Aceh Lon Sayang

Sunday, November 17, 2013 - 12:30 AM WIB - 7 Comments

Sumber : Herryblogspotcom.blogspot.com


Ketika kau mencintainya, jangan diungkapkan. Cukup buktikan dengan perbuatanmu dan cintamu akan terungkap dengan sendirinya.

Langit masih hujan. Rintik-rintiknya menerjang memoriku, membuatku terhenyak untuk beberapa detik yang tidak sempat aku hitung. Bagiku hujan itu romantis. Ingin rasanya menebar rindu, pada seseorang yang aku tidak tahu siapa. Baiklah, akupun mengambil secarik kertas dan mulai menulis.

***
Kini usiaku sudah mulai meninggalkan masa remaja. Aku sudah dewasa. Kini aku semakin sadar tentang di mana aku berada dan apa yang harus aku lakukan.

Sebelumnya, aku sadar, Aceh sebagai tempat pertama kali bagiku mengenal dunia, budaya, dan segala keunikannya. Aku bangga, sangat bangga malah. Menyandang identitas sebagai bagian dari Aceh. Sungguh, secara tidak langsung, aku mulai menyukaimu, Aceh.

Aceh, beberapa hari ini aku sering memikirkanmu. Tentang masa-masa yang aku lalui bersamamu, bersama ayah dan ibuku, juga keluargaku, kita lalui beragam cerita. Tentang masa sulit bagiku untuk bisa menikmati kebahagiaan bersamamu.

Aku masih ingat, ketika beberapa orang yang mencintaimu dan engkaupun mencintai mereka, terkurung di lebatnya hutan, menunggu dan berjuang demi dirimu. Sekelumit derita, menancap tajam pada hati-hati orang-orang yang mereka kasihi, jiwanya direnggut paksa dengan kenyataan yang seharusnya tidak terjadi. Aku tahu, aku paham, bagaimana penderitaanmu saat itu, walau aku baru menyadarinya sekarang.

Tidak lama berselang, kaupun diguyur oleh kuasa tuhan yang mereka sebut dengan Tsunami. Saat itu aku masih kelas satu SMP. Aku tidak bisa berbuat banyak. Ketika mengetahui banyak saudara-saudaraku yang bernaung dengan namamu gugur, aku hanya bisa menangis seharian di dalam kelas, diikuti tangisan teman-teman sekelasku. Walau saat itu aku tidak tahu kenapa bisa menangis, tapi setidaknya itu bisa menjadi bukti kalau cinta ini mulai tumbuh. Antara aku, kau dan orang-orang yang mengaku mencintaimu.

Sungguh, itulah saat bagimu diuji. Kau hanya bisa diam, menyaksikan puluhan bahkan ratusan jasad terbujur kaku dengan dan tanpa pakaian. Berbalut lumpur dan dengan posisi yang mengenaskan. Belum lagi bangunan-bangunan yang hilang, dihempas begitu saja. Air matamu mengalir, seiring mengalirnya air mata anak-anak yang ditinggal mati orang tuanya, dan orang tua yang menangisi anak-anaknya yang tidak lagi bernyawa. Tidak mengapa kalau kau harus menangis dan berteriak-teriak saat itu, tidak apa. Itu wajar.

Dan aku senang ketika orang-orang yang mencintaimu kembali turun dari bukit yang dingin, membawa sepucuk surat yang ketika kau baca, kau pun memeluk mereka dengan haru, dan menggenggam erat jemari mereka, berjanji akan senantiasa percaya pada segala yang akan mereka lakukan untuk bisa membantumu kembali berjalan, setelah sebelah kakimu lumpuh akibat tsunami lalu.

Semenjak itu, sedikit demi sedikit senyum anak-anak mulai bebas kau nikmati. Kau duduk dengan tenang dipinggir pantai, mengikuti irama kebahagiaan mereka, dan sesekali menghadap ke langit, bersyukur pada Allah atas segalanya ini. Tidak mudah bagimu melewati semua ini. Dan kau pun memohon agar segalanya tetap terjaga.

Dan kini, aku menyadari rasa cinta ini semakin merekat kedalam, tepat ketika aku mendengar salah satu lagumu. Aku merinding, darahku mengalir cepat dan berkelebatlah segala macam di kepalaku. Ingin sekali aku menangis, karena aku ingin bersamamu, tapi aku tak mampu, aku tak pantas.

Allahai do dodaidi
Boh gadong bi boh kayee uteuen
Rayek sinyak hana peue ma bri
Ayeb ngon keuji ureueng donya kheun

Allahai do dodaidang
Seulayang blang ka putoh taloe
Beurijang rayek muda seudang
Tajak bantu prang tabila nanggroe

Wahe aneuk bek taduek le
Beudoh sare tabila bansa
Bek tatakot keu darah ile
Adakpih mate poma ka rela

Jak lon tateh, meujak lon tateh
Beudoh hai aneuk tajak u Acheh
Meubee bak on ka meubee timphan
Meubee badan bak sinyak Acheh

Allahai Po Ilahon hak 
Gampong jarak hantroh lon woe
Adak na bulee ulon teureubang
Mangat rijang trok u naggroe

Allahai jak lon timang preuek
Sayang riyeuek disipreuek pante
'oh rayek sinyak nyang puteh meupreuek
Teh sinaleuek gata boh hate.

Sesekali aku benci dan kecewa dengan beberapa dari mereka yang yang dulunya kau peluk dengan cinta ketika turun dari bukit yang dingin. kini seakan lupa dengan yang pernah terjadi. Mereka menyiksa orang-orang yang juga mencintaimu dengan kekuasaan yang mereka miliki atas namamu. Ingin rasanya aku mewakilimu untuk menampar mereka. Karena lagi-lagi aku tahu, kau tidak akan mungkin tega melakukan itu, karena kau cinta mereka.

Impianku adalah agar bisa pergi sejenak darimu, agar kau tahu, aku sungguh-sungguh. Berikan aku waktu untuk mengenalkanmu pada mereka diluar sana. Tentang keunikanmu, tentang ketaatan yang kau balut dengan budayamu, tentang persaudaraan dan kekeluargaan yang kita jalin, kita ukir bersama sejak dulu. Aku sadar waktuku mungkin tidak akan selama waktu yang kau punya. Mungkin nanti kau akan melihat anak dan cucuku yang telah aku ceritakan pada mereka tentang kau, tentang segala ajaran yang aku raih dan terima darimu. Tenanglah, ini semua karena aku cinta.

Sekarang aku sedikit demi sedikit melatih bahasamu, mencoba satu persatu tarian yang mereka lakukan untuk menghiburmu, dan kearifan-kearifan yang kau tanam pada pendahulu-pendahulu kami. Dengan segenap kekuatan yang aku punya, aku akan lakukan apapun agar kau dan mereka tahu aku, Ini namanya cinta.

Izinkan aku mencintaimu, Aceh.

Daerah aceh , Tanoh lon sayang..
Nibak teumpat nyan, lon udep matee..

#Tulisan ini diikutsertakan pada kelas menulis mingguan FLP Aceh, 17 November 2013
di Rumah Cahaya FLP Aceh

Inspirasi Lainnya:

7 komentar

  1. Sebuah asa, matahari yang kembali terbit di ufuk timur. Mari kita singsingkan lengan baju kita membawa kembali kedamaian, kesejahteraan, kesentosaan ke tanah kelahiran. Menjadikan Aceh sebagai rahmat bagi semesta ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari bang Azhar Ilyas kita bangkitkan kejayaan Aceh kembali! :-b

      Delete
  2. Dukung Aslan menampilkan tariannya di USOW-3. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wew... mana mungkin menari solo kak? -_-

      Delete
  3. Mari bang Azhar Ilyas kita bangkitkan kejayaan Aceh kembali! :-b

    ReplyDelete
  4. ''Ketika kau mencintainya, jangan diungkapkan. Cukup buktikan dengan perbuatanmu dan cintamu akan terungkap dengan sendirinya'' kayaknya kalau zaman sekarang kurang cocok ungkapan itu dek, sebab klo ga diungkapkan keburu diambil orang, lagian ga semua orang mampu membaca perbuatan dan sikap kita, dan kalau kak ga silap Rasullullah sendiri sangat menganjurkan kalau kita mencintai seseorang baik itu orang tua, sahabat maka katakan langsung agar mereka mengetahui perasaan kita, malah kalau kita ungkapkan, orang tersebut malah jadi terharu, coba bayangkan klo tiba2 kita mudik kekampung terus berlari ke arah emak dan bilang, mak saya rindu kali emak, pasti emak akan terharu sekali. tapi kalau untuk Aceh memang ga perlu diungkapkan tp cukup dengan perbuatan dan bakti kita untuk tanoh aceh

    ReplyDelete
  5. cemungudh qaqa... mulai alay.com

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^