terlepas. Waktu terasa tersenyum padaku. Mencoba menenangkanku tentang satu kata yang mungkin hanya aku dan dia yang mengerti. Aku pun tersenyum lega. Kini aku sadar, lima waktu yang diberikanNya untuk kita gunakan setiap hari harusnya benar-benar kita manfaatkan. Itulah saat di mana kita melepas sebagian zat-zat kepenatan dan menggantinya dengan semangat baru. Kini aku siap melangkah, tersenyum lagi.

Aku menyebut ini Rahasia Tornado. Sebarkan rahasia ini ya.

Inspirasi Lainnya:

2 komentar

  1. Rahasi kok disebarkan? Apa-apan itu!! 8-)

    ReplyDelete
  2. Tuntun aku untuk tegar berada di tengah-tengah pusaran tornado.

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^