Suatu Saat Tentang Ayah

Saturday, November 30, 2013 - 9:08 PM WIB - 7 Comments

Oleh : Aslan Saputra



Jika diberikan kesempatan untuk memberikan satu kata saja untuk bisa menggambarkan tentang Ayah, kata apa yang akan kau berikan?

***

Ini cerita beberapa minggu yang lalu. Di sabtu malam, tiba-tiba Ayah mengetuk pintu kamarku, dan berkata,” Put, Besok ada kemana? Bisa bantu Ayah?”

Aku terdiam dan sempat berpikir dalam beberapa detik. Setiap minggu memang jadwal yang kusediakan untuk berkumpul di Rumah Cahaya bersama teman-teman FLP. Di sana kami selalu berbagi semangat menulis dan saling memperbaiki tulisan. Dan ketika Ayah memintaku di jadwal minggu itu, sepertinya aku tidak boleh menolaknya.

“Gak ada kemana-mana yah, bantu apa?”

“Perbaiki atap rumah sebelah, bisa kan?”

“Boleh Yah, siap!”

Segera ku banting stir rencanaku, membatalkan segala janji dan mempersiapkan segalanya untuk besok pagi.

***

Ini memang akhir bulan. Bagi seorang pensiunan kantoran seperti Ayah, berdiam diri di rumah ketika akhir bulan sangat membosankan. Selain indeks keuangan menurun, juga untuk mempertahankan kestabilan kondisi perut, maka pilihan untuk mencari tambahan penghasilan sangat diperlukan. Dan pilihan itupun jatuh pada sebuah rumah yang atapnya sudah tiada. Hanya tinggal rangka kuda-kuda, dan dinding rumah yang semakin keropos.

Kami sekarang tinggal di daerah pesisir, tempat di mana pernah menjadi saksi bisu terjangan tsunami beberapa tahun yang lalu. Dan di sini, rumah-rumah bantuan dari negara lain berderet-deret memenuhi lahan yang telah ditimbun beberapa lapis menutupi bekas puing tsunami. Harap kau maklum dengan kondisi setiap rumah bantuan yang dibangun melalui proyek tender. Tentu saja kondisinya tidak semua layak dikatakan sebagai ‘rumah’.

Nah, di minggu pagi itu, matahari bersinar cerah. Aku dan Ayahku, dengan bermodalkan vespa, akhirnya tiba di TKP. Begitu turun dan memarkirkan vespa, kamipun menatap rumah tanpa atap yang berdiri kokoh di hadapan kami.

“Itu dia misi kita, Putra!” seru Ayahku sambil meregangkan kedua bahunya dan mengamati setiap inci rumah itu dengan tatapan Tom Cruise pada film Mission Impossible.

“Ayo kita selesaikan Yah!” balasku sambil melipat lengan baju dan membetulkan posisi topi.

Kami pun masuk mendapati keadaan rumah yang sungguh sangat super hancur berantakan. Dan parahnya, kami tidak membawa peralatan layaknya tukang pada umumnya. Hanya bermodalkan palu, paku, dan tang. Tidak ada tangga untuk bisa naik ke atap. Eh, ini beneran mau perbaiki atap atau enggak sih?

Dan dengan bismillah, Ayah mulai menunjukkan keuletan masa mudanya. Kami mencari sebuah balok besar, lalu menyandarkannya ke dinding dan Ayah pun mulai merangkak seperti spiderman ke atas kuda-kuda. Aku hanya bisa memegang kayu, dan melihatnya saja.

Aku dari bawah hanya mengoper besi-besi dan baut atap yang memang sudah disediakan oleh pemilik rumah. Yang paling sulit adalah menaikkan atap yang lebarnya sekitar dua meter dan terbuat dari bahan seperti asbes. Cukup berat untuk menaikkan benda yang lebih berat dari tubuh kita lho! Lututku saja bergetar ketika mengangkatnya dan yahku dengan sulit menyambutnya dari atas. Dan itu baru satu, delapan lembar atap lagi yang harus kami naikkan. Wouwo!!

Hari mulai siang dan baru dua atap yang kami naikkan dan itu pun dengan susah payah. Aku meminta untuk naik juga keatas namun Ayahku menolaknya. Ia bilang aku tidak perlu naik keatas dan cukup menunggu di bawah. Lalu tiba-tiba karena sedikit kesulitan, akhirnya Ayahku pun memintaku untuk naik.

“Bisa naik kan? Kalau susah enggak usah aja,” kata Ayah sambil duduk di antara rangka kuda-kuda. Langit yang panas membuat keringat banyak bercucuran dari kulitnya.

“Bisa! Ayah aja bisa, kenapa putra gak bisa?” segera aku memanjat jendela dan meraih balok di atas kepala, layaknya ninja yang sedang menyelundup. Hop!

Begitu aku berdiri di atas kuda-kuda, segera lututku mulai bergetar. Melihat lantai dari ketinggian lima meter sungguh sangat tidak menyenangkan. Jantungku langsung tidak stabil dan tubuhku mulai kehilangan keseimbangan. Namun setelah beberapa menit melakukan adaptasi, akhirnya aku mulai terbiasa, walaupun masih takut-takut juga.

Beginikah susahnya? Ayah dari tadi bertarung dengan ketinggian seperti ini. Bagaimana kalau jatuh? Apakah duluan kepala atau bokong yang mendarat? Apakah kepala akan pecah dan mengeluarkan isi-isinya? Ataukah ada beberapa tulang dan rangka tubuh yang akan patah? Atau jangan-jangan langsung mati? Bagaimana kalau Ayahku yang jatuh? Bagaimana kalau aku? Bagaimana kalau?

“Ayah, sudahlah kita turun saja. cukup segini yang bisa kita kerjakan. Lebih baik kita cari pekerjaan lain. Tidak apa-apa kalaupun tidak dibayar,” aku mencoba menyakinkan Ayah.

“Ah, udah tanggung ini. sedikit lagi juga akan selesai, Put,” jawab Ayah sambil terus memutar baut atap.

Aku hanya diam. Terus berpikir. Mengetahui berapa bayaran yang akan kami terima nantinya dan membandingkan dengan pekerjaan yang harus kami hadapi, rasanya tidak sesuai. Aku yang pernah mendapatkan uang dengan jumlah yang lebih banyak dari ini, dengan hanya bermodalkan kreatifitas juga pasti berpikiran seperti itu. Hingga akhirnya aku mengambil kesimpulan, hidup ini sungguh berat ternyata.

Banyak diluar sana, orang-orang yang berprofesi sebagai buruh pabrik, pekerja bangunan yang mempertaruhkan hidupnya demi bayaran yang menurutku sangat tidak sesuai. Tapi apa mau dikata, itu mereka lakukan demi keperluan perut penghuni rumah. Mau bekerja yang lebih layak? Ijazah mereka tidak akan sama diperlakukan layaknya para pemilik title berharga tinggi. Akhirnya ya begitu, pasrah dengan realita yang ada.

“Sudahlah pak, kita pulang saja. Ini terlalu sulit. Kita cari pekerjaan lain saja, yang lebih murah.”

“Baiklah kita pulang, tapi tunggu sampai dua lembar atap kita pasang lagi ya,” Ayah mencoba berdiri, namun nahas kakinya memijak kayu yang keropos dan grubak!! Tubuh besar itu jatuh dan mendarat di puing-puing kayu dengan paku-paku yang menancap ke atas. Darah muncrat kemana-mana. Aku menjerit sejadi-jadinya.

“Ayaaaaaaaahhhhh!”

“Ada apa? Kok berteriak put?” Ayah yang masih duduk di antara balok besar merasa heran.

Eh, apa-apaan ini? ternyata semua tadi hanya khayalanku saja. Astaga! Imajinasi yang mengerikan!

“Baiklah, kita selesaikan satu ini lagi, lalu kemudian kita istirahat dan shalat,” Ayah mulai bangkit dan memperbaiki segala yang ada.

Akupun segera mempercepat segala yang bisa aku lakukan. Tiba-tiba entah tenaga dari mana, aku semakin sanggup menaikkan selembar atap sendiri ke atas, dan kemudian di sambut oleh Ayahku. Dalam pikiranku hanya satu. Selesaikan ini secepatnya dan pulang!

***

Setelah empat atap berhasil kami naikkan dengan susah payah, akhirnya kami pun turun. Aku yang pertama kali turun, hanya tinggal berpegangan pada celah-celah jendela dan akhirnya langsung melompat. Ayahku yang berat badannya dua kali dari berat badanku, mulai ragu untuk turun seperti caraku, setidaknya itu yang aku tangkap dari wajahnya.

“Ayah bisa turun? Atau tunggu sebentar biar Putra cari kayu yang lain buat turun,”

“Kamu tadi turun dari mana Put?”

“Dari sini!” Aku menunjuk kearah jendela yang aku gunakan tadi.

“Yaudah. Kamu aja bisa kenapa ayah gak bisa?”

Segera dengan hati-hati ia turun dengan cara yang sama sepertiku. Berpegangan pada celah-celah jendela, sedikit bergelantungan dan dengan pelan turun sambil berpegangan pada dinding yang licin. Dan akhirnya ia juga berhasil turun.

Ada satu hal yang aku pelajari hari ini, bagaimanapun ayah, sulitnya ia bekerja, dan bagaimanapun ia melakukan segala hal di depan anaknya, ia tidak akan pernah mau menunjukkan kelemahannya, walaupun sebenarnya ia memang tidak mampu. Ia akan selalu harus tampil terbaik di hadapan anaknya.

Tapi begitulah, kelak jika aku menjadi seorang Ayah, aku pasti akan merasakan hal yang serupa. Bagaimana ketika anak kita yang dulu masih kecil berada di pangkuan kita, kini telah menjadi seorang pria yang mungkin saja tubuhnya lebih tinggi dan lebih bisa dalam segala hal. Siapkah dengan kondisi seperti itu?

Hari ini pula, aku menyadari satu hal lainnya. Mulai hari ini, giliranku untuk bisa membahagiakannya, dan memastikannya untuk tidak lagi berbuat hal yang berbahaya seperti ini lagi. 

Terima kasih, Ayah.


Inspirasi Lainnya:

7 komentar

  1. lhoh.. ayah aslan di banda ya?
    ohh putra panggilan aslan.. *baru tau

    ReplyDelete
  2. Ayah yang hebat plus anak yang berbakti. ngeri baca pas adegan ayahnya aslan jatuh dan tertusuk paku. gak kebayang jika benaran.;(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... itu namanya membuat ketegangan dalam cerita hehehe...

      Delete
  3. Aslaaan! hard worker. Good job! Terima kasih ya, harusnya tulisan instruktur kelasnya yang kayak gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampun.. kami belum ada buku kak hehe :>)
      jadi belum bisa jadi instruktur..

      Delete
  4. wow!!
    ini seru....
    kenapa nggak ajak aku??

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^