Cerita dari Mimi

Saturday, November 9, 2013 - 10:32 PM WIB - 12 Comments

Ini ketiga kalinya mereka datang. Membawa palu-palu berukuran kecil dan besar. Memukul sana dan sini. Membongkar tembok tempat biasa aku bersandar santai, sekedar meyakinkanku kalau kematian itu tidaklah begitu membosankan. Tali-tali yang bergelantungan di langit-langit rumah, tempat biasa ku jadikan ayunan di tiap malam, sudah mereka lepas dengan semena-mena. Kenapa mereka tidak bertanya kepadaku dulu? Kenapa harus menghancurkan rumah ini?

Hari pertama mereka tiba disini, aku sempat kaget. Aku tidak siap tampil dihadapan mereka dengan penampilanku saat itu. Aku baru saja mencoba bedak tanah kuburan terbaru yang pinjamkan Mulata. Dia selalu menyombongkan diri dihadapanku, dengan bedak-bedak dan kosmetik kesetanan yang dia beli di pajak perhantuan setiap malam jumat. Maklum, sebagai penghuni rumah kepala desa, lingkungan keangkerannya jauh diatas level kami. Padahal, kalau aku boleh jujur, selama masih ada lubang besar di perutnya, sebanyak apapun tanah kuburan yang ia timpal diwajahnya, tetaplah tampak sebagai seorang hantu kelas bawah.

Oke, kembali ke masalah yang tadi. Hari itu mereka membuka paksa pintu rumah, lalu berbicara mengenai rehabilitasi. Aku hanya mengamati dari sudut ruangan. Sesekali ketika mereka lewat, aku mengulur jubah putih panjangku dan mengenai ujung kepala mereka. Aku hanya tertawa. Biar tahu rasa mereka. Siapa suruh mengganggu ketentramanku di sini.

Besoknya, mereka sudah heboh. Sok hebat dengan membongkar dinding-dinding triplek. Ada dua orang pria saat itu. Memang ada satu orang yang menarik. Dia memukul-mukul, dan beberapa tiang tumbang. Hingga dalam beberapa menit kemudian, aroma busuk mulai terasa lebih lapang. Cahaya matahari sedikit banyak mulai menembus atap rumah. Suasana semakin terang. Hampir saja menembus kulitku, dan pria itu juga sempat melihatku walau sesaat. Aku berusaha menghilang segera, sedang dia terpaku, dengan tatapan kosong dan kakinya gemetar.

Malamnya, kulitku yang terkena cahaya matahari mulai melepuh. Aku meringis. Inilah derita menjadi makhluk setengah jadi di muka bumi. Terombang-ambing di dunia yang tidak jelas. Dan tuhan hingga sekarang tidak mengizinkan ku melanjutkan hidup hingga ke alam barzakh. Apa maksudnya ini? lalu tiba-tiba aku teringat pria yang tadi sempat melihat sosokku walau sesaat. Dia terlihat menarik.

Dan dihari ini, tepat hari ketiga, aku sudah menunggu mereka di depan atap rumah. Aku sedikit berdandan dengan bedak kesetanan milik Mulata. Rambut hitam panjangku aku gulung hingga menjadi seperti  pohon cemara. Aku kira ini trend terkini dikalangan para hantu. Mana ada yang sekeren dan secantik aku. Hihi.
Tepat seperti dugaanku, lelaki itu tiba lebih awal. Wajahnya hari ini sangat cerah, melebihi cerahnya lampu teplok milik Ibuku. Aku kok jadi gugup seperti ini ya, kayu tempatku nangkring langsung retak dan patah. Aku pun segera terbang ke kayu lainnya. Lelaki itu tersentak, lalu melirik kearah atap.

“Hei jangan nganggu kami, Mimi!”

Aku terdiam. Terkejut. Darimana dia tahu namaku?

Karena gugup, akupun memunculkan  diri begitu saja, menunggu komentarnya tentang diriku, tentang penampilanku. Matanya melotot, kunci yang ia pegang lepas dari tangannya begitu saja. Kakinya terlihat bergetar hebat. Mulutnya mulai terbuka untuk mengucapkan sesuatu. Aku menunggu, berharap, kau ingin katakan apa?

“Kuuuuuunnnnntilllll aaanaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!”

Dia lari terbirit-birit. Meninggalkanku begitu saja. Ah, seharusnya aku tahu akan jadi begini. Dasar manusia! Semua sama saja!


Inspirasi Lainnya:

12 komentar

  1. Replies
    1. :-s

      tulisan ini mimi yang buat. Saya cuma sebagai pewawancara saja

      Delete
  2. Jadi, ini dia penunggu FLP? Huwaaaaa

    ReplyDelete
  3. hebat2...
    seneng tu mimi ad yg mau dengerin curhatnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, dia awalnya dengerin curhat, terus mlah dimakan pulak kita @-)

      Delete
  4. si aslan mau tempatkan diri sebagai sosok pria yang menarik.. iya emang betul menarik tapi dalam pandangan hantu hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. -_-

      tapi sepertinya mimi tertarik sama bang ariel kyaknya

      Delete
  5. hihihihi. Bisa ngebayangin Aslan adalah Mimi, Mimi adalah Aslan. Kosmetik-kosmetik begituan kayaknya terdengar elit, ya? Pasar Perhantuan buka jam berapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. mulai jam 12 sampai jam 4 kak :v

      kalau diskon setiap hari jumat kak hehe

      Delete

Tinggalkan Pesanmu Di Sini ^^